
Acre memberi Hazel sorot penuh dengan binar harapan, memikirkan respon luar biasa macam apa yang akan ditunjukkan oleh istrinya.
Namun imajinasi tersebut harus buyar begitu saja.
"Kau gila ya?" Hazel justru memasang raut jijik bercampur takut.
Pria semi transparan itu berkedip bingung
"Eh?"
"Biar kuperjelas satu hal padamu, Acre" jelas, gadis itu tidak menyukai apa yang barusan dia dengar.
"Ya?" Beonya.
"Kau dibunuh sepuluh tahun lalu, benar?" Tanya si gadis.
Acre mengangguk.
"Saat itu kau berumur dua puluh lima tahun, benar?" Hazel mengajukan pertanyaan kedua.
Sekali lagi, Acre mengangguk.
Hazel kemudian menunjuk dirinya sendiri dengan raut serius
"Kau tau saat ini aku berumur berapa?"
Meski bingung akan pertanyaan yang tiba-tiba, Acre tetap menjawab
"Uh .... Dua puluh dua?"
Hazel mengangguk dengan raut sok suci
"Tepat sekali."
"Hah?"
Melihat pihak lain masih bingung, Hazel mulai tidak sabar dan menunjuk hidung Acre dengan kesal
"Masih tidak mengerti? Saat kau mati di umur 25 tahun sepuluh tahun lalu, adalah saat aku masih berumur 12 tahun. Kau gila, Acre. Secara teknis, kau jatuh cinta pada anak kecil. Pedofil."
Mendengar penghinaan di akhir kalimat tersebut, Acre langsung menyangkal
"Aku tidak!!"
"Titan pedofil" ulang Hazel.
Acre tentu saja panik
"Hei!! Bukan seperti itu!!"
"Lalu?"
Acre bergerak-gerak gelisah dan menjelaskan sambil menggerakkan kedua tangannya, seolah berusaha menggambarkan situasi saat itu secara spesifik
"Aku memang mengenalmu saat kau masih kecil, dan saat itu aku merasa-"
Hazel menjauh mundur beberapa langkah.
Urat di kepala Acre berkedut
Hazel menatapnya penuh waspada
"Menghindari resiko dimakan predator."
Acre mulai ikut merasa lucu, tapi juga kesal
"Demi Tuhan, Hazel. Aku bahkan tidak punya tubuh! Dengan apa dan dengan cara apa aku memakanmu?!"
Berpikir sejenak, Hazel lantas mengangguk
"Masuk akal."
Acre menghela nafas lega
"Kalau begitu kembali ke sisiku sini."
"Aku menolak."
Mendengar itu, Acre memekik protes
"Kali ini kenapa?!"
Hazel merapatkan kancing bajunya dan memegang pakaiannya erat-erat
"Aku mencari keamanan secara emosional dan spiritual."
Acre berusaha sebisanya untuk tetal tenang
"Astaga. Setidaknya dengarkan dulu apa yang akan kukatakan."
"Kau masih bisa bicara dengan jarak kita yang segini 'kan?" Hazel masih menolak bergerak dari posisinya.
Acre memekik protes sekali lagi
"Tapi aku juga mencari kenyamanan emosional dan spiritual! Kalau kau tidak mau mendekat, ya sudah. Biar aku saja yang kesana."
Raut Hazel berubah menjadi usil
"Heh."
"Kali ini apa?" Sinisnya.
Sambil menahan tawa, Hazel mempersilahkan pihak lain untuk mulai menjelaskan dirinya
"Tidak apa-apa. Lanjutkan."
Setelah kembali hanya terpisah dua langkah dengan istrinya, barulah Acre bisa menghela nafas lega dan memandang Hazel dengan tenang
"Oke. Aku memang pernah bertemu denganmu saat kau masih sangat kecil, dan kesanku padamu saat itu juga biasa saja. Aku hanya menganggapmu sebagai anak pintar yang penuh wawasan, tapi saat aku mati anehnya adalah wajahmu yang kuingat."
Dia tampak mengingat-ingat apa yang terjadi saat itu
"Mungkin karena kau adalah orang terakhir yang aku lihat sebelum seseorang membunuhku."
"Tapi kemudian aku mulai melupakan segala hal kecuali hal-hal paling mendasar seperti identitas dan pekerjaanku dulu, selebihnya aku tidak ingat lagi."
"Dan yang kuingat selain itu, hanya kau."