
Sari masih menatap Arif dan mulai memperhatikannya, setelah dia mendengar hal yang sangat mengejutkan baginya. Aku baru sadar, ternyata dia sangat tampan, apa karena kejadian memilukan yang kualami kemarin sehingga membuatku tak menyadari keindahan ini? Batinnya.
Arif membuka suara setelah beberapa menit terdiam karena menyadari ucapannya yang terdengar cukup gila baginya dan dia merasa jika Sari sedang memperhatikannya saat ini,"Kenapa kau menatapku seperti itu Sari? Apa ada sesuatu di wajahku? Tanyanya dan dengan spontan memegang wajahnya.
Sari tersenyum tanpa memalingkan pandangannya pada Arif,"Tidak ada apapun, wajahmu hanya terlihat tampan dan menarikku untuk selalu menatapmu ucap Sari begitu saja.
Mendengar ungkapan Sari yang terdengar aneh baginya membuat Arif tersedak ludahnya sendiri dan berdehem demi mengembalikan ketenangan tenggorokannya,"Kau sungguh aneh Sari ucapnya.
Sari memajukan bibirnya dan mengerutkan keningnya,"Aneh? Kenapa kau mengatakan aku seperti itu? Tanyanya penasaran.
Arif mulai menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal,"Kau tiba-tiba memujiku dengan menyebutku tampan, padahal sebelumnya kau hanya diam, aku pikir kau tidak akan pernah mengatakan kata-kata pujian untukku dan setelah mendengar pujianmu aku merasa jika itu terdengar aneh.
Sari mengalihkan pandangannya sekarang, dia lebih memilih menatap lurus ke depan,"Mungkin karena sebelumnya aku merasa jika aku tidak akan selamat dari kejaran Arnold dan itu membuatku terguncang hingga aku tidak bisa berpikir jernih. Kau tahu Arif, pernyataan cinta tidak pernah ku dengar selama aku tinggal di Korea, di negara asalaku sendiri ada banyak orang yang membenciku karena aku memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan hal itu adalah sebuah petaka dan kesialan yang nyata bagiku. Pernyataan cinta? Aku tidak pernah berpikir tentang itu, karena aku yakin tidak akan ada yang menyukai gadis cerdas ini ungkapnya.
Arif memandang Sari sekejap lalu kembali fokus menatap jalan raya,"Aku tahu maksud dari perkataanmu, tapi kau salah jika berpikir jika tidak ada seseorang yang menyukaimu, aku yakin pasti ada beberapa di antara mereka yang masih peduli tentangmu, Sari bagi kami kecerdasan itu adalah sebuah anugerah dan keajaiban dari Tuhan, lalu kenapa kau tidak percaya diri pada dirimu sendiri?
Sari memejamkan matanya sejenak dan kembali membukanya, dia menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan,"Terima kasih.
"Untuk apa? Tanya Arif cepat.
"Karena kau adalah salah satu di antara beberapa orang yang masih perduli padaku dan menganggapku sebuah anugerah dan keajaiban ucap Sari dan tersenyum manis pada Arif.
Arif merasa ada sesuatu yang terjadi pada dirinya saat ini. Hanya melihat senyuman Sari membuat jantungnya berdegup kencang bahkan dia merasa jika stok oksigen di dalam mobil mulai habis, sementara Sari dia masih terlihat tenang dan kembali tertidur lelap.
Aku kini menyadari jika hanya waktu, kasih dan perhatianlah yang bisa mengobati luka dan rasa sakit di hatiku. Sari.
*****
Arif menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah Villa yang sangat minimalis di tengah desa, dia mematikan mesin mobilnya, melepas seatbelt yang sedari tadi memenjarakan tubuhnya, membuka pintu dan keluar dari mobil, dia berusaha memelankan menutup pintu agar tidak mengejutkan Sari yang masih tertidur. Arif berjalan ke depan mobilnya menuju tempat duduk Sari, dia membuka pintu dan mencoba mengoyangkan bahu Sari pelan,"Sari bangun, kita sudah sampai di Villa kami kata Arif sembari tersenyum ramah.
Sari membuka matanya, dia sedikit merengangkan tubuhnya yang mulai pegal,"Kau pasti sudah lama menungguku bangun, maaf ucapnya sedikit khawatir karena dia Arif jadi menunggu untuknya.
Arif segera menggelengkan kepalanya,"Tidak, kita baru saja tiba ucapnya yang membuat Sari bernapas legah.
Seorang lelaki dan wanita paruh bayah keluar dari Villa demi menyambut mereka, lelaki itu segera membantu Arif mengeluarkan barang yang tersimpan di bagasi mobil sedangkan wanita itu mendekati Sari sembari mengandeng lengan Sari,"Kau Sari?
Sari mengangguk membenarkan. Wanita itu tersenyum dan menarik Sari masuk ke dalam Villa, tapi Sari menghentikan langkahnya,"Maaf tapi aku harus membantu mereka membawa barangnya.
Wanita itu menatap lekat wajah Sari kemudian tersenyum hangat,"Kau cantik secantik hatimu tentunya, kau tidak perlu perduli pada mereka, kau dan aku lebih baik masuk ke dalam saja aku yakin kau itu sudah cukup lama menahan laparmu katanya sembari menatap perut Sari yang memang sedari tadi meronta-ronta memohon makanan.
Sari mengangguk pasrah dan mengikuti wanita itu, Sari sangat takjub melihat interior Villa ini, di luar terlihat sangat minimalis tapi di dalam sungguh elegan dan berkelas, itu sebabnya kita tidak boleh memandang remeh sesuatu sebelum melihat sepenuhnya karena kau akan malu sendiri dengan ucapanmu.
Wanita yang kini tengah berdiri di sebelah Sari adalah Ibu dari Arif dan juga Jakob namanya Marta, Marta mengisyaratkan pada Sari agar dia segera duduk. Kini di atas meja makan sudah terisi penuh dengan makanan seperti ayam panggang, buah, soup, roti dan masih banyak makanan sedap lainnya. Piring, sendok, sumpit, garpu dan juga gelas sudah tertata rapi di sana.
Marta menepuk bahu Sari yang hanya terdiam dan menatap makanan tanpa melakukan pergerakan apapun,"Apa Sari tidak suka dengan makanan buatan Ibu? Tanya Marta terlihat sedikit kecewa.
Marta mengerutkan keningnya seolah menandakan jika dia tidak suka Sari memanggilnya Bibi,"Bibi? Desahnya. "Aku akan lebih senang jika kau memanggilku Ibu.
Arif bergabung di meja makan dan duduk di samping Sari, Arif tahu saat ini Sari terlihat sangat canggung,"Berhenti menganggunya Ibu, nanti dia bisa tidak suka pada Ibu ucap Arif sembari mengigit roti kesukaannya.
Lelaki itu juga ikut bergabung bersama mereka, dia adalah Ayah Arif dan juga Jakob. Clair juga memberitahu istrinya,"Marta kau jangan suka memaksakan orang memanggilmu Ibu katanya dan meminum kopinya.
Marta hanya terdiam tak membalas,"Baiklah, aku hanya mencoba dekat dengannya.
Mendengar itu, Arif dan Clair tertawa bersamaan. Sari juga ikut tertawa walau hanya menaikkan kedua ujung bibirnya saja, tappi senyum itu tiba-tiba menghilang, matanya mulai memanas dan air mata keluar dari kedua bola mata Sari. Menyadari itu mereka menghentikan tawa mereka, Marta segera memegang bahu Sari,"Apa apa Nak? Kenapa kau menangis? Tanyanya Marta khawatir.
Mulut Sari seperti terkunci, dia tidak bisa mengatakan apa-apa untuk saat ini.
Arif menyarankan Ibunya untuk tidak menganggunya dulu dan membiarkannya sendiri.
Sari mengangkat wajahnya yang masih menangis,"Maaf, jika bukan karena aku. Ja..ja..jakob pasti akan berada di sini bersama kalian, bukannya aku kata Sari dan kembali terisak.
Ibu memutuskan memeluk Sari dan menepuk-nepuk punggungnya pelan,"Aku dan juga suamiku sudah merelakan Jakob Sar. Kami juga tahu kau sama sekali tidak bersalah, kau gadis baik , Ibu akan memukul Jakob jika dia tidak menolongmu jadi jangan merasa bersalah lagi pada kami, kami tidak apa-apa dengan semua ini Sari.
Sari menangis di pundak Marta, dia kini terang-terangan memangilnya Ibu dan itu membuat marta bahagia. Marta sudah sejak lama mendambakan seorang putri hadir dalam keluarganya.
"Terima kasih Ibu, maaf karena aku sudah merepotkan kalian.
Marta menggeleng. Dia melepas pelukannya dan menatap wajah sendu Sari,"Kau tidak perlu berterima kasih, harusnya Ibu yang berterima kasih pada Tuhan karena kau selamat dan bersama kami saat ini, itu sudah sangat membahagiakan keluarga ini.
Sari tidak menjawab, dia hanya terus menangis sembari menundukkan kepalanya.
*****
Sari terbangun dari tidurnya, dia di sambut matahari pagi yang berusaha menembus tirai kamar Sari, suara kiauan burung terdengar begitu merdu, Sari berdiri dari tempat tidurnya, membuka gorden lebar-lebar. Sari segera memejamkan matanya karena silau matahari, dia mencoba membuka jendela, menghirup udara yang begitu menyegarkan, hingga angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut panjangnya.
"Selamat pagi Sarah ucapnya sembari tersenyum. Tapi dia tersadar jika dia sudah tidak bersama dengan sahabat yang sangat di sayanginya itu, saat ini dia berada di Villa milik keluarga Jakob. Sari beranjak dari tempatnya berdiri, dia merapikan tempat tidurnya. Villa ini memiliki fasilitas yang sungguh di sukai Sari, di dalam kamar miliknya sudah di sediakan kamar mandi itu sebabnya Sari segera masuk ke dalam kamar mandi, di depan wastafel di atasnya terpasang sebuah cermin, Sari menatap cermin itu yang memantulkan bayangan dirinya sendiri. Sari tersenyum datar, dia mengikat rambutnya yang panjang, menyikat giginya dan membasuh wajahnya setelah merasa segar, Sari berjalan kelaur dari kamarnya menuju dapur, dari kejauhan Sari melihat Marta tengah sibuk dengan masakan yang ada di hadapannya saat ini. Sari berlari mendekati Marta dengan perasaan tak enak hati,"Ibu, maafkan aku, aku terlambat bangun jadi aku baru bisa membantumu.
Marta tersenyum dan mengelus lembut rambut Sari yang masih di kuncirnya,"Its ok baby.
Sari tersenyum, dia lalu membantu Marta menata meja makan karena itu adalah keahliannya.
Arif dan Clair sudah berangkat ke ladang, Arif bertugas memeriksa padi, sementara Clair melihat ternak sapi di sebelah ladang milik mereka. Jika sudah selesai, mereka akan segera kembali ke Villa untuk menikmati hidangan lezat Marta.
Meja makan sudah siap, hanya orang-orang yang akan menikmati mereka belum juga datang, Marta mengisyaratkan Sari agar sarapan terlebih dulu tanpa menunggu suami dan Arif putra semata wajangnya kini. Tapi lagi-lagi Sari menolak makan lebih dulu, dia bersikukuh menunggu kedua lelaki itu. Karena bosan menunggu, Sari meminta pada Ibu untuk keluar sebentar dan akan kembali secepatnya.
Marta mengizinkannya, dia bahkan menyarankan Sari naik ke bukit belakang Villa, kata Ibu di sana ad ataman bunga, ada banyak jenis bunga yang tumbuh di sana, jika Sari mau Sari boleh memetiknya.