Ghorbulous

Ghorbulous
Lebih hangat



Hazel berkedip sambil menyesap air madu, memperhatikan kolam teratai di paviliun terjauh di kediaman keluarga Josiah. Melihat ikan berwarna-warni yang berenang dengan senang hati tanpa peduli.


Acre yang melihat ini dan duduk di sebelah, juga turut bernostalgia akan setiap hal dan sesekali secara iseng menelan asap dari kepulan makanan sekaligus minuman yang disuguhkan pelayan keluarganya pada Hazel.


"Aku tidak tau ada kisah semacam itu" Hazel adalah yang pertama kali buka suara.


"Normal bagi keluarga kaya untuk memiliki satu dua rahasia memalukan" dia berhenti menghisap asap makanan dan duduk dengan benar, bahkan memperbaiki posturnya.


Hazel berpura-pura tidak mendengar kelakuan absurd pihak lain sebelumnya, memilih mengambil salah satu kukis untuk dimakan


"Dari kisah yang kudengar ... Kalian pasti sangat membenci orang kurang mampu sekarang."


Acre menggeleng sebagai respon dari perkataan pihak lain


"Tidak seekstrim membenci, Hazel. Kami hanya memiliki prasangka yang berkepanjangan soal mereka, dan kurasa ini akan mengubah sedikit aturan keluarga."


"Lalu bagaimana denganku?" Hazel menatapnya.


"Hm?"


Dia menunjuk dirinya sendiri yang sedang mengenakan gaun pasien


"Bukankah aku juga termasuk dalam kategori orang yang tidak mampu menurut standar keluargamu?"


Acre mendengus main-main dan berlagak mengacak rambut Hazel, meskipun tangan besarnya berhenti di jarak satu inci


"Kau memang berasal dari keluarga yang kurang mampu, Hazel. Tapi kau berpendidikan dan tegas, jadi kau adalah pengecualian."


Hazel menahan tawa dan hanya meloloskan seulas senyum


"Kau benar-benar bermulut manis, Acre."


"Hahahaha ..."


"Tapi aku masih memiliki dendam padamu" topik tiba-tiba berubah.


"Uh."


Hazel menunjuk wajah Acre dan cemberut


"Aku ingin berkarir, dan aku butuh kepastian tepatnya kapan itu bisa dilakukan."


Pria yang sedang ditunjuk, menggaruk kepalanya dengan canggung


"... Setelah tubuhku ditemukan."


Dia menyilangkan kedua lengan


"Kalau begitu ayo cari lagi."


"Tidak semudah itu" Acre memelas.


Hazel menepuk tangannya satu kali, seolah sudah memutuskan sesuatu


"Kalau begitu ayo cari jalan bersama, setidaknya itu lebih baik dibandingkan berpasrah diri dalam status quo."


Pria itu masih tampak skeptis


"Ah"


"Jiwa yang lelah tidak bisa diobati dengan tidur ataupun makanan, aku sendiri juga kurang tau" jelasnya, walaupun sama-sama merasa bingung.


"Tapi, Acre ..." Celetuk Hazel.


"Ya?"


"Kau terlihat lebih solid sekarang."


Mendengar itu, dia tampak lebih senang


"Benarkah?!"


Hazel mengangguk


"Mn. Aku curiga saat melakukan kontak dengan manusia lain selain aku, kau menghisap energi mereka. Yang menyebabkan mereka pingsan."


"Seperti konsep Yin dan Yang?" Hanya ini satu-satunya yang bisa dia pikirkan.


Hazel membuat gestur dua setengah lingkaran menggunakan tangannya dan buka suara


"Begitulah. Manusia hidup, terutama yang bersih atau lahir di hari kemerdekaan biasanya penuh dengan energi Yang. Sementara kau yang tanpa tubuh, penuh dengan energi Yin yang membuatmu terasa dingin dan membuat merinding."


"Aku bukan hantu ..." Dia murung.


Hazel mengangguk dan berhenti menggerakkan tangannya


"Iya. Tapi kau butuh energi Yang seperti hantu."


"Uh" jelas Acre tidak mau menerima bahwa dia disamakan dengan hantu.


"Ngomong-ngomong, Acre" dia kembali nyeletuk.


"Ya?"


"Jika tubuhmu tampak lebih solid ... Akankah kau juga menjadi lebih hangat?" Hazel benar-benar penasaran akan hal ini.


"Mau mencoba?" Acre menawarkan diri, lagipula mereka tidak akan tau jika tidak mencobanya.


"Mn."


Acre mengangkat sebelah tangannya, demikian pula Hazel. Keduanya membuka setiap jari-jari seolah hendak menggenggam tangan satu sama lain, yang jelas sangat tidak mungkin.


Namun yang dicari keduanya bukanlah kenyamanan fisik, melainkan psikis.


Jadi ketika Hazel menemukan bahwa jiwa Acre yang semi transparan benar-benar menjadi lebih hangat, matanya berkaca-kaca.


Demikian pula Acre, yang merasa seolah dia sedang benar-benar menggenggam tangan istrinya.


Keduanya mengangkat tangan yang saling bertautan dan merasakan kehangatan satu sama lain.


Satu manusia dan satu jiwa.