Ghorbulous

Ghorbulous
Permintaan sederhana



Hazel bangkit perlahan untuk minum air dan memakan beberapa buah kering serta dendeng, melihat Acre yang tampak murung di pinggir. Dia tau apa yang pria itu pikirkan, tapi Hazel sendiri takut disalahpahami jika dia menghibur orang yang berbeda jenis kelamin dengannya.


Bagaimanapun juga, kesialan pertama yang membuat dia harus menghampiri pamannya di tempat ini adalah karena seorang pria.


Hazel mengernyit tidak nyaman dan kembali ambruk ke kasur, pening. Acre panik mendengar suara berdebum dan memanggilnya dengan khawatir


"Hazel?!"


"Berisik, aku tidak apa-apa" balasnya.


Pihak lain mendekat dan mengulurkan tangan untuk memeriksa suhu tubuh pihak lain, tapi seperti yang dia duga, tangannya menembus. Hazel kebetulan sedang membuka mata saat pria ini mengulurkan tangannya, jadi dia terdiam membeku begitu melihat tangan yang menembus kepalanya.


Membeku karena shock.


Rasanya seolah sedang melihat orang lain mengotak-atik isi kepalanya dengan tangan kosong, dan itu mengerikan.


Tubuh Hazel seketika menggigil.


Acre menyadari ada yang tidak beres dengan pihak lain begitu dia menyentuhnya


"Kenapa? Takut?"


Hazel menjawab lemah


"Rasanya seolah melihatmu sedang mengotak-atik kepalaku."


Dia menjadi semakin tidak enak dan menarik tangannya jauh-jauh dari kepala Hazel


"Maaf, aku tidak berpikir panjang."


Gadis itu tersenyum


"Tak apa. Aku tau kau melakukannya karena khawatir."


Dua 'orang' ini terdiam, hanya ada suara alam di pagi hari yang menyapu satu-satunya rumah di tengah antah berantah ini. Dedaunan yang menggaruk atap, membuat Hazel semakin rileks dan tidak lagi memikirkan insiden barusan. Hanya saja, kepalanya masih terasa panas.


Dia menatap sosok Acre yang tidak bisa menatapnya lagi saat ini, melihat pihak lain yang jelas bukan manusia menemaninya yang sedang sakit. Hazel mau tidak mau merasa lucu dan tertawa, mengejutkan pria itu.


"Ada apa?" Tanyanya.


Hazel berkedip lambat satu kali dan menurunkan selimutnya


"Rasanya aneh, Acre."


"Ya?" Pria itu kebingungan.


"Kau tau bahwa aku sudah cukup lama menjadi yatim piatu 'kan?"


Meski merasa bingung, Acre mengangguk.


"Sebenarnya aku memiliki daya tahan tubuh yang agak lemah, tak peduli seberapa banyak aku berolahraga. Oleh karena itu aku sering sakit seperti ini sejak kecil."


Acre tidak berniat menyela dan menatap gadis itu dengan seksama, membiarkan pihak lain menumpahkan sekeping nostalgia sebelum dunianya berubah.


Mood Hazel membaik melihat betapa manisnya pria yang mau mendengarkan ini, bibirnya melanjutkan


"Sejak orangtuaku meninggal, aku sudah terbiasa merawat diriku sendiri. Oleh karena itu kebiasaan menyimpan makanan, minuman, tisu dan obat di samping ranjang itu tidak akan bisa kuubah. Karena aku selalu sendirian."


Acre memberinya tatapan iba, Hazel seketika menjadi kesal


"Jangan menatapku seolah aku tidak punya teman satupun, Acre. Aku punya banyak teman, hanya saja aku lebih nyaman sendirian."


"Aku hanya ingin bilang, kau tidak perlu merasa bersalah karena tak bisa merawatku. Aku sudah terbiasa" tukasnya.


Acre segera buka suara


"Bagaimana kau bisa menyamakan situasimu saat itu dan sekarang? Tentu saja sudah berbeda, kau tidak sendirian dan aku tidak akan membiarkanmu sendirian."


Hazel terkekeh kecil


"Benar, aku memilikimu sekarang."


Wajah Acre menjadi merah dan dia dengan canggung menggaruk tengkuknya.


Gadis itu mendadak teringat bahwa pihak lain adalah jiwa tanpa tubuh, jadi secara otomatis dia memiliki suhu tubuh yang lebih rendah dan karakteristik yang agak mirip hantu. Dia mengingat perasaan saat tangan Acre menembus kepalanya, ada perasaan dingin yang sangat mengerikan.


Namun Hazel yang sedang sakit, tidak peduli akan hal semacam ini dan menatap wajah Acre dengan penuh harap. Tatapannya begitu menyilaukan hingga Acre tidak bisa mengabaikannya lagi dan mengajukan pertanyaan


"Apa?"


Hazel tersenyum dan sedikit meringkuk, merubah postur berbaringnya menjadi menghadap pria itu. Bibirnya mengulas senyum


"Acre."


"Ya?"


Gadis itu menyamankan posisi berbaringnya dan tersenyum makin manis, suaranya parau


"Bisakah kau mengusap kepalaku?"