Ghorbulous

Ghorbulous
Pembunuh



"Astaga, ada apa ini?! Siapa pria itu?!"


Erika berteriak ngeri, demikian pula dua pria lain yang dibawanya. Itu adalah adik lelakinya yang masih kuliah dan adik lelaki ayahnya. Ketiganya melihat ngeri pemandangan Lyod yang bertubuh sepucat kertas dan terus menerus bergetar hebat dengan mulut berbusa, seolah sudah diracuni.


Mereka sontak melihat Hazel yang berwajah kosong dengan air mata yang terus menetes, ini sudah cukup bagi Erika untuk menebak apa yang sudah terjadi. Wanita berkacamata tersebut sontak menendang perut Lyod dan membuat pihak lain pingsan sekali lagi, dua pria lain menjadi makin terkejut melihat ini.


"Kakak, apa yang kau lakukan?!" Manuel Josiah, menjerit ketakutan dan segera menarik mundur kakaknya.


"Erika, apa-apaan itu?! Kau mau membunuhnya?!" Gerard Josiah, sang paman juga turut memarahi.


Gerard adalah seorang dosen kedokteran, dia segera duduk di lantai dan melakukan pertolongan pertama pada Lyod. Tapi Erika seketika menarik pamannya agar kembali berdiri, mulutnya mengomel


"Biarkan saja dia mati! Dia adalah bajingan yang sudah menjahati kakak iparku! Dia pasti juga menerobos masuk dan hendak melakukan sesuatu lagi! Ini karma yang cocok untuknya!"


Manuel terhenyak


"Kakak! Sekalipun dia pantas mati, tapi bagaimana bisa kau mengatakannya dengan mulutmu sendiri?! Kau seorang dokter!!"


"Terus?! Apa itu berarti aku tidak boleh membantu Tuhan dengan melakukan seleksi alam?!" Erika ngotot.


"Bisakah kalian diam?! Erika, lepaskan aku!" Bentak Gerard, lalu kembali berlutut untuk melakukan pertolongan pertama.


Erika hendak menarik pamannya lagi, tapi Manuel sudah lebih dulu mencegahnya dan berujar


"Daripada mengurus paman, lebih baik urus kakak ipar saja. Dia terlihat lebih butuh pertolongan dibandingkan siapapun."


Wanita berkacamata itu segera tersadar dan melesat ke hadapan Hazel yang masih terdiam, tampak kosong


"Hazel, apa kau baik-baik saja? Tidak apa-apa 'kan?"


Seolah tersadar, cahaya di mata Hazel kembali hidup dan dia mengangguk pada pertanyaan Erika. Tapi seketika dia menjadi ketakutan pada apa yang terjadi di hadapannya, tubuhnya kembali bergetar.


Bukan karena Gerard ataupun Manuel, juga bukan karena Lyod.


Melainkan Acre.


Penampilan Acre saat ini terlampau kontras dari apa yang pernah dia ingat, dia segera berusaha untuk berdiri. Tapi kaki dan seluruh tubuhnya masih sakit akibat perbuatan Lyod, dia kembali terhuyung ke depan.


Untung saja Erika selalu mengawasinya dan mendukung Hazel tepat waktu


"Jangan berdiri secara tiba-tiba! Tubuhmu masih shock dan bahkan ada beberapa cedera! Sebenarnya apa yang terjadi disini, Hazel?!"


Hazel melihat Acre yang sudah kehilangan kendali dan masih memukuli Lyod.


"Acre ...." Panggilnya.


"Apa?" Erika kebingungan.


"Hentikan Acre, dia ... Dia bisa membunuhnya jika ini terus berlanjut" Hazel menjawab dengan suara gemetar.


"Acre, hentikan" lanjutnya.


"Acre, hentikan. Aku tidak apa-apa, aku sudah tidak apa-apa" Hazel terus bicara dengan suara yang gemetar dan lirih, tapi pihak yang dia panggil tidak kunjung merespon.


Erika yang melihat Hazel sangat kesulitan, tidak peduli akan keberadaan paman serta adiknya dan langsung berujar tegas


"Acre, hentikan. Kalau kau sampai membunuhnya, Hazel akan jauh lebih trauma dibandingkan sebelumnya. Membunuh pria ini sama dengan membunuh harapan kesembuhan trauma Hazel, kau mau melihat istrimu menderita?"


Gerakan Acre terhenti, Lyod yang sedang menerima pertolongan pertama juga berhenti kejang-kejang. Gerard yang sedang berusaha menolong Lyod juga menjadi agak lega, tapi dia tau bahwa kondisi pemuda ini sama sekali tidak benar.


"Manuel, panggil helikopter milik rumah sakit keluarga Josiah. Kita tidak akan sempat jika naik mobil biasa, aku tidak mau ada yang mati disini" ujarnya, pandangannya lantas jatuh pada Hazel yang sedang dipeluk oleh Erika.


"Termasuk kau, kau harus ikut kami. Mengingat identitasmu sebagai menantu keluarga Josiah" lanjutnya.


Manuel berjalan keluar kamar untuk melakukan panggilan telepon pada rumah sakit terdekat, sementara Erika menyokong Hazel untuk berdiri.  Gerard terus mengamati, tapi tidak melakukan pendekatan apapun karena tau bahwa pihak lain masih cukup sensitif.


Namun bukan berarti dia ingin berpura-pura tidak ada apa-apa.


"Aku mendengarnya, kalian berdua menyebutkan nama 'Acre' untuk beberapa kali. Apakah dia ada disini?" Dia bertanya.


Melihat Erika yang akan berbicara, dia segera memotongnya


"Jangan bohong. Aku bisa dipercaya. Kau cukup menjawab ya atau tidak, Hazel Alate."


Hazel melirik Erika yang tidak memberikan respon berarti seperti tubuh gemetar atau raut waspada, itu berarti paman yang satu ini memang bisa dipercaya. Jadi Hazel mengangguk singkat dan menjawab


"Ya."


"Begitu? Kalau demikian artinya dia juga bisa mendengar kita?" Gerard kembali bertanya.


Hazel menjawab dengan anggukan.


"Baguslah."


Setelah menjawab, Gerard mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Bagaimanapun juga dia tidak bisa melihat ataupun mendengar keponakannya, dia hanya bisa melakukan komunikasi satu arah.


"Aku tidak akan bertanya mengenai kabarmu, Acre. Aku juga tidak akan memastikan apakah istri kecilmu berbohong atau tidak. Tapi yang pasti kalau kau sungguh ada disini, maka dengarkan aku" rautnya berubah menjadi serius.


Acre yang sudah agak tenang, melihat pamannya.


"Memang benar katamu bahwa satu gunung tidak bisa mendukung dua harimau, tapi dalam keluarga Josiah ... Tidak ada yang seperti itu" ujarnya.


"Tapi bukan berarti keluarga kita bebas dari tikus, karena setiap keluarga juga pasti memiliki beberapa kesalahan yang dibuat oleh panatua, tapi harus ditanggung oleh generasi muda" lanjut Gerard.


"Kau pasti mengenal siapa tikus yang kumaksud, Acre. Dia adalah anak haram ayahmu, Joshua Lavish."