Ghorbulous

Ghorbulous
Sebuah pelukan



Hazel berguling dengan lembut diatas ranjang tanpa bisa menutup matanya, dia masih kepikiran pada apa yang dikatakan Acre sebelum pria itu menembus dinding. Apakah aman membiarkan jiwanya yang sudah redup berkeliaran bebas?


Namun dia tau Acre tidak akan menyakiti anggota keluarganya sendiri.


Bagaimanapun juga, keluarga Josiah diisi oleh orang-orang baik yang realistis.


Tidak butuh waktu yang terlalu lama sampai Acre akhirnya kembali dengan wajah berseri-seri, 'tubuhnya' juga sudah tidak lagi memudar dan bahkan tampak lebih jelas dibandingkan sebelumnya.


Ini membuat Hazel khawatir dan langsung bertanya


"Acre, siapa saja yang kau buat tertidur? Berapa banyak? Kenapa kau sampai tampak agak solid begini?"


Acre nyengir dan mendekat untuk mengusap kepala istri kecilnya


"Kau penasaran? Bingung? Sama, aku juga demikian. Kau tidak akan percaya bahwa aku hanya menembus tubuh dua orang."


Ras hangat di puncak kepala ini menenangkan Hazel seketika


"Siapa?"


"Ibuku dan Bibi Voxy, menarik bukan?" Dia bicara seolah ingin bergosip dengan teman nongkrongnya.


"Keduanya lahir di hari nasional?" Tanya Hazel.


Acre tampak mengingat-ingat sejenak sebelum menjawab dengan ragu


"... Kalau bibi Voxy sih iya."


Gadis itu masih menikmati layanan usap kepala dari pria ini, lalu kembali bertanya


"Kalau ibumu?"


Acre menjawab dengan bangga


"Dia lahir di tanggal yang cantik."


"Pasti itu alasannya. Jadi, apa kau membuat mereka pingsan?" Hazel benar-benar takut jika inilah yang terjadi sekarang.


Pria itu menghentikan usapan kepala dan membantah


"Tentu saja tidak! Aku tidak sejahat itu pada anggota keluarga yang baik padaku!"


"Kalau mereka jahat?" Entah kenapa dia merasa perlu menanyakan ini.


Acre nyengir dan menggerakkan tangannya


"Bunuh saja. Lagipula aku 'kan transparan, tidak akan ketahuan."


"Maksudmu kau akan membuat mereka mati lemas karena kekurangan energi?" Tanyanya.


Pria itu menjawab singkat tanpa rasa ragu sedikitpun


"Yap."


Hazel facepalm


"Kau mengejutkanku, Acre."


Pihak lain tersenyum malu-malu


"Terimakasih."


Hazel menatapnya dengan sorot tak percaya


"Daripada itu ... Mana pelukanku?" Acre menagih sambil merentangkan kedua lengannya.


Meski agak keberatan dengan kelakuan Acre barusan, janji adalah janji. Oleh karena itu Hazel ikut merentangkan kedua tangannya


".... Kemarilah."


Acre tersenyum sangat senang dan memeluknya dengan hati-hati, agar tidak menembus tubuh seperti sebelumnya. Dia merasakan suhu tubuh Hazel yang hangat melalui pelukan ini, mau tidak mau bertanya dengan nada penuh ekspetasi


"Merasakan sesuatu?"


Hazel menyamankan diri dalam pelukan suami tembus pandang ini, menjawab jujur


"Yah ... Lebih hangat dibandingkan sebelumnya."


Acre merasa gembira


"Aku juga merasa hangat."


Hazel mengangguk setuju


"Suasana semacam ini benar-benar bagus."


"Ya!"


"Jadi siapa yang membunuhmu, Acre?" Dia membanting topik ke arah lain secara tiba-tiba, menghancurkan suasana manis mereka.


Acre benar-benar tidak tau harus mengatakan apa untuk beberapa saat, sebelum mengajukan protes dengan sedikit merajuk


".... Tidakkah menurutmu ini terlalu tiba-tiba?"


Hazel tetap tak tergerak dan masih dengan keras kepala ingin membicarakan ini


"Suasananya cocok untuk pembicaraan semacam ini."


"Uh."


"Jangan merajuk, apa kau setidaknya memiliki pemikiran akan siapa kemungkinannya? Misal saingan bisnis atau orang yang pernah kau sakiti?" Dia bertanya dengan sungguh-sungguh.


Meski merasa tidak senang, Acre langsung melepas pelukannya agar bisa menatap Hazel saat menjawab


"Kalau saingan bisnis tentu saja ada banyak. Ada Muse yang dipimpin Delilah, Spirit yang dipimpin Wilson, Megaloo yang dipimpin Selena. Banyak."


"Kalau perorangan?" Tanya Hazel, rautnya benar-benar serius.


Namun pihak lain hanya mengendikkan bahu


"Lebih banyak lagi, aku bahkan sampai lupa."


Perkataan tersebut sontak membuat Hazel tidak tahan untuk berkomentar


"Kau pasti benar-benar menyebalkan saat masih muda, Acre."


Acre mengingat-ingat sedikit akan kehidupannya, lalu membantah dengan lemah


"... Aku tidak nakal kok."


Hazel mendengus main-main


"Itu 'kan menurutmu."