Ghorbulous

Ghorbulous
Membantu dengan benar



Acre mendekatkan sebelah telinganya, memastikan bahwa dia tidak salah dengar. Tapi wajah Hazel saat ini sangat tenang dan tidak lagi ketakutan, bahkan bisa dikatakan antusias.


Pria itu bingung


"Kau ... Yakin?"


Gadis di tempat tidur mengangguk.


Nada bicara Acre kembali murung


"Tapi ... Aku tidak bisa menyentuhmu sama sekali."


Hazel menjawab


"Tidak apa-apa, aku hanya butuh suhu tubuhmu.


Kening pria itu berkerut dan dia menyanggah


"Hazel, aku tidak punya tubuh."


Pihak lain dengan enteng meralat kalimat yang dia katakan sebelumnya


"Oke, suhumu."


"...."


Dia tertawa kecil seolah sudah menemukan sesuatu yang sangat menarik


"Tanganmu barusan dingin, rasanya seperti sedang dikompres."


Acre menangkap maksud Hazel dan matanya berbinar senang, lega bahwa dia nyatanya masih berguna bagi seseorang. Dia melayang lebih dekat dan menyentuh kepala Hazel, tapi karena terlalu bersemangat, maka tangannya tenggelam dalam kepala Hazel hingga siku.


Hazel melotot dan wajahnya lebih pucat dibandingkan sebelumnya.


Acre menjadi panik dan menarik tangannya jauh-jauh


"Maaf! Aku tidak sengaja!"


Hazel masih mematung di tempat.


Acre terus menerus menggerakkan tangannya kesana-kemari karena panik, dan menembus segala hal yang bisa ditembusnya. Mulai dari laci meja, dipan ranjang, kasur, tangan dan bahkan leher Hazel.


Gadis itu gemetar ketakutan.


"Hazel, maaf!"


Gadis itu berujar kosong


"Kurasa ... Ada baiknya kita bercerai."


Acre shock akan apa yang didengarnya


"!!!!!!!"


Pria itu langsung meraung keras, sangat keras hingga tembok sekeliling ruangan bergetar


Hazel yang awalnya mengucapkan kalimat itu karena melamun, menjadi terkejut akan teriakan yang menggema ini. Acre sendiri juga tampaknya terkejut bahwa dia meneriaki seorang wanita, dan buru-buru menyusun kembali kalimatnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud berteriak. Apa aku menyakitimu?"


Tapi Hazel tidak merespon dan hanya menatap Acre dengan penuh agresi, seolah dia siap memukuli pihak lain kapan saja jika berani melakukan atau mengatakan sesuatu.


Acre menjadi lebih berhati-hati dan memanggil lirih


"Hazel?"


Gadis itu masih menatapnya sambil terpaku.


Acre memanggil sekali lagi


"Hazel?"


Kali ini gadis itu tersentak sedikit dan berkedip cepat, lalu menatap lekat Acre. Gadis itu seketika menjadi rileks dan lega akan sesuatu dan kembali ke diri sebelumnya


"Ya?"


Acre merasa janggal pada gelagat gadis ini, tapi Hazel tampak belum mau menceritakannya. Oleh karena itu Acre menghargai privasi dan kembali seperti semula, bertanya lembut


"Apa kau masih ingin diusap?"


Gadis itu tersenyum kecil sebagai ganti anggukan.


Kali ini Acre mendekat dengan hati-hati dan memelototi telapak tangannya sendiri, memastikan bahwa dia tidak sedang menembus apa-apa. Tangannya yang gelap dan besar, mengusap lembut kepala Hazel. Keduanya tidak mengatakan apa-apa dan menikmati keheningan.


Hazel adalah yang pertama kali memecah keheningan dan memanggil


"Acre ..."


Pihak lain berhenti memelototi tangannya sendiri dan kembali fokus memperhatikan Hazel, merespon dengan


"Ya?"


Hazel tersenyum kecil dan tampak agak mengantuk


"Maukah kau mengusap kepalaku seperti ini setiap hari?"


Permintaan ini terlalu sederhana dan sangat tiba-tiba, Acre butuh beberapa waktu sebelum akhirnya bisa menjawab dengan terbata-bata


"Ya? Oh ... Tidak masalah, tapi kenapa?"


Hazel mendecakkan lidahnya dan menjawab dengan raut kesal


"Bisakah kau tidak terus bertanya kenapa? Tidak semua hal di dunia ini memiliki alsan, Acre."


".... Oke" hanya itu yang bisa menjadi respon Acre untuk saat ini.


Dia tidak tau bagaimana cara memahami wanita.