Ghorbulous

Ghorbulous
Mulai terbuka



Entah karena sudah terbiasa atau memang memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa, Hazel hanya butuh istirahat sehari penuh sebelum bisa melompat-lompat pada malam kedua setelah dia sakit. Kali ini Acre tau kemana semua energi dari makanan yang dikonsumsi istrinya, pasti sedang mati-matian meregenerasi sel dan memerangi penyusup dalam tubuh pihak lain.


Hazel memang gampang sakit, tapi dia juga sangat mudah untuk sembuh.


Namun sejak kemarin pagi, tepat saat demamnya turun. Hazel berperilaku aneh, dan matanya selalu berkilat waspada. Jika gadis ini memiliki efek demikian karena kecerobohan Acre kemarin malam, maka mata waspada itu pasti akan ditujukan untuknya.


Acre tidak tahan lagi dan melayang mendekat pada jarak aman, lalu buka suara


"Apa yang kau perhatikan, Hazel?"


Pihak lain tersentak, tapi dengan cepat kembali normal. Dia mengulas senyum kecil seperti biasa, lalu menjawab


"Acre, apakah rumah ini benar-benar terisolasi dari dunia luar?"


Pria itu melayang mundur sedikit, penuh antisipasi


"Apa kau menanyakan ini karena ingin mencari masalah denganku?"


Hazel menggeleng


"Tidak, aku hanya ingin berbincang."


"Kalau begitu, syukurlah."


"Jadi?" Dia kembali bertanya.


Acre tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab


"Kalau definisi terisolasi milikmu berarti tersembunyi dari manusia, maka jawabannya adalah iya."


"Tapi aku tetap tidak menyarankanmu untuk berkeliaran secara sembarangan. Terisolasi dari manusia berarti hukum rimba, masih ada banyak satwa yang cukup agresif disini. Mungkin agak aneh mengatakannya melalui mulutku sendiri, tapi kau adalah satu-satunya manusia hidup disini" lanjut di pria.


Jika sebelum Hazel akan marah jika mendengar ini, tapi sekarang gadis itu hanya terdiam dan bahkan menghela nafas lega


"Kalau begitu, syukurlah."


Acre diam.


"Hei, kita sudah menikah 'kan?" Hazel bertanya tiba-tiba.


Pria itu terkejut akan topik yang berubah dan hanya membalas dengan anggukan.


Hazel duduk pada pinggiran kasur dan menepuk sisi sebelahnya


"Duduklah."


Acre dengan patuh duduk di sebelah istrinya, bisa menebak bahwa mungkin ada sesuatu yang ingin diceritakan oleh Hazel. Bagaimanapun juga, dia tidak ingin keduanya memiliki kesalahpahaman karena kurang komunikasi.


Mereka sudah sepakat akan hal ini.


"Maaf baru mengatakannya sekarang, tapi Acre ... Kau bukan yang pertama untukku" Hazel mengatakannya.


Acre mengerutkan keningnya, bertanya dengan tajam


"... Pacar? Konsensual?"


Hazel menggeleng


"Mantan pacar dan tidak konsensual."


Acre mengumpat lirih.


Hazel mengira bahwa pria ini tidak bisa menerima dirinya, jadi dia hanya menundukkan kepala. Mulutnya melanjutkan


"Mungkin akan terdengar seperti alasan yang dibuat-buat, tapi-'"


"Kau tidak perlu menceritakannya" potong Acre.


Hazel menggeleng tanpa berani melihat lawan bicaranya


"Kau berhak tau, bagaimanapun juga sekarang kau adalah suamiku."


Pria itu bangkit dari samping Hazel dan dalam diam berlutut di hadapannya, berhadapan dengan pihak lain yang sedang menundukkan kepala. Bertanya


"Aku menghargai kejujuranmu, Hazel. Bukan hal mudah untuk jujur akan masalah seperti ini. Tapi aku bisa tau bahwa ini adalah hal yang sangat berat untukmu."


Gadis itu masih terdiam.


Acre kembali berujar


Hazel membantah dengan kikuk


"Tapi ... Kau barusan mengumpat."


Acre terdiam.


Hazel kembali bertanya


"Apa kau ... Marah?"


"Bohong jika aku bilang tidak, tentu saja aku marah. Sangat marah" jawabnya.


"Tapi yang menjadi alasanku marah bukanlah kau, Hazel" dia melanjutkan, tapi Hazel masih tidak bisa mengangkat kepalanya.


"Hei" Acre memanggil.


"Hazel?" Acre menjentikkan jari didepan mata pihak lain agar melihatnya.


Hazel mengangkat kepalanya sedikit dan melihat Acre, matanya agak basah.


Pria itu menghela nafas panjang dan tersenyum kecil


"Kau lupa berapa lama aku merampok mimpimu?"


Hazel menjawab lirih


"Setengah tahun."


"Sudah selama itu dan kau masih berpikir aku tidak cukup mengenalmu?" Pancingnya.


Hazel merasa bebannya berkurang nyaris setengahnya, tapi dia tetap mengatakan


"Maaf."


"Tidak apa-apa, sebenarnya aku sama sekali tidak peduli apakah aku yang pertama atau tidak. Tapi permasalahannya adalah bahwa bajingan itu sudah memaksamu, apa kau tidak apa-apa?" Dia benar-benar khawatir akan mentalitas Hazel.


"Kau percaya padaku?"


Namun Acre membalas dengan gelengan kepala


"Tidak jika aku tidak menyaksikannya dengan mataku sendiri, Hazel."


Hazel tertegun


"Apa?"


"Kejadiannya satu bulan yang lalu 'kan? Itulah alasan kau pindah ke rumah paman dan bibimu, semuanya karena kau tidak mau direcoki lagi olehnya."


Raut Acre mendingin


"Mengetuk pintu kamar kos selama berjam-jam, mengirim pesan beruntun yang sangat merendahkan, memfitnahmu di kampus dan membuatmu dirundung karenanya, juga yang paling parah ... Merobek foto mendiang orangtuamu."


"Aku tau semuanya, tapi karena aku tidak bisa melakukan apa-apa ... Aku hanya bisa menenangkanmu lewat mimpi, dengan pelukan."


Mendengar ini, Hazel menatap Acre dengan nanar. Air mata mulai mengalir di sepanjang garis wajahnya, dia sudah memendam luka ini dan menguburkannya karena tau tidak akan ada yang mau mempercayainya sebagai wanita.


Acre yang melihat Hazel menitikkan air mata tanpa suara, memberikan senyum menenangkan dan mengusap pipinya. Yang tentu saja tidak memiliki efek apa-apa dan hanya terasa seperti angin dingin saja.


"Aku tau duniamu saat bangun sudah sangat berisik, terlalu berisik. Oleh karena itu aku tidak mengatakan apa-apa dalam mimpimu, memberikan ketenangan sekalipun ada banyak yang ingin kubicarakan denganmu" lanjutnya.


"Kau ... Bodoh" ujar Hazel.


Acre tertawa dan memeluknya erat dengan tubuh transparan miliknya


"Memangnya kenapa? Menjadi yang pertama atau terakhir itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, aku hanya ingin menjadi satu-satunya."


"Lagipula memangnya kenapa dengan mantan pacar? Dia masa lalumu, Hazel. Sedangkan kita memiliki seumur hidup untuk dihabiskan bersama."


"Aku dan dia berbeda. Jadi kenapa aku harus cemburu? Dia hanya bisa menjadi manusia sampah yang secara kebetulan pernah memilikimu, sedangkan aku adalah suamimu."


Hazel mengangguk setuju dan akhirnya bisa tertawa dengan lepas, merasa lega bahwa dia sudah dipertemukan dengan 'orang' sebaik Acre Josiah. Pelukan Acre memang terasa dingin, seperti dibelai oleh angin kosong yang melilit tubuhnya.


Tapi ini adalah pelukan ternyaman yang pernah dia rasakan.


Memang tidak hangat, memang tidak bisa dirasakan oleh tubuhnya.


Tapi yang lebih penting adalah dia bisa merasakan betapa Acre menyayanginya.