
Kedua wanita muda itu terdiam, menata emosi dan kesiapan mental masing-masing. Hazel juga tak henti-hentinya melirik Acre yang tampak sama terkejutnya dengan dirinya, seolah tak menyangka dia 'mati' dengan cara sedemikian keji hingga otaknya berceceran.
Erika tampak agak emosional saat melanjutkan
"Tentu pada awalnya tidak ada dari kami yang percaya bahwa itu milik Acre, tapi kami tetap melakukan olah TKP dan tes DNA sebagai pembuktian. Sambil menunggu hasil laboratorium terungkap, kami semua mati-matian mencari Acre ke segala tempat yang bisa kami pikirkan. Bahkan hingga ke luar pulau, menggunakan hubungan relasi keluarga Josiah dan keluarga lain dalam proses penyelidikan. Tapi nihil."
Hazel menepuk pundak Erika sebagai upaya menenangkan pihak lain yang tampak seolah akan menangis, bagaimanapun juga orang yang hilang adalah satu-satunya kandidat pewaris bisnis keluarga Josiah, jadi bagaimana bisa mereka tidak merasa terpukul?
Erika menatap gadis muda ini dengan tatapan berterimakasih dan melanjutkan ceritanya
"Kami, terutama ibu kami memiliki harapan yang besar bahwa Acre masih hidup dan hanya bepergian ke suatu tempat. Tapi beberapa hari kemudian, hasil laboratorium keluar dan menghancurkan harapan kami. Ibuku, Alexa Josiah menjadi orang yang berbeda sejak saat itu."
Dia menjeda, lalu bertanya
"Hazel, bisa kau tebak penyebab kematian Acre?"
Gadis itu melirik Acre yang juga sedang menatapnya, Hazel menjawab
"Kalau kudengar dari ceritamu, mungkin Acre mengalami luka tembak di kepala. Menggunakan peluru tajam yang menembus kepalanya, membuat otaknya hancur dan berceceran."
"Kau benar. Hasil laboratorium juga mengatakan hal semacam itu, dan mengkonfirmasi bahwa DNA pada darah dan ceceran otak itu adalah milik Acre Josiah" Erika tersenyum.
"Kau mengatakan bahwa Nyonya Josiah berubah setelah itu, apakah seperti yang kupikirkan?" Tanya Hazel.
Erika mengangguk sekali lagi
"Benar, ibuku tampaknya tidak bisa menerima kematian Acre karena mereka tidak bisa menemukan mayatnya. Jadi dia mulai berdelusi bahwa kakakku masih hidup dan berkeliaran di sekitar, melakukan aktivitasnya seperti biasa. Ibuku bahkan meminta seluruh anggota keluarga untuk tidak mengumumkan berita apapun, bekerjasama menganggap Acre masih hidup dan masih menyimpan semua barang-barangnya."
Acre yang transparan bergerak-gerak tidak nyaman dan melayang-layang di sekeliling ruangan, mungkin merasa gelisah dan khawatir akan kondisi ibunya. Jadi Hazel bertanya melalui lirikan mata, pria itu tersenyum sedih dan menjawab
"Aku baik-baik saja, minta Erika untuk melanjutkan ceritanya."
Hazel kembali menatap Erika dan bertanya
"Lalu apa yang terjadi?"
"Apalagi?" Sarkasnya.
"Seluruh anggota keluarga tidak sanggup melihat salah satu jenius di keluarga menjadi gila seperti ini, dan melipatgandakan upaya mereka dalam menemukan Acre. Bahkan ada beberapa yang memanggil dukun, paranormal atau apapun itu untuk memanggil jiwa Acre agar bisa mengkonfirmasi pemikiran mereka dan memaksa ibu untuk menerima kenyataan. Bagaimanapun juga, keluarga Josiah tidak bisa dibiarkan tanpa pemimpin untuk waktu yang lama. Tapi semua orang yang dipanggil, mengatakan jawaban yang sama ..." Erika menggantung kata-katanya.
"Apa itu?"
Wanita itu menaikkan kacamatanya
"Mereka bilang ... Mereka tidak bisa memanggil jiwa Acre dan ini artinya dua kemungkinan. Pertama, Acre sudah memasuki siklus reinkarnasi dan terlahir menjadi individu baru di suatu tempat. Kedua, bahwa Acre sama sekali tidak mati."
Hazel mengerutkan keningnya
"Bagaimana bisa opsi kedua menyatakan kemungkinan seperti itu?"
"Iya 'kan? Dipikir-pikir, mau bagaimanapun juga mustahil bagi orang yang otaknya sudah berceceran untuk tetap bertahan hidup. Orang bisa bertahan hidup jika jantung mereka mengalami apa-apa, tapi tidak dengan otak. Karena itulah kami tidak pernah menganggap serius opsi kedua, karena terlalu tidak logis."
"... Mengatakan hal-hal diluar akal sehat pada keluarga yang mayoritas adalah dokter, para penipu itu benar-benar cari mati. Ingin membodohi siapa coba?" Sinis Hazel, dia ikut kesal mendengar cerita ini.
Namun dia menyadari sesuatu dan ikut memandang skeptis Erika
"Tapi kenapa juga keluarga Josiah memanggil orang-orang semacam itu sejak awal? Bukankah kalian terlalu putus asa sampai-sampai mau memanggil paranormal?"
Erika batuk dengan canggung dan membela diri dengan suara lirih
"Kami tidak sepenuhnya tidak percaya pada hal-hal diluar nalar semacam itu, Hazel. Bukankah kita juga menyembah eksistensi yang tak terlihat seperti Tuhan? Bukankah akan terasa konyol jika kita bisa percaya pada Tuhan yang tidak bisa kita lihat, tapi menolak untuk percaya pada mahluk tak kasat mata lainnya?"
Hazel menyadari ini
"Kau benar, rasanya agak hipokrit."
Erika mengangguk lega karena tidak dicap sebagai orang bodoh oleh kakak iparnya
"Kami mempercayai keberadaan tak kasat mata, tapi kami tidak percaya pada orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai indigo, sakti, dukun dan lainnya."
Hazel tertarik pada topik ini dan mengemukakan pendapat serta persetujuannya
"Benar. Kalaupun mereka bisa melihat hal-hal semacam itu, hanya ada tiga kemungkinan. Pertama dari segi spiritual, mereka ditempeli oleh eksistensi itu sepanjang hari dan membuat mereka bisa melihat 'teman-temannya'. Kedua dari segi mental, mereka mengalami skizofrenia. Ketiga dari segi fisik, dimana kelenjar pineal mereka masih belum menyusut atau mengeras dan membuat mereka bisa melihat mahluk itu."
Erika takjub dan matanya berbinar
"Ya! Aku dan keluargaku juga memikirkan hal serupa! Tapi, ada suatu kejadian yang membuat kami mau tidak mau percaya pada omongan paranormal tersebut."
Hazel tampak tertarik dan memajukan tubuhnya
"Sungguh? Kejadian apa?"
"Terlalu aneh dan mengerikan jika iniĀ adalah kebetulan, tapi suatu malam setelah sepuluh tahun Acre menghilang ... Kami bermimpi" Erika berujar serius.
Hazel menaikkan sebelah alisnya
"Mimpi?"
Erika mengangguk, dia melirik ke kanan dan kiri sebelum hendak melanjutkan kalimatnya. Acre yang melihat ini bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh adiknya, jadi dia memilih menyelinap pergi ke tempat lain sambil terbatuk-batuk dengan canggung. Hazel mengacuhkan anomali dari suami barunya dan memasang telinga baik-baik.
Erika berkata
"Kami bermimpi Acre mendatangi kami, dengan sepasang lengan yang sedang memeluk seorang gadis."
"Kami awalnya menganggap ini sebagai suatu kebetulan, tapi yang mengerikan adalah bahwa seluruh anggota keluarga Josiah memiliki mimpi yang sama, tanpa terkecuali. Selama sepuluh hari berturut-turut."