Ghorbulous

Ghorbulous
Mimpi yang sama



Hazel melirik Acre yang masih kelabakan untuk menenangkan dirinya sendiri, tanpa menyadari bahwa sosok pria itu sudah mirip seperti hantu sungguhan. Semi transparan, melayang-layang, dan bergerak gelisah di pojokan.


Tidak ingin Acre salah tingkah lebih parah daripada ini, Hazel berhenti meliriknya dan kembali fokus pada Erika


"Mimpi yang sama?"


Wanita muda itu mengangguk


"Mn. Mimpi yang sama, sepuluh tahun setelah Acre menghilang, selama sepuluh hari berturut-turut. Kebetulan? Kurasa tidak, aku lebih bisa menerima kalau ini adalah campur tangan Tuhan."


"Dalam mimpi itu, Acre yang kukenal tampak mengalami beberapa perubahan seolah dia masih hidup. Kau tau? Seolah dia masih hidup dan mengalami perubahan penampilan dan karakter. Kami melihat Acre yang menggandeng seseorang dengan cara yang amat lembut, seorang wanita berambut cokelat muda."


Hazel bisa menebak kelanjutan kisahnya, tapi dia tetap memilih untuk mendengarkan karena ingin tau seperti apa sudut pandang Erika.


Erika membetulkan posisi kacamatanya, melanjutkan


"Pada enam hari pertama, kami melihat Acre dan wanita itu bergandengan tangan. Mereka berjalan dengan riang meski kaki mereka terus menginjak sampah, di tempat terbuka yang indah dan penuh pohon cantik serta cahaya hangat siang hari."


"Tau apa artinya itu? Menurut buku yang kubaca, ini berarti mereka akan hidup dengan bebas dan bahagia. Meskipun dalam perjalanannya, mereka akan terus tersandung dan kesulitan" kekehnya.


Hazel hanya memberi anggukan singkat dan sebuah senyum simpul.


"Lalu pada dua hari selanjutnya, kami melihat Acre dengan wanita itu lagi. Tapi kali ini, mereka tidak sedang bergandengan tangan. Melainkan Acre yang tampak berusaha meraih wanita itu, tapi tidak bisa. Sekalipun mereka hanya terpisah oleh sebuah sungai kecil yang dangkal dan jernih, dan Acre ... Berdiri didalam sungai itu, dalam kondisi tubuh yang basah kuyup."


Erika melempar pertanyaan


"Menurutmu apa artinya ini?"


"Kalau menurut posting yang pernah kubaca sekilas, sungai dalam mimpi melambangkan hidup dan mati seseorang. Acre di mimpi kalian tampak basah kuyup, berarti dia tercebur kedalam sungai itu dan bisa kembali ke permukaan, tapi tidak bisa keluar. Bisa diartikan bahwa mungkin Acre berhasil lolos dari kematian, tapi tidak bisa kembali menjalani kehidupan" Hazel sendiri terkejut akan asumsinya sendiri.


Erika tampak takjub


"Kau lebih kreatif dari yang kubayangkan, Hazel. Pernahkah kau berpikir untuk menulis sebuah novel?"


"Tidak tertarik. Apakah pendapatku bagus?" Tanyanya.


Erika hanya mengangguk


"Boleh kulanjutkan?"


"Silahkan."


Erika berdehem singkat


"Pada dua hari terakhir, kami melihat Acre yang sudah memeluk wanita itu. Tapi tubuhnya dalam mimpi kami, berkedip lambat antara bentuk solid dan transparan. Wanita itu juga menanggapi pelukannya, tapi dia terlihat sedih. Acre dalam mimpi kami tampak seperti seorang gentleman yang menenangkan sang kecantikan."


Dia sontak menambahkan cibiran


"Kau tau, Hazel? Pada kenyataannya, Acre adalah pria paling kasar yang pernah kutemui."


Acre yang sejak tadi menggeliat gelisah, sontak memelototi adiknya dan membentak


"Heh!"


"Benarkah? Sekasar apa?"


"Bisa kau bayangkan? Sewaktu kecil, dia beberapa kali menonjokku hanya karena aku meminjam Gundam miliknya tanpa izin dan menghabiskan keripik pisang asin favoritnya" Erika menjelaskan dengan nada para tetangga penggosip.


Acre berteriak marah dari pojok


"Fitnah!"


Hazel tidak tau harus berkata apa, jadi dia hanya menanggapi dengan


"Kalau kau sampai menghabiskan keripik favoritku, aku juga akan menonjokmu, Erika."


Manik hijau Acre berkilat senang seolah sudah mendapat dukungan, jadi dia melayang mendekati punggung Hazel dan menunjuk wajah adiknya


"Dengarkan kakak iparmu, brengsek!"


Tentu saja Erika tidak bisa mendengar hinaan Acre, jadi dia menatap Hazel dengan sorot mata tak percaya


"Bagaimana bisa kau sepemikiran dengannya, Hazel? Sudahlah ... Aku tidak mau membahas bagian ini, biarkan aku menyelesaikan cerita ini dengan tenang."


Erika meneguk teh yang sudah dia tuang kembali kedalam cangkirnya


"Wajah Acre tampak penuh kelembutan yang tidak pernah kami lihat sejak dia terjun ke dunia kedokteran, jadi kami memperhatikan mimpi yang satu ini lebih teliti dibandingkan yang sebelumnya. Lalu kejadian mengejutkan terjadi ..."


"Acre dengan lugas menatap kami tepat di mata, seolah ini bukan mimpi mengingat betapa langsungnya tatapan itu. Dia memberi kami senyum lembut dan berkata singkat, bahwa dia ingin kami membantunya menikahi wanita itu. Tidakkah ini aneh?" Hebohnya.


"Aku tidak tau dengan anggota keluarga Josiah yang lain, tapi saat itu aku hanya bertanya 'Apa kau gila? Siapa gadis itu, Acre?'. Karena aku yakin dia tidak pernah mengenal wanita berambut cokelat muda, seluruh orang yang berinteraksi dengan keluarga Josiah memiliki rambut hitam kalau tidak pirang dan merah. Itulah mengapa aku skeptis akan permintaan konyol kakak" Erika mencibir, tapi matanya tampak berkaca-kaca.


"Seolah bisa mendengarku, wanita yang meringkuk di pelukannya ... Wanita yang tidak pernah bisa kami lihat wajahnya karena selalu memunggungi kami, secara tiba-tiba melakukan kontak mata pertama dengan kami saat itu. Pada saat itu terjadi, aku ingat bahwa aku mundur dengan ketakutan."


Hazel yang pada awalnya bisa menebak kelanjutan kisah ini, menjadi bingung seketika. Apakah wanita dalam mimpi itu bukan dirinya?


"Kenapa? Apakah kau melihat wajahku di sana? Atau ... Apakah wanita itu berwajah mengerikan?" Tanya Hazel.


Namun Erika menggeleng dan menatapnya lekat-lekat


"Dia tidak memiliki wajahmu ataupun berwajah mengerikan, Hazel. Tapi seandainya opsi yang kau tawarkan itu benar terjadi, aku tidak akan merasa takut waktu itu."


"Lalu?"


Erika tampak ngeri


"Hanya saja ... Wanita itu tidak memiliki wajah."


Hazel tertegun.


Erika melanjutkan


"Benar-benar tidak berwajah. Tempat dimana seharusnya ada sepasang mata, sebuah hidung dan sepasang bibir ... Hanya menampilkan sepotong kulit wajah yang halus dan rata, seolah tidak pernah ada sesuatu disana."