
Hubungan antara keduanya menjadi agak halus setelah Hazel mulai membuka dirinya, mereka akan berbincang dari waktu ke waktu dan menunjukkan reaksi yang agak ambigu.
Namun Acre masih tidak berani melangkah lebih jauh dari ini, bagaimanapun juga dia tidak punya tubuh.
Dia harus menemukan cara untuk mendapatkan tubuhnya kembali dan melaporkan hal ini pada pihak berwenang, barulah dia bisa merasa pantas untuk Hazel.
"Hazel ..."
"Ya?"
Acre membuka mulutnya karena ingin tau tentang mantan pacar yang sudah memaksa Hazel, tapi dia takut ini akan membuka trauma lama dan dengan bijak memilih diam. Mengalihkan ke pertanyaan
"Apakah kau tau kapan Erika akan datang lagi?"
Hazel bukan orang bodoh, dia tau apa yang ingin dikatakan oleh Acre. Tapi melihat bahwa pria ini tidak jadi bertanya, tentu saja dia tidak akan menjawab secara membabi-buta
"Entahlah. Tapi dia berjanji akan membelikanku ponsel saat kemari, memangnya masih ada sinyal disini?"
"Aku tidak tau."
Hazel heran
"Awalnya ini 'kan rumahmu, kenapa tidak tau?"
Pria itu tertawa canggung dan menjawab
"Aku kemari untuk berlibur dari tekanan pekerjaan, jadi otomatis aku tidak membawa ponsel agar tidak diganggu."
Pihak lain takjub begitu mendengar ini
"Kau bisa hidup tanpa ponsel?"
Acre berdehem dan menyangkal sedikit
"Yah ... Tidak juga, tapi aku bisa mengatakan bahwa tidak ada suatu keharusan bagiku untuk terus memainkan ponsel."
"Kau aneh."
Dia berkedip bingung
"Ya?"
Hazel tertawa kecil
"Kau aneh, tapi dengan cara yang baik. Jadi kau secara rutin kemari untuk berlibur?"
Acre ikut tersenyum begitu melihat Hazel sudah bisa tertawa
"Ya.
Sesuatu tiba-tiba merayapi otaknya dan Hazel bertanya dengan nada agak digantung
".... Jangan-jangan tubuhmu terkubur disini?"
Acre melotot terkejut
"Ngawur. Aku bisa merasakan tubuhku masih hidup di suatu tempat, kalau memang terkubur disini maka aku tidak akan bisa kemana-mana."
Hazel masih bersikeras
"Tidakkah ada kemungkinan ruang bawah tanah atau sesuatu?"
Acre dengan sabar menjelaskan ulang
"Mustahil. Aku yang merancang rumah dan secara pribadi mengawasi proses pembangunannya, jadi tidak mungkin ada kemungkinan seperti itu. Daripada membahas ini, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."
Pria itu terkejut
"Kau tau?"
Pihak lain hanya mengangguk
"Belum lama ini kita membahasnya, jadi aku menebak saja."
"Tidak keberatan?" Gugupnya.
Hazel berkedip beberapa kali
"Tidak juga, lagipula kau memang berhak tau."
"Tapi daripada bertanya, lebih tepatnya aku ingin membicarakannya denganmu."
"Soal?"
"Ini pendapatku saja, tapi tidakkah kau pikir kondisi mental mantanmu agak aneh?" Acre memulai pembicaraan.
Hazel mengangguk santai
"Aku sudah tau, dia punya mommy issues."
Pria itu tak percaya akan apa yang didengarnya
"Dan kau masih memacarinya?"
Hazel meringis
"Yah ... Orang menjadi tolol saat jatuh cinta, oke?"
"Masuk akal."
"Jadi?" Tanya Hazel.
"Melihat dari kondisinya yang bisa mencoreng nama baikmu hanya karena kau lebih memilih mengerjakan tugas kelompok, tidakkah kau takut dia menyusulmu kemari?" Tanyanya.
Pihak lain dengan enteng menjawab
"Memang, karena itulah waktu itu aku bertanya apakah benar tempat ini belum terjamah manusia."
Acre tampak berpikir sejenak dan bertanya dengan serius
"Apakah mantan pacarmu orang kaya?"
"Yah ... Setidaknya lebih kaya dariku, tapi perbedaannya tidak sejauh itu. Kau mencurigai sesuatu?"
Acre mengungkapkan kekhawatirannya
"Dia mungkin tidak bisa kemari, tapi ada kemungkinan dia bisa mengirim drone dan sebagainya untuk mengawasi."
Hazel berkedip
"Aku juga sudah memikirkan itu, kau pikir kenapa aku selalu mengenakan topi setiap kali keluar menuju halaman?"
"Kalau begitu setidaknya kita bisa sedikit tenang, maaf tidak bisa membantu."
Si wanita tertawa kecil
"... Bohong jika aku bilang aku baik-baik saja, tapi sudahlah. Lagipula memangnya apa yang bisa terjadi?"
Begitu Hazel menyelesaikan ucapannya, terdengar suara ketukan langkah kaki di halaman.