Ghorbulous

Ghorbulous
Petunjuk



"Jadi?" Suara wanita paruh baya terdengar di ruang teh.


Pemandangan taman yang terisi pohon maple dan bunga-bunga untuk tujuan medis, bergoyang lembut setelah suara tersebut selesai diucapkan.


Wanita lain di ruangan itu mengatakan


"Hazel adalah satu-satunya yang bisa berkomunikasi dengan Acre."


"Bagaimana kita bisa tau dia jujur atau sekedar mengkhayal karena ingin masuk ke keluarga Josiah?" Pihak paruh baya ini jelas tampak tidak senang dan penuh stigma.


Erika sontak meremas lembut lengan bibirnya untuk menenangkan


"Bibi, aku tau apa yang kau khawatirkan. Tapi Acre bukan aku, dia tidak akan begitu mudah dibodohi oleh godaan seperti wanita."


Mendengar ini, bibi tersebut mengangguk


"Bagus kalau kau sudah mengambil pelajaranmu, Erika. Memang benar keluarga Josiah sangat menuntut agar pihak yang bisa masuk kedalam kediaman hanyalah orang-orang berpendidikan saja, tapi ini tidak menutup kemungkinan lolosnya satu dua ekor belatung seperti Alana."


"Bibi ..." Erika jelas tidak ingin membahas tentang Pelakor yang sudah memperk*sa ayahnya.


Voxy, bibi ini segera meminta maaf karena sudah salah bicara


"Baik, bibi minta maaf. Tapi wanita satu itu sungguh murahan."


"Mari kita lanjutkan ke topik sebelumnya. Benarkah Acre mengatakan bahwa tubuhnya masih hidup di suatu tempat?" Lanjut si bibi, mencoba mengembalikan fokus utama pembicaraan.


Erika mengangguk mantap


"Benar, dan aku juga bisa menjamin itu."


"Dengan?" Pihak lain jelas masih skeptis.


Erika menjelaskan


"Tidakkah pingsan tanpa alasan yang jelas sudah cukup? Lagipula, Acre menonjokku waktu itu."


"Kau bisa merasakannya?" Tanya pihak lain, memastikan.


Wanita yang lebih muda menjawab dengan anggukan


"Mn. Tapi aku tidak bisa melihatnya."


Namun jawaban ini jelas masih membuat sang bibi sakit kepala


Erika kembali berusaha menenangkan orang ini


"Aku tau, bibi. Tapi kita harus mencoba segala kemungkinan untuk menghidupkan Acre kembali, keluarga Josiah butuh pemimpin sepertinya."


"Jadi? Dimana tubuhnya?" Tanya bibi voxy, langsung ke inti.


"Soal itu ... Kita harus mencarinya sendiri melalui deskripsi khusus dari Acre sebelumnya."


"Ruang perawatan khusus untuk pasien vegetatif?" Dia menaikkan sebelah alisnya.


"Benar. Apakah bibi tau rumah sakit keluarga besar mana saja yang memiliki fasilitas itu?" Tanya Erika, bagaimanapun juga pihak lain jauh lebih senior darinya, dia pasti tau sesuatu.


"Kenapa hanya fokus mencari di milik keluarga besar?" Tanyanya.


Erika menjelaskan


"Karena menurutku mustahil menjaga tubuh vegetatif yang dalam kondisi kepala berlubang selama bertahun-tahun tanpa ketahuan."


"Apakah ini rumah sakit militer milik keluarga Shiina?" Lanjut Erika.


Namun bibinya menggeleng atas jawaban ini


"Kurasa bukan, mustahil fasilitas militer memiliki fungsi semacam itu."


"Erika, tempat paling tidak terduga kadang bisa menjadi tempat apa yang kita cari. Jadi jangan mengesampingkan segala kemungkinan hanya karena asumsi subjektif yang kau nilai sebagai hal yang tidak mungkin" lanjut si bibi.


Erika jelas tidak menduga ini sebelumnya


"Jadi ... Kota juga harus mencari di setiap rumah sakit yang memiliki fasilitas ini?"


Bibinya mengangguk


"Tepat sekali. Dan sebagai titik awal, mari mulai dari rumah sakit milik keluarga kota, keluarga Josiah."


"Bibi tau sesuatu?" Erika menajamkan matanya.


Pihak lain hanya tersenyum dingin dengan cara yang sangat merendahkan saat menjawab


"Yah ... Kurasa belatung kecil itu sudah mulai menggeliat dan berguling-guling lagi di properti keluarga kita."