
"Kakak, aku tau ibuku bersalah. Tapi bukankah aku juga korban? Aku tidak tau apa-apa dan aku juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan! Bagaimana bisa kau memperlakukanku seolah aku adalah pendosa?!" Joshua masih menjerit-jerit sekalipun kamera tersembunyi miliknya sudah dirampas keamanan.
Erika tau bahwa orang ini pasti masih memiliki rencana cadangan disini, bagaimanapun juga dia terlahir dari orang yang sangat tak beradab
"Kalau kau memang sesuci yang kau katakan, Joshua. Maka kau tidak mungkin terus menggonggong didepan kediaman keluarga Josiah sambil membawa-bawa kamera. Ini bukan sekali dua kali terjadi, dan ibumu dulu juga melakukan ini."
Joshua memucat
"Tapi aku-"
Erika memotong penyangkalannya dan menunjuk wajah Joshua, dia tidak mau mendengar ocehan sampah yang memiliki inti 'aku miskin, aku menyedihkan, aku perlu dikasihani' dari orang ini.
Tanpa perasaan apapun, wanita itu mengarahkan para penjaga
"Tidak peduli, kalian cepat usir dia."
"Kakak!!"
Erika memandangnya dengan dingin saat para penjaga mulai menyeretnya menjauh
"Darah memang lebih kental dari air, dan lingkungan juga berpengaruh pada perkembangan manusia."
"Itulah alasan kau dan aku sangat berbeda, meskipun kita memiliki ayah yang sama" finalnya.
Suara bising itu terus berlanjut bahkan hingga para pelayan didalam menjadi tidak tahan lagi dan ingin mengintip, termasuk Acre dan Hazel. Gadis itu melihat pria yang menggila disana dengan tatapan tidak senang, sementara Acre menatapnya dengan sebersit kebencian.
"Siapa itu?" Hazel bertanya.
Acre mengetuk kepala Hazel, tapi dia lupa bahwa mereka berbeda dimensi. Jadi tangannya menembus kepala Hazel hingga ke bagian tenggorokan, Acre terkesiap dan cepat-cepat menarik tangannya sebelum pihak lain tersadar.
Dia berdehem canggung dan menjawab
"Bukankah aku baru saja memberitahumu?"
Seolah teringat sesuatu, Hazel mengucapkan sebuah nama dengan nada penuh tanya
"Ah. Si Joshua Lavish?"
Acre terkekeh
"Ya, itu dia. Cukup eksentrik bukan?"
Gadis itu mengamati perawakan pihak lain yang tampak seperti baru masuk SMA dan berkomentar
"Tampak seperti bocah."
Mendengar ini, Acre mendengus main-main
"Kau juga tampak seperti bocah, Hazel. Kecil dan sok keras."
Hazel berbalik menatap pihak lain dengan kening berkerut
"... Aku tidak kecil, kau saja yang besar seperti Titan."
Acre tersenyum tampan
"Kau tersinggung?"
Dia tampak berpikir sejenak sebelum menggeleng
"Tidak juga. Setidaknya aku memang kecil jika dibandingkan denganmu, kau membicarakan fakta. Kau sendiri tidak marah kupanggil Titan?"
Acre memasang wajah usil begitu mendengar penuturan ini
"Yah ... Mengingat identitas dan status kita, itu bukan julukan yang buruk. Terimakasih."
Hazel tampak kebingungan untuk sekejap
Hazel mendadak nyambung dengan apa yang dimaksud 'orang' ini.
Alis Acre bergerak naik turun dengan cepat, sangat usil.
"Mesum" sarkas Hazel.
Acre terkikik
"Sama-sama, bocilku."
"Titan."
Mendengar hinaan balasan yang tak terdengar seperti hinaan ini, pria itu tertawa
"Hahahaha. Sungguh, Hazel. Memilikimu disisiku benar-benar mengubah segalanya."
"Contoh? Kau yang mati?"
Mendengar itu, Acre memekik
"Heh!"
Hazel menutupi bagian mulutnya dan tertawa dengan suara tertahan
"Pffft."
Acre merasa lembut saat melihat pihak lain tertawa
"Yang kumaksud adalah ... Ada kemajuan dari penyelidikan tentang tubuhku, keluarga Josiah juga menjadi lebih tenang karena tau bahwa aku masih ada."
Hazel berhenti tertawa dan kembali menatap suaminya
"Kupikir kau akan mengatakan sesuatu seperti 'kau membuat hidupku berwarna' atau 'aku menjadi lebih bahagia setiap hari sejak aku mengenalmu'."
Acre mengerutkan kening
"Terdengar cringe."
Hazel mengangguk setuju
"Menurutku juga begitu."
"Apa kau suka mendengar sesuatu seperti itu, Hazel?" Tanyanya.
Pihak lain menjawab dengan sebuah gelengan
"Tidak. Aku membencinya."
Mengingat bagaimana mantan pacar Hazel memperlakukan gadis ini sebelumnya, Acre hanya bisa menjawab
"Begitu."
Dia tidak mau menjadi pemicu dari trauma lama. Ganti topik!
"Tapi Hazel, apakah kau tau alasan aku memilihmu?" Tanya Acre pada akhirnya.
Merasa bahwa ini topik yang cukup menarik, Hazel merespon dengan
"Apa?"
Acre tersenyum lembut
"Akankah kau percaya kalau aku bilang bahwa aku mencintaimu?"