
Lyod menjambak rambut Hazel hingga pihak lain terseret keluar dari bawah ranjang, Hazel menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak berteriak. Tapi air mata penuh rasa sakit bercampur takut sudah jatuh menodai wajahnya.
Sakit sekali, seolah pihak lain akan mencabut kepalanya dengan tangan kosong.
Berat badan Hazel mungkin tidak begitu banyak, tapi jika rambutnya dijambak hingga dia bisa terseret sejauh setengah meter, rasanya seolah sudah disiksa dengan sangat kejam.
Lyod yang menarik rambut Hazel dan memaksanya berdiri, tampak tidak merasa sudah melakukan sesuatu yang salah. Yang ada dipikirannya saat ini adalah dia sudah bertemu kembali dengan kekasihnya.
Pria itu tersenyum gembira dan memeluk Hazel erat-erat
"Sayang, akhirnya kita bertemu lagi ..."
Tubuh Hazel gemetar hebat dan ingatan menyakitkan tentang saat dia dirobek paksa, kembali menyerangnya. Tubuhnya berkeringat dingin dan pupil matanya menjadi tidak fokus, demikian pula jantungnya yang berdetak sangat cepat seolah bisa meledak kapan saja.
Lyod yang hanya fokus pada dirinya sendiri, tentu tidak akan peduli pada hal-hal semacam ini. Dia terus bicara sendiri sambil mengusap-usap punggung dan rambut Hazel berulang-ulang, mengabaikan pihak lain yang gemetar hebat seperti selembar daun tertiup angin.
Acre yang sejak tadi berusaha memukul atau menendang Lyod juga merasa semakin marah, kenapa tidak terjadi apa-apa?!
Kenapa hanya sekali dia menyentuh Erika, adiknya bisa pingsan. Tapi saat dia puluhan kali memukul dan menendang Lyod, justru tidak ada efek sama sekali?!
"Hazel! Tenangkan dirimu!" Teriak Acre, hanya ini yang bisa dia lakukan.
"Tenanglah! Pertama-tama setidaknya kau harus menenangkan dirimu dan mendorongnya pergi sebelum bisa melarikan diri lewat pintu belakang!"
"Atur nafasmu, pelan-pelan saja! Setidaknya dia tidak akan langsung menjadi sinting!"
Dia tidak bisa menyelesaikan masalah dengan panik, sekalipun penyebab kepanikan tersebut adalah traumanya sendiri.
Memang mustahil mengalahkan trauma dalam sekejap. Tapi jika harus memikirkan bahwa dia akan mengulangi kemalangan itu karena diam di tempat akibat luka lama, Hazel benar-benar tidak mau.
Dia mulai menenangkan diri meskipun rasanya sangat sesak dan menjijikkan sampai rasanya mau mati.
Lyod yang mendapati Hazel lebih tenang juga semakin bersemangat memberikan pelukan sepihak, tidak merasakan sesuatu tampak salah sedikitpun. Acre juga masih mencoba peruntungannya dalam membuat Lyod pingsan.
Hingga tiba-tiba, Hazel menggigit leher Lyod kuat-kuat dan membuat pria itu berteriak kesakitan.
Lyod mulai mendorong kepala Hazel kuat-kuat sambil menjambak rambutnya lagi agar dilepaskan.
Namun Hazel masih bersikukuh untuk menggigit Lyod, hingga menimbulkan sebuah luka.
Begitu yakin Lyod sudah agak sadar dari fantasinya akan memiliki Hazel, gadis itu ganti mendorong tubuh pihak lain hingga terbentur dinding. Lantas berlari cepat untuk menyelamatkan diri, melalui pintu belakang seperti yang dikatakan Acre.
Sayangnya dia tidak seberuntung itu.
Begitu Hazel hendak menginjakkan kaki di luar kamar, Lyod yang terjatuh akibat didorong barusan mencengkeram pergelangan kaki Hazel dan menariknya.
Hazel yang tidak menduga hal semacam ini akan terjadi, ikut jatuh tersungkur dengan suara berdebum keras. Siku dan lututnya pasti akan membiru setelah ini.
Dengan kekuatan yang bercampur dengan amarah luar biasa, Lyod kembali menyeret Hazel masuk.