Ghorbulous

Ghorbulous
Amarah



"Hazel!!!" Acre berteriak ngeri dan semakin banyak memukuli kepala Lyod, sekalipun setiap pukulannya menembus.


"Kurang ajar!! Lepaskan istriku!!" Dia benar-benar murka.


Sementara Lyod yang senantiasa memasang wajah tersenyum, kali ini tidak lagi tampak demikian. Pria itu mencengkeram kuat pergelangan kaki Hazel yang barusan dia seret masuk, membuahkan jeritan kesakitan pihak lain.


Namun dia tidak peduli dan kembali menyeret Hazel masuk, sebelum membanting kaki kurus si gadis dan memelototinya dari posisi setengah berlutut. Melihat tubuh gemetar Hazel yang menahan sakit, dia yakin kakinya pasti akan keseleo dan membuatnya tidak bisa berjalan lancar selama beberapa hari.


Lyod mengangkat sebelah tangannya dan melayangkan sebuah tamparan ke wajah Hazel


"Kau gila ya?! Memangnya kau ini anjing?! Kenapa menggigitku?! Apa otakmu sudah tidak waras?! Tidak ingat siapa pacarmu?!"


Dia kembali menampar Hazel dan berteriak


"Jangan sok jual mahal! Aku sudah pernah membuatmu berbaring dibawah tubuhku! Apa salahnya berbaring dibawahku untuk satu kali atau untuk berkali-kali lagi?! Aku pacarmu!! Aku berhak menid*rimu!!!"


Tak menerima jawaban berarti, Lyod menjadi lebih kesal dan menjambak rambut Hazel lagi. Dia menarik Hazel dengan keras dan memaksanya untuk ikut berdiri, tidak peduli akan kondisi pihak lain yang sudah dia siksa.


Lyod menatap marah wajah penuh air mata milik Hazel dan dengan penuh penekanan mengatakan


"Kau sudah kotor, tak berharga. Tidak akan ada pria yang mau menerima wanita bekas sepertimu, kau dan aku berbeda."


"Aku pria dan kau wanita, tidak akan ada yang mempermasalahkan apakah aku masih perjaka atau tidak selama aku punya pekerjaan dan berwajah tampan. Tapi taukah kau bahwa orang akan mulai melabelimu dengan kata 'murahan', tak peduli mau sekaya atau secantik apa dirimu?" Sinisnya.


"Karena kau adalah wanita" Lyod tertawa.


"Ingatlah ini, Hazel. Aku selalu bisa mencari wanita lain selain dirimu untuk kunikmati, tapi aku tidak melakukannya. Kenapa?"


"Karena tidak ada satupun dari mereka yang yatim piatu dan mudah dikendalikan sepertimu. Kerabatmu bahkan mau memberiku informasi apapun terkait dirimu selama aku memberi mereka uang. Malang sekali nasibmu, tidak punya siapapun di dunia ini."


"Kau hanya memilikiku. Bahkan jika suatu saat aku menikahi orang lain, kau hanya akan memilikiku. Karena hanya aku satu-satunya orang yang pernah mencintaimu dan tau seperti apa 'rasamu'."


Telinga Hazel mulai berdengung, tapi dia masih menolak untuk menyerah dan dengan lambat buka suara sekalipun tidak mampu membuka matanya


Lyod terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak seolah sudah mendengar hal paling lucu di dunia.


"Kau terlalu naif, Hazel" katanya.


Dia melepaskan jambakannya pada rambut Hazel dan membiarkan pihak lain tersungkur di lantai, dia ikut berlutut dan menepuk-nepuk kepala pihak lain. Mencibir dengan wajah tersenyum


"Kau pikir polisi akan mau memprosesnya saat sudah beberapa bulan berlalu? Ahli visum bahkan tidak akan pernah menemukan jejak bukti di tubuhmu, meskipun kau sudah menangis dan bersujud di kaki mereka."


"Mereka justru akan menangkapmu dengan tuduhan pencemaran nama baik."


Dia menatap rendah wanita itu


"Bahkan kalaupun mereka menemukan sesuatu, masyarakat akan menyalahkanmu karena sudah 'mengundangku' untuk menidurimu. Mereka akan mengkritik mulai dari cara berpakaian hingga wajah cantikmu."


"Kau benar-benar malang, Hazel" seusainya mengatakan ini, Lyod kembali tertawa dan kali ini bahkan lebih keras dibandingkan sebelumnya.


"Sayang sekali, cantik itu dosa" finalnya.


Acre tidak tahan lagi melihat ini lebih jauh.


Amarah yang membumbung tinggi sejak awal dan membuat dadanya bergemuruh, kini meledak dan membuatnya tidak bisa memikirkan apapun selain menumbangkan pria ini.


Dengan pupil mata yang nyaris lenyap dan hanya meninggalkan warna putih, dia menonjok kepala Lyod sekali lagi.


Dan kali ini, pria itu tumbang ke lantai dan kehilangan kesadaran.


Namun Acre yang masih marah begitu melihat Hazel yang masih ketakutan dengan mata kosong, menjadi lebih murka dan tidak berhenti menonjok kepala Lyod.


Setiap pukulan itu, membuat tubuh Lyod menjadi lebih pucat dan lebih pucat.


Seolah Acre sudah menghisap darahnya.