Ghorbulous

Ghorbulous
Tebakan siapa pelakunya



"Aku benar-benar tidak bisa mengingat siapa itu. Tapi kalau hanya mencurigai seseorang yang paling membenciku, kurasa itu tidak akan cukup untuk menjadi bukti" jelasnya sambil mengulurkan tangan besarnya pada setiap benda di kamar, sukses menembus semuanya.


Hazel berpura-pura tidak melihat gelagat aneh ini dan melanjutkan "Maksudmu mentalitas untuk mencurigai pihak yang paling mencurigakan, kemungkinan besar adalah keinginan pelaku sebenarnya?"


"Itulah yang kutakutkan. Bagaimanapun juga manusia benar-benar mahluk yang tidak tertebak. Apa yang kupikir putih bisa jadi adalah hitam, begitu pula sebaliknya" seloroh Acre sambil mulai mendekati ranjang dengan 'tidak sengaja'.


Hazel langsung melihat tindakan ini, tapi mengingat bahwa mereka sudah dimensi maka dia membiarkan saja "Orang baik dan orang jahat juga cuma permasalahan tentang sudut pandang, jadi kecurigaanmu pada dasarnya bisa diperhitungkan."


Acre pada akhirnya bisa duduk di ranjang sambil tetap menjaga jarak, melihat istrinya yang tidak menunjukkan respon negatif, akhirnya membuatnya menjadi lebih tenang.


Gadis berambut cokelat tersebut kembali nyeletuk "Apakah ada seseorang yang memiliki catatan kriminal? Maksudku dari yang barusan kau sebutkan."


Acre berkedip beberapa kali, lalu tertawa terbahak-bahak.


Mendapatkan respon yang tak terduga ini, tentu saja Hazel menjadi tidak senang dan menampar pelan lengan besar pihak lain "Memangnya ada yang lucu?"


Namun Acre yang tidak memiliki tubuh, justru tertawa lebih keras begitu Hazel memucat karena tangannya menembus 'tubuh' pihak lain.


"Acre!" Pekiknya.


"Maaf, maaf ... Akan ku jawab. Jadi ... Ini sudah menjadi rahasia umum, tapi tidak ada seorangpun yang bersih di lingkaran pertemanan kami. Ada yang pernah menghamili seseorang, melakukan tindak kekerasan hingga penganiayaan, banyak. Semua orang, termasuk aku memiliki setidaknya satu catatan kriminal" jawabnya.


"Kau juga?" Dia tak percaya akan apa yang barusan dia dengar.


"Jadi?" Hazel tidak ingin melakukan nostalgia akan sesuatu yang tidak penting seperti ini dan menagih jawaban lain.


"Karena semua orang memiliki catatan kriminal, maka mustahil untuk mencurigai satu orang saja yang dituduh sebagai penjahat, saat semua orang melakukan kejahatan serupa" jawab si pria.


"Kalau begitu ... Apakah kau akan mencurigai orang yang paling baik dan melakukan kejahatan paling ringan diantara mereka?" Tanya si gadis.


Pihak lain tampak berpikir dan menimbang-nimbang ini untuk beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng dan menjelaskan "Seperti yang barusan kita bicarakan, baik dan buruk itu relatif. Jadi tidak ada gunanya. Semua orang memiliki keanehan dan catatan kejahatan masing-masing, cakupan daftar tersangkanya terlalu besar dan luas."


"Kalau begitu curigai saja seseorang yang paling normal di antara kalian" usul Hazel sambil menarik bantal terdekat untuk dipeluk, mabuk jernihnya menatap Acre tanpa rasa kantuk sedikitpun, pembicaraan mereka saat ini benar-benar menarik.


"Kenapa?"


Hazel menyamankan diri pada posisinya dan melontarkan jawabannya "Kau bilang semua orang memiliki keanehan dan kejahatannya masing-masing, jadi kurasa mustahil untuk mencurigai bahwa semuanya adalah pelaku hanya karena itu. Dalam lingkungan semacam ini, justru yang paling normal yang paling aneh. Benar 'kan?"


Acre tampak langsung mendapatkan pencerahan "Kau benar."


"Kalau dengan mengandalkan ini, kurasa aku bisa mengatakan seseorang yang paling normal diantara lingkungan pertemanan kami" lanjutnya.


"Siapa?" Hazel benar-benar penasaran.


Acre menatap pihak lain dengan serius dan menjawab "Keluarga Wilson, kemungkinan besar pelaku adalah salah satu dari mereka."