Ghorbulous

Ghorbulous
Kekhawatiran Hazel



"Menarik. Apakah ini konsep jodoh?" Erika memberi respon demikian begitu Hazel menceritakan kejadian tadi padanya.


Sementara Acre cemberut di sudut sambil memelototi istrinya, wajahnya sudah lebih dari cukup untuk membuat semua orang tau bahwa pria itu sedang protes:


'Kenapa kau mengadukan urusan pribadi kita pada orang lain? Aku tidak suka! Aku ngambek!'


Begitu.


"Aku agak sulit menerima bahwa aku berjodoh dengan om-om" Hazel menjawab ini sambil bergidik.


Erika turut menimpali sambil memasang raut penuh simpati


"Benar, kalau aku jadi kau aku juga akan sulit menerimanya."


"Erika?! Kau harusnya membelaku!" Acre melotot dari pojok dan langsung melayang mendekati keduanya.


"Sebenarnya ... Kalau saat ini Acre masih hidup dan berkeliaran, aku bisa melaporkannya ke polisi dengan tuduhan pedofilia. Lihat saja saat dia berumur 25 tahun sepuluh tahun lalu, aku masih bocah kecil berumur 12 tahun. Dia 13 tahun lebih tua dariku! Saat dia mengenakan seragam SMP, dia bahkan bisa menggendongku yang masih bayi!" Hazel benar-benar tenggelam dalam perbedaan usia yang cukup mengerikan ini.


Erika mengangguk membenarkan


"Benar! Pria benar-benar mahluk mengerikan yang suka gadis-gadis muda! Hazel, kenapa kau tidak menceraikannya saja? Lagipula dia hanya bisa melayang dan menembus barang-barang."


"Erika!!"


Hazel tidak mau mendengar teriakan Acre, dia berujar ngeri


"Saat ini aku berumur 22 tahun, sepuluh tahun setelah kematian Acre ..."


"Bisakah kalian berhenti membicarakan hal-hal seolah aku sudah terkonfirmasi mati?!" Raung si pria yang daritadi melayang.


Erika menahan geli dan menyanggah


"Tapi, Hazel. Kurasa kita masih memiliki harapan jika tubuh Acre masih benar-benar hidup."


"Kalian sudah memperkirakan bahwa ini benar-benar kondisi vegetatif?" Hazel bertanya untuk memastikan.


Pihak lain menjawab yakin


"Ya! Tentu saja!"


"Tapi Erika, saat orang memasuki kondisi vegetatif. Bukan berarti sel-sel tubuhnya berhenti beraktivitas, karena hanya otaknya saja yang rusak. Jadi apa yang kau maksud dengan harapan? Acre pasti sudah keriput sekarang."


Erika tidak tahan lagi dan langsung tertawa


"Pft! Hahahaha!! Keriput!"


"Diam, Erika!" Bentak Acre.


Seolah tidak bisa mendengar teriakan suaminya sejak awal, Hazel masih mengatakan apapun yang ada di otaknya dengan raut tertekan


"Ditambah bangsal khusus tempat mereka menyimpan tubuhnya, pasti sangat dingin dan steril. Mustahil dia tidak keriput, bahkan mungkin bagian itu sudah tidak berfungsi."


Erika tertawa lebih keras sambil memegangi perutnya. Sungguh, sebagai saudara Acre, tidak ada yang lebih menyenangkan selain julid bersama orang mengenai saudaranya itu


"Hahahaha! Aduh, perutku! Maksudmu, kau takut Acre tidak bisa 'anu'?"


Acre menampar meja, yang tentu saja tidak akan ada artinya mengingat dia berwujud tembus pandang. Jadi dia menarik kembali tangannya dan menunjuk dua perempuan ini


"Erika! Berhenti memfitnahku! Kau juga, Hazel! Berhenti menjelekkan suamimu!"


Seolah teringat sesuatu, Hazel tiba-tiba menatap wajah adik iparnya ini


"Erika, aku ingat kau bilang bahwa Acre menghabiskan masa mudanya mengurus bisnis farmasi?"


Wanita itu melepaskan kacamatanya untuk menghapus air mata yang timbul akibat terlalu banyak tertawa, baru memberi respon


"Ya, ya. Ada apa memangnya?"


Gadis itu melirik Acre yang juga menatapnya dari samping, lalu berbisik pada Erika


"Aku curiga dia juga tidak mengerti caranya 'anu'."


"ASTAGA, HAZEL!!" Acre benar-benar tidak bisa menerima ini.


Sedangkan Erika sudah tertawa histeris sambil menepuk-nepuk meja


"HAHAHAHA!!!"