Ghorbulous

Ghorbulous
Tak bisa membantu



"Hazel?"


Acre memanggil, tapi yang meresponnya hanyalah nafas cepat pihak lain dan tubuhnya yang bergerak-gerak gelisah. Dari gejalanya bisa disimpulkan bahwa Hazel terkena demam, akibat terlalu lelah beraktivitas sendirian dengan peralatan paling sederhana di tengah gunung.


Pria itu melayang berputar-putar di dalam kamar, benar-benar panik karena tau bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia melayang menuju kotak obat di ruang sebelah, lalu mencoba meraih termometer sekaligus obat penurun panas. Tapi seperti yang diduga, tangannya hanya menembus benda-benda.


Acre tercengang dan menggelengkan kepalanya, lalu beralih melayang masuk kembali untuk membuka jendela kamar agar sirkulasi udara semakin bagus. Tapi sekali lagi, tangannya hanya menembus benda. Dia dengan putus asa mendorong jendela berkali-kali dan bahkan menendangnya agar terbuka, tapi nihil.


Upayanya sia-sia.


Dia tidak memiliki tubuh, yang berarti bahwa dia tidak berguna saat ini dimana Hazel paling membutuhkannya.


"Mn ..."


Dengungan lirih ini sontak menyadarkan Acre dan gerakannya yang berputar-putar terhenti, dia dengan cepat melayang ke sisi Hazel dan bertanya khawatir


"Hazel, mana yang sakit?"


Gadis itu membuka matanya dengan kesulitan dan disambut pemandangan bahwa dunia terasa sudah berputar, refleks memejamkan mata rapat-rapat dan membukanya lagi dengan pelan. Nafasnya terengah beberapa saat sebelum dengan lemah menjawab


"Tidak apa-apa."


Acre ingin menyindirnya begitu mengucapkan kalimat sakral khas betina, tapi dia menahan diri dan merasa bersalah karena tak bisa berbuat apa-apa


"Kau demam. Sirkulasi udara dalam ruangan harus bagus, tubuh harus terhidrasi, makan makanan lembut yang tidak bercita rasa kuat, minum vitamin serta obat penurun panas, dan istirahat yang cukup."


"Akan sangat tak berperasaan saat aku mengatakannya, tapi tetap harus kukatakan untuk berjaga-jaga" lanjutnya.


Acre menundukkan kepala dengan murung


"... Tapi maaf, aku tak bisa berbuat apa-apa."


Hazel tak menjawab dan hanya menatap pihak lain dengan tenang.


"Maaf, padahal kau sedang sakit. Tapi aku hanya bisa melayang kesana-kemari dan bicara padamu sebagai dokter, tanpa bisa merawatmu secara nyata."


Acre semakin murung


"Maaf, karena hanya bisa bicara sesumbar tanpa membantu."


"Maaf, karena menjadi suami yang tidak berguna."


"Maaf."


Kepala Hazel berdengung mendengarkan ocehan pihak lain, keningnya berkerut sakit. Pemandangan ini membuat Acre merasa semakin bersalah dan meminta maaf berulang-ulang.


Hazel kesal, jadi dia mengutuk lirih


"Diam. Kepalaku sakit."


Acre menutup mulutnya dengan patuh.


Tubuh Hazel menggeliat diatas ranjang, mencoba bangun. Acre refleks bergerak maju untuk membantu. Tapi begitu tangannya menyentuh pundak Hazel, itu kembali tembus. Hatinya menjadi semakin tidak nyaman.


Hazel tau apa yang ada di pikiran pihak lain, jadi setelah dia berhasil duduk bersandar pada ranjang, dia berujar


"Jangan khawatir, aku sudah menyiapkannya."


Acre bingung


"Hah?"


"Aku sudah merasakan dari dua hari lalu bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhku, oleh karena itu aku sudah meletakkan apa yang kubutuhkan di meja samping tempat tidur" jelasnya.


Hazel tersenyum menenangkan


"Jadi kau tidak perlu merasa bersalah padaku, Acre."


Tangan Hazel terulur untuk membuka laci meja, mata Acre mengikuti setiap pergerakan pihak lain dan merasa agak tidak nyaman. Didalam sana sudah ada botol besar air, obat, buah-buahan kering, susu steril kalengan, dendeng ayam, dan sekotak tisu. Hazel tidak berbohong tentang dia yang sudah bersiap-siap.


Kekhawatiran Acre menurun untuk beberapa saat, tapi kesedihannya semakin melonjak.


Apakah dia sedemikian tak bisa diandalkan,hingga Hazel bahkan harus mengurus dirinya sendiri saat sedang sakit?