Ghorbulous

Ghorbulous
Masalah



"Setiap keluarga besar tentu saja memiliki musuh, Hazel."


Gadis itu memijat pundaknya yang sudah bekerja keras dan berkomentar


"Banyak orang berpikir bahwa lahir di keluarga kaya maka pasti dijamin bahagia, ungkapan ini tidak salah tapi juga sangat berdarah."


Hazel menjentikkan jarinya dan menambahkan dengan senang hati


"Tepat sekali. Pernah dengar cerita tentang Raja yang membunuh semua Pangerannya agar tidak lengser dari tahta? Bahkan menolak tua dengan terus meminum jamu dan berlatih pedang."


Acre memberinya senyum kecil dan mengangguk setuju


"Tentu saja aku pernah mendengarnya. Tapi itu sudah jadi rahasia umum di lingkaran pertemanan keluarga seperti keluarga Josiah. Bahkan menjadi garis keturunan yang terhubung darah saja tidak cukup sebagai jaminan masa depan, karena akan selalu ada satu dua anak haram yang menunggu bagian mereka."


"Jadi, pernahkah kau curiga bahwa salah satu anggota keluarga Josiah berkhianat?" Tanya Hazel.


"Tentu saja, tapi begitu aku mengawasi mereka dalam wujud ini, aku tidak menemukan apapun. Jadi mungkin bukan keluarga Josiah, melainkan saingan bisnis kami" jawabnya.


"Perusahaan farmasi juga ingin bersaing satu sama lain?" Herannya.


"Hazel, kami memang dokter, tapi kami juga manusia yang berbisnis karena uang. Kami tentu akan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, dengan premis tidak menjadi Boomerang dan merugikan konsumen" jelas pria itu.


"Masuk akal, semua perusahaan jelas butuh perputaran modal, membayar pajak, dan menggaji karyawan. Jadi, menurutmu siapa yang diuntungkan dari kematianmu?" Pancing Hazel.


"Banyak."


Acre menjelaskan tanpa diminta


"Kalau dari keluarga Josiah, mungkin Erika. Tapi kalau dari saingan bisnis kami, mungkin 'Spirit' dan 'Phoenix'."


Hazel berpikir dan merespon dengan


"Kalau informasi dari Erika benar, yakni tentang kau yang menghilang sepuluh tahun lalu. Jika kuingat, saat itu sedang maraknya penyakit cacar ular. Mungkinkah kau tanpa sadar sudah mengembangkan obat, tapi mereka takut bisnis tersaingi dan memutuskan untuk melenyapkanmu?"


Acre speechless dengan ini


"Apa-apaan itu? Tidak, aku tidak memiliki kesan akan adanya kejadian seperti itu."


Hazel mengusap peluh yang mulai jatuh dari kening dan pelipisnya


"Lalu kenapa? Aku tidak bisa memikirkan alasan lain, apakah kau bisa?"


Acre merespon dengan gelengan


"Jujur saja, tidak. Bagaimanapun juga aku hanya mendapatkan ingatan secara samar dan dengan acak mengikuti orang-orang dalam wujud ini."


Pria itu tidak melanjutkan kata-katanya dan menatap Hazel dengan sorot aneh, dia memiliki beberapa firasat buruk tapi segera menyingkirkannya


"Hazel, kau tampak lelah. Tidurlah lebih awal hari ini."


Karena merasa bahwa apa yang dikatakan pihak lain masuk akal, Hazel mengangguk patuh dan berjalan ke kamar dengan Acre yang melayang di belakang.


"Jangan lupa mengusap keringatnya, jangan mandi" Acre mengingatkan yang dibalas dengan anggukan samar.


Adegan seketika menjadi canggung.


"Untungnya kau tidak memiliki tubuh, kalau iya ... Aku pasti akan menghajarmu" candanya.


Acre tau bahwa Hazel sama gugupnya dengan dia, jadi pihak lain berusaha sebisa mungkin menghindari suasana canggung. Dia berkompromi dan duduk di samping ranjang, membuat Hazel kembali bertanya


"Acre, apakah kau perlu tidur?"


"Secara teknis, iya. Tapi tidur yang kulakukan agak berbeda denganmu yang masih manusia" jawabnya.


"Kau mengatakannya seolah-olah kau sudah mati saja" cibir Hazel.


"Tidak penasaran dengan caraku tidur?" Pancing Acre.


"Penasaran" Hazel menjawab dengan antusias.


Acre membalas dengan seulas senyum, lalu tubuhnya menghilang ke udara tipis. Hazel berkedip dari tempatnya berbaring, memanggil


"Acre?"


Tidak ada jawaban.


"Acre? Apa kau tidur?" Dia kembali bertanya.


Masih tidak ada jawaban.


"Jadi ... Caramu tidur adalah menghilangkan bentuk kasat mata dan meminimalisir hawa keberadaan, seolah kau tidak pernah ada?" Nadanya terdengar agak diseret.


Untungnya Acre kembali menampakkan diri, masih di posisi semula


"Benar. Bagaimanapun juga, terlalu sering menunjukkan diri benar-benar menguras energi. Jadi aku harus sesekali 'menghilang', tapi kesadaranku masih ada. Hanya tidak tampak wujudnya saja."


Hazel tampak terkantuk-kantuk


"Begitu?"


Acre tersenyum lembut dan bicara dengan nada menyayangi


"Tidurlah, selamat malam."


"Malam."


Acre tidak ingin menjadi pria mesum yang mengamati wajah tidur orang lain, jadi dia melayang pergi dan berkeliling gunung untuk melihat-lihat. Dia bertemu dengan beberapa arwah yang berwujud aneh disana, tapi dia tidak memberikan tanggapan apapun. Acre ingin mencari apakah ada buah liar dengan lokasi yang tidak terlalu sulit untuk dijangkau manusia, dia ingin membawa Hazel kemari.


Pria itu melayang menjelajahi gunung tanpa menunjukkan dirinya, menghemat energi. Dia berhenti begitu matahari sudah mulai muncul, lalu melayang pulang untuk membangunkan Hazel.


Namun begitu dia ingin membuka mulutnya, hatinya tenggelam.


Gadis itu berwajah merah, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya dan keningnya tampak berkerut tidak nyaman.


Hazel sakit.