Ghorbulous

Ghorbulous
Sudut pandang adik dan kakak



Hazel terdiam, tapi tidak berani bertanya mengapa keluarga Josiah yang tidak bisa melihat wajahnya justru memilihnya. Tapi Hazel sendiri yakin bahwa dirinyalah yang dibawa Acre kedalam mimpi keluarganya, karena Acre sudah mengkonfirmasi ini sebelumnya.


Mungkin jiwa Acre yang melayang-layang waktu itu, berhasil menemukan identitas Hazel dan mencocokkannya secara pribadi. Barulah dia mengumpulkan kesadaran jiwanya untuk memasuki mimpi semua orang, untuk meyakinkan mereka akan apa yang dia inginkan.


Namun surga tidak mengizinkan Acre untuk mengekspos hal-hal semacam ini lebih banyak pada orang lain, karena itu menyalahi konsep takdir yang seharusnya misterius.


Jadi manik amber miliknya tanpa sadar melirik suami barunya yang semi transparan, dan anomali ini akhirnya ditemukan oleh Erika Josiah. Wanita itu sejak awal memang sudah merasa aneh pada Hazel yang beberapa kali melirik ke arah lain, tapi dia menganggap itu adalah wajar.


Namun kali ini dia merasa bukan itu masalahnya, jadi dia bertanya


"Ada apa, Hazel?"


Pihak lain hanya menjawab


"Bukan apa-apa."


Tentu saja Erika tidak akan mempercayai sanggahan dangkal seperti ini, bagaimanapun juga mereka berdua bukanlah orang biasa meskipun dalam konteks yang berbeda.


Erika bisa menebak dari gelagat dan respon Hazel mengenai apa yang barusan dia katakan, pasti memiliki hubungan dengan sesuatu yang dia sangkal. Oleh karena itu dia bertanya


"Apakah ada seseorang disini?"


"Ti-"


"Jangan coba membohongiku, Hazel. Aku tau kau pasti sudah mengetahui sesuatu disini, tapi menolak untuk memberitahu. Jadi katakan ... Apakah Acre Josiah disini bersama kita? Atau apakah itu sesuatu yang lain?" Tegasnya, seolah dia sama sekali tidak membutuhkan jawaban dari pertanyaan barusan dan hanya ingin membuat sebuah pernyataan.


Hazel tidak ingin menambah masalah lagi, terutama dia tidak tau apakah Erika akan menjadi satu-satunya manusia yang bisa dia temui atau tidak. Lagipula, keluarga Josiah memang berhak mengetahui akan hal ini.


Dia menjawab


"Sebenarnya iya."


"Sudah kuduga, tidak heran udaranya menjadi dingin saat aku mengangkat topik-topik tertentu" dia mencibir.


"Aku tidak bisa melihatnya dan mengetahui seperti apa wujudnya saat ini, tapi satu hal yang pasti ... Acre Josiah akan selalu menjadi merak yang suka memamerkan bulunya."


Begitu mendengar kalimat tambahan ini, Acre mengernyit tidak senang dan mencibir adiknya


Saat itu jugalah angin berhembus dan menyapu kuat rambut Erika, wanita ini kembali memakai kacamata seolah tak ada apapun yang terjadi saat ini. Dia berdiri dari tempat duduknya dengan penuh agresi, seolah dia ingin menantang Acre untuk berkelahi. Erika berteriak sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah, dia tidak tau posisi pasti kakaknya saat ini.


Namun bukan berarti ini menghentikannya dari memulai pertengkaran


"Acre, kau pria tak berguna! Taukah kau bahwa permintaanmu itu tidak masuk akal dan terlalu egois?!"


"Kemana saja kau saat hidup?! Kenapa harus menunggu sepuluh tahun setelah kematian, baru kau mau mempersunting Hazel?!"


"Kau tidak mencintainya 'kan?! Kau hanya terobsesi dan ingin memilikinya di sisimu! Aku benci tipe pria seperti ini dan aku yakin bahwa Hazel pasti juga membencimu!"


"Kau pria tak berguna!"


Erika berteriak seperti sedang mencurahkan seluruh emosi dan nafasnya dalam kalimat-kalimat itu, perasaannya campur aduk. Sebenarnya bahkan dia sendiri tidak percaya bahwa Acre ada disini, tapi dia tetap ingin meneriaki kakak yang sudah menghilang selama bertahun-tahun.


Sekalinya dia muncul, yang pertama kali dia katakan justru tentang seorang wanita.


Padahal selain romansa, ada keluarga yang nyaris gila hanya karena mencarinya.


Kemarahan Erika, saat ini mewakili amarah seluruh anggota keluarga Josiah.


Acre sendiri tau bahwa dia bersalah karena menemui orang-orang yang sungguh memedulikannya seperti ini, hanya untuk bersikap kekanakan dengan membawa-bawa cinta. Tapi surga tidak akan membiarkannya melewati ambiguitas batas antara hidup dan mati lebih dari ini.


Jiwanya yang melayang-layang tanpa arah, juga upayanya yang tanpa henti menginvasi mimpi orang ... Adalah batas maksimum yang diizinkan.


Jika dia mengatakan atau melakukan sesuatu yang lebih parah dari ini, dia akan benar-benar mati.


Jadi sekalipun dia mengerti sumber kemarahan Erika, bukan berarti dia bisa menerima setiap tuduhannya. Oleh karena itu, dia juga balas berteriak


"Kalau aku, lalu bagaimana denganmu?!"


"Kau dan seluruh keluarga Josiah tidak pernah benar-benar mencariku ataupun tubuhku! Kalian bahkan menjustifikasi tindak tandukku hanya melalui satu sudut pandang yang bahkan bukan milikku!"


"Kemana saja aku saat hidup?! Jika ada satu saja dari kalian yang mampu dan cakap dalam keluarga, patriark tidak akan memaksaku untuk menggantikan mereka mengurus seluruh keluarga Josiah! Aku menghabiskan seluruh pikiran dan waktuku agar kalian semua bisa duduk nyaman dan menggerogoti hasilnya, dan kau masih punya muka untuk bertanya apa saja yang kulakukan saat masih hidup?!"