
"Kira-kira siapa?" Acre bertanya pada istrinya.
Namun setelah menunggu beberapa saat, Hazel tak juga menjawab. Merasa bahwa ada yang tidak beres, Acre melihat wajah pucat pihak lain dan kedua lengan kurusnya yang sudah gemetaran.
"Hazel?"
Dia tau ada yang tidak beres, oleh karena itu Acre cepat-cepat melayang menembus dinding untuk melihat siapa yang bertamu tanpa mengetuk gerbang dan seenaknya masuk kedalam. Itu adalah seorang pria muda, dengan tampilan sopan dan bersih juga seulas senyum yang menenangkan.
Namun Acre tidak tenang sama sekali, justru sebaliknya. Dia panik.
Itu adalah mantan pacar Hazel, Lyod Delilah. Pria yang sudah memperk*sa Hazel saat keduanya masih berstatus sebagai pacar, sebulan lalu.
Dia tau pria ini adalah orang busuk paling busuk yang memakai topeng beriman, tapi bukan itu yang terpenting sekarang. Lyod pasti kemari setelah mengiming-imingi paman dan bibi Hazel dengan sejumlah uang, untuk apa? Jawabannya jelas.
Acre mengepalkan tinju dan menonjok Lyod, berharap pria ini akan pingsan seperti Erika beberapa hari lalu. Tapi hasilnya nihil, Lyod tetap berjalan lebih dekat menuju pintu depan dan mulai mengetuk pintu.
"Sayang? Hazel?" Panggil Lyod.
Pihak lain yang mendengar pria lain sedang merayu istrinya secara terang-terangan, menjadi jauh lebih marah dan sekali lagi menonjoknya. Seolah kebal, Lyod tidak juga bergeming.
Acre hanya bisa berteriak memperingatkan
"Hazel! Sembunyi! Ada pintu belakang menuju hutan! Lari lewat sana!"
Dia kembali menyerang Lyod, menonjok dan menendangnya berkali-kali. Tapi tidak kunjung ada efek, Lyod justru tersenyum lebih manis dengan wajah merona.
"Sayang, kau mengajakku main petak umpet? Aku suka ini, bukankah kita selalu memainkannya sebelum lulus?" Lyod berujar pada pintu sambil tertawa-tawa.
Pria itu mengetuk pintu semakin keras seiring berjalannya waktu karena tak ada yang menjawab, dan sekarang dia tampak kehabisan kesabaran. Lyod mulai menggedor pintu kayu dan berteriak marah
"Sebelum kesabaranku habis, buka pintu ini!! Kuperintahkan kau agar cepat membukanya!! Atau aku akan memukul dan mengikatmu di kasur seperti waktu itu!!" Lyod mulai menendang pintu.
"Hanya ada kau dan aku disini, Hazel! Bahkan jika kau berteriak minta tolong, tidak akan ada yang menanggapimu!"
"Kau milikku! Sampai kapanpun kau adalah milikku!"
Dengan 'BRAK!!' Lyod menendang pintu rumah hingga terbuka, bahkan ada beberapa retakan yang jelas disana.
Acre yang sudah tau betapa gilanya mantan pacar Hazel tentu tidak terkejut dengan ini, tapi dia khawatir Hazel tidak sempat melarikan diri. Dia melayang cepat masuk rumah dan mendapati bahwa Hazel sudah tak terlihat dimanapun. Tapi dia tau Hazel masih ada di rumah, lebih tepatnya di kamar semula.
Mungkin kejadian tiba-tiba ini memicu trauma lamanya dan membuat dia tak bisa mengambil langkah sedikitpun dari posisi semula.
Acre melihat benang merah yang menghubungkan mereka, mendapati bahwa benang merahnya terhubung ke bawah kasur, Hazel pasti ada disana. Sementara diluar sana, Lyod sudah mulai mengacak-acak seisi rumah, bahkan hingga memecahkan barang-barang sambil terus berteriak.
Hazel gemetar ketakutan dan menutupi mulutnya kuat-kuat.
Acre berjaga di depan pintu tepat saat Lyod masuk kedalam ruangan, pria tanpa tubuh itu dengan segera kembali menonjoknya tanpa hasil. Dia masih tidak mau percaya bahwa pukulannya tidak memiliki efek apapun pada orang ini.
Entah karena sinting, atau suka mempermainkan orang.
Lyod sepertinya sudah tau bahwa Hazel bersembunyi di bawah kasur, tapi dia tetap mengacak-acak seisi kamar tanpa melepaskan tatapannya dari bawah kasur. Seolah dia sedang menunggu Hazel dengan putus asa keluar dari persembunyian, tapi Lyod rasa dia tidak bisa menunggu selama itu.
Jadi disaat Kaizen . sudah nyaris pingsan karena ketakutan, Lyod dengan cepat melihat ke bawah kasur. Melihat Hazel yang meringkuk dengan menyedihkan dan penuh teror disana, Lyod tertawa terbahak-bahak dan menarik rambut panjang Hazel sambil berkata
"Ketemu."