
"Kau masih marah?" Hazel mengancingkan baju tidurnya dan melihat pria besar yang pundung di sudut kasur, tidak mau meliriknya sama sekali.
"....."
Gadis itu menghela nafas panjang dan duduk di sisi lain ranjang, berujar lembut
"Oke, aku yang salah. Maaf."
"....." Masih tidak mau menjawab, tapi matanya sekilas melirik ke arah Hazel sebelum berpaling dan kembali berlagak ngambek.
"Acre ..." Panggilnya.
Pria besar itu bergumam dengan suara rendah
"Aku tidak terima."
"Ya?" Merasa salah dengar, Hazel mendekati pihak lain dan bertanya.
Acre melihatnya tanpa senyum sedikitpun
"Kau tega sekali, Hazel."
Hazel hanya bisa menghela nafas dan menggaruk tengkuknya dengan canggung
"Yah, habisnya aku selalu mendengarmu yang fokus pada lab dan tidak pernah berkencan. Jadi-"
"Aku taulah caranya nganu! Jangan seenaknya berasumsi!" Potong Acre, pipinya merona merah saat dia meneriakkan hal yang mengganjal hatinya sejak tadi.
Hazel berusaha menahan diri agar tidak tertawa, hanya memberikan jawaban singkat
"Oh, oke."
Acre terus berbicara sambil menggerak-gerakkan tangannya, protes
"Aku bukannya tidak bisa, tapi hanya belum bisa saja!"
Pihak lain mengangguk setuju meski dengan gemetaran menahan tawa
"Oh ... Oke."
Melihat responnya yang agak aneh, Acre berhenti menggerak-gerakkan tangannya dan memastikan
"Hazel, kau tau kalau yang kumaksud bukan tidak bisa yang itu 'kan?"
Hazel mengalihkan pandangannya ke arah lain, merasa tidak enak tapi juga geli
"Mhm."
"Kau jelas berpikiran lain!" Jerit Acre.
Gadis itu kembali menatap suami semi-transparan ini dan membela dirinya dengan kalimat
"Orang normal juga akan berpikiran begitu, Acre. Penjelasanmu agak rancu."
Pria itu mendengus kesal dan menatap penuh arti pihak lain saat dia kembali buka suara
"Aku tidak bisa melakukannya karena tubuhku hilang. Kalau tubuhku masih ada, aku pasti ..."
"Apa? Aku belum memaafkanmu, kau tidak boleh menyentuhku" Hazel memotong pembicaraan ini dengan tanpa perasaan.
Acre kembali merengut
"Pelit."
Hazel hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menjelaskan secara singkat
"Kau sendiri tau bahwa hal-hal semacam itu paling memuaskan jika dilakukan dengan orang yang dicintai."
Namun Acre hanya menatapnya dengan serius untuk beberapa saat, sebelum dengan polos berkata
"Aku 'kan mencintaimu, Hazel."
Gadis itu tersenyum kecil dan membalas dengan
"Tapi aku belum mencintaimu, Acre."
"Cih."
Hazel tertawa kecil
Acre memotong jarak mereka dan menatap Hazel tepat di mata, memberikan ancaman kecil
"Lihat saja nanti! Kalau tubuhku sudah kembali, akan ku ..."
Hazel refleks berdiri dari kasur dan memotong perkataan itu
"Oke, cukup. Hentikan, kau harus istirahat."
Pria itu cemberut
"...."
Hazel memutar bola matanya jengkel dan menunjuk badan si pria, memintanya untuk memeriksa sendiri keadaannya
"Aku serius, Acre. Kau meredup."
Pria itu akhirnya melunak
"Kalau begitu peluk aku sebagai kompensasi."
Hazel terkekeh
"Kita tidak bisa melakukan kontak fisik, lupa ya?"
Pria itu memilih tersenyum kecil dan berkompromi
"Kalau begitu ... Biar aku saja yang memelukmu."
"Memangnya bisa?" Dia skeptis.
Acre melirik tubuhnya yang meredup dan kembali cemberut
"..... Tidak."
Namun pria itu kembali bersemangat saat melanjutkan
"Kalau begitu aku akan menembus orang-orang di kediaman Josiah dulu."
Hazel jelas panik akan keputusan sepihak pihak lain
"Acre, jangan merampas energi orang seenaknya."
Pria itu berusaha menenangkannya
"Tidak akan, kucari yang insomnia saja."
Hazel menjadi lebih tenang dan lega mendengarnya
"Bagus, cepat kembali."
"Kau akan merindukanku?" Isengnya saat berdiri dan melangkah ke jendela.
Hazel membalas dengan sebuah gelengan
"Tidak juga. Tapi aneh rasanya jika kau tidak ada."
Acre tersenyum penuh arti
"Cinta bisa datang karena terbiasa loh, Hazel."
Gadis itu menangkap maksudnya dan tidak berdalih, hanya menyemangati
"Kalau begitu berusahalah lebih keras."
Pihak lain jelas senang mendapati tidak adanya penolakan
"Akan kulakukan dengan keras juga kalau tubuhku kembali."
Hazel facepalm
"..... Acre."
Acre tertawa keras dan melambaikan tangannya
"Oke, aku pergi dulu!"
Lalu menghilang, menembus ruangan.