Gen 1993

Gen 1993
Part 1 Peninggalan Mama



        Hai, namaku Sari Clair. Sekarang tanggal 11 November 2019. Kalian tahu saat ini, ada banyak orang-orang tidak jelas di zaman sekarang, jujur aku membenci perkembangan zaman, aku bahkan rindu dengan masa kecilku yang bahagia, tanpa ada gadget yang merusak akhlak anak zaman sekarang, aku harap pemilik gadget tidak tersinggung mendengar ucapanku, aku hanya mengutarakan pendapatku tanpa menyinggung pihak manapun, entah apa yang saat ini aku katakan, tapi tidak menutup kemungkinan jika aku juga tidak tergantung pada teknologi, sekarang dengan teknologi canggih, segala sesuatu yang kita lakukan menjadi lebih mudah, aku tidak menyangkal itu sama sekali. Aku adalah anak angkatan 93, yang berarti saat ini usiaku menginjak dua puluh lima tahun, usia yang sudah cukup untuk menikah, well aku memang sudah menikah dan aku sekarang memiliki seorang baby cantik, namanya.....


Seorang lelaki membuka pintu rumah, dia melepas kedua sepatunya dan menyimpannya di sudut pintu,"Sari sayang, aku pulang. Suamiku memanggilku, sepertinya dia sudah kembali dari kantornya.


Aku menghela napas, aku merasa jika aku akan menghentikan kegiatanku untuk saat ini,"Iya sayang, aku akan segera kesana. Cukup sampai di sini, aku akan lanjutkan ketika aku sudah mengurus suamiku, tapi tenang aku tidak akan mematikan kameranya.


"Oh Sari, kamu di mana? Panggil Arif pada istrinya.


Sari bangkit dari tempat duduknya, menyimpan bantal yang dipangkunya dan melangkah ke ruang tamunya,"Ok, aku akan datang.


Aku senang melihat Arif, walaupun saat ini dia tidak menarik untuk di pandang, wajah lusuh dan lelahnya jelas tergambar keras di garis-garis halus wajahnya, dia melonggarkan dasinya dan duduk di sofa sambil memijat pergelangan kakinya, senyumnya menggembang saat melihatku mendekatinya.


"Sayang kemarilah, aku lelah sekali, apa aku boleh minta sesuatu? Tanya Arif.


"Tentu saja, saya akan membuatnya jawab Sari.


Raut wajah Arif terlihat meragukan, seolah dia sedang mengatakan. Aku-belum-mengatakan-keinginanku-bagaimana-kamu-bisa-mengetahuinya.


Aku langsung mengerti arti dari raut wajahnya itu,"Tenang sayang, aku tahu kau menginginkan apa.


"Apa? Katanya penuh tantangan.


Aku tersenyum dan mengedipkan mataku,"Segelas kopi?


Dia bangkit dari duduknya dan merangkulku,"Andai saja semua istri seperti dirimu, maka tidak akan ada suami yang akan berpaling dari istrinya.


"Itu artinya, kamu beruntung kata Sari.


"Thank you Honey balas Arif.


*****


Sari kembali ke depan kameranya,"Hai, apa kalian menungguku terlalu lama? Maaf, aku adalah seorang istri dan kewajibanku adalah melayani suamiku. Well lupakan soal itu, kita kembali ke pembahasan kita yang tertunda. Kalian tahu aku mendengar desas desus, jika ada seseorang di luar sana yang tidak di ketahui, yang belum pernah terlihat, yang mungkin saat ini sedang bersembunyi di suatu tempat, sedang merencanakan sesuatu yang besar, aku bisa merasakannya dengan insting teknik mesinku, aku merasa jika pada tahun awal 2040 akan terjadi ledakan di mana-mana, dunia akan hancur, para mesin melawan takdirnya, mereka ingin memusnahkan manusia, apa tujuannya? Mereka ingin mengambil ahli dunia menggantikan manusia. Itu sebabnya mereka menyuguhkan teknologi canggih pada kita dan ketika tiba saatnya kita tidak bisa hidup tanpa mesin, saat itulah mereka akan menyerang dan mengendalikan kita.


"Sayang? Peri kecil kita terbangun, kemarilah dan tenangkan dia. Lagi-lagi Arif menghentikan pembicaraan gila dari Sari.


Sari tersenyum dan menatap kameranya,"Maafkan aku, tapi kita akhiri hari ini.


Begitupun dengan winda, winda mematikan video yang ditontonnya, ketika mamanya mengatakan,"Maafkan aku, tapi kita akhiri hari ini. Winda mematikan laptopnya. Dia termenung, mencoba memahami setiap kata yang di ucapkan mamanya di videonya.


Winda Clair mengamati langit kamarnya sesaat dia memutuskan berbaring di atas tempat tidur.


Raut wajah Winda begitu kusam dan penuh tanya, dia masih bingung dengan rekaman video yang di buat mamanya, andai saja dia tidak membuka laptop milik mediang mamanya, mungkin Winda tidak akan semenderita dan sekhawatir ini.


Winda terus saja mengeliat di atas kasurnya, dia menarik rambutnya,"Apa sebenarnya yang ingin di sampaikan mama? Apa maksud mama jika akan terjadi ledakan di tahun 2040, sekarang sudah tahun 2040 tapi tidak terjadi sesuatu pun, yah memang saat ini kami para manusia benar-benar tidak bisa terpisah dan hidup dari teknologi seperti kata mama, semoga apa yang di katakan mama tidak terjadi, dan sebaiknya aku lupakan video itu dan tidak menontonnya lagi.


*****


Dering telpon yang berbunyi nyaring memecah keheningan di dalam kelas.


Pak Budi menaikkan kacamatanya dan mulai memandangi seluruh muridnya,"Siapa itu? Yang lupa mematikan ponselnya.


Winda Clair mengangkat sebelah tangannya,"Maafkan saya Pak, apa aku bisa mengankat telponku? Aku mendapat telpon dari rumah sakit.


Pak Budi menatap tak suka kepada Winda,"Boleh, tapi lain kali jangan kau ulangi lagi.


Winda menunduk dan segera keluar dari kelas, di depan kelas Winda lalu mengangkat telponnya,"Halo? Ada apa suster?


"Apa ini dengan Winda Clair?


Winda mengangguk, walaupun dia tidak berhadapan langsung dengan perawat,"Iya benar, tapi ada apa sus? Apa terjadi sesuatu pada papa?


Papa winda memang sekarang sedang terbaring di rumah sakit, sebelum dia tak sadarkan diri sama sekali, Arif masih sempat berbicara pada Winda dan memutuskan memberi laptop Sari padanya, dia juga yang menyuruh Winda melihat video-video yang di tinggalkan mama padanya.


Perlahan tapi pasti, perawat mencoba menenangkan Winda,"Anda harus sabar, dokter dan kami sudah berusaha memberi yang terbaik pada Pak Arif, tapi beliau tidak bisa bertahan lebih lama lagi, beliau sudah meninggal.


"Halo? Winda? Dia sama sekali tidak menjawab, apa dia baik-baik saja kata perawat dan menutup telponnya.


Winda gemetar, dia tidak tahu langkah apa yang harus di lakukannya, dia mengambil ponselnya dan membuka pintu kelasnya, Brak! Suara pintu kelas berbunyi keras.


"Winda, apa yang kau lakukan? Kata Budi yang terkejut karena ulah Winda.


Winda tidak menjawab, dia berjalan dan terus menabrak beberapa teman yang di lewatinya, dia mengambil tas miliknya dan berjalan menemui Pak Budi,"Pa..paa...pak. Saya harus ke rumah sakit.


"Apa? Raut wajah Pak Budi semakin kelihatan tak senang.


"Pa..pa..papa saya meninggal dunia Pak.


Seluruh teman-teman Winda ribut karena ungkapan Winda, Pak Budi memperbolehkan Winda menemui papanya segera.


"Te..te..terima kasih Pak.


Winda meninggalkan kelas, tapi seseorang menghentikannya, dia adalah Frans teman kelas dan juga sahabat kecil Winda,"Kamu tidak bisa pergi dengan cara seperti ini.


Frans menarik Winda, dan meminta izin pada Pak Budi untuk mengantar Winda ke rumah sakit, Pak Budi mengizinkan dan menghentikan jam pelajarannya.


*****


Di rumah sakit, Winda menangis di samping mayat papanya,"Papa bangun, Winda sudah ada di sini, papa janji akan mengajakku ke Villa kan, papa belum menepati janji papa.


Nenek Winda menarik cucunya dalam pelukannya,"Sudahlah sayang, jangan menangis lagi, papa dan mamamu akan sedih jika melihatmu seperti ini.


Winda tidak menjawab, dia hanya menangis dan memeluk erat neneknya.


Sementara Frans, dia mendekati mereka dan menepuk-nepuk bahu Winda.


*****


Sejak kematian papa, beberapa hari yang lalu, nenek begitu mengkhawatirkanku, dia selalu datang di kamarku, berusaha menghiburku, tapi aku masih tetap diam dan nenek pun meninggalkanku sendiri di dalam kamar.


Winda mengusap wajahnya dan duduk di pinggir tempat tidurnya, matanya berat, ingin rasanya Winda menangis, tapi sepertinya air matanya sudah mulai habis, bahkan dia memiliki mata panda yang sangat hitam sekarang, Winda membaringkan tubuhnya di atas kasurnya, sembari menatap ke langit-langit kamarnya,"Pa..pa...papa aku merindukanmu, kenapa kau cepat sekali meninggalkanku.


*****


Pagi ini, Nenek membangunkanku untuk sarapan pagi. Mataku sangat berat untuk terbuka, aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamarku, aku menatap nenek dengan senyuman manisnya, aku merasa tenang melihatnya, aku kembali masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang.


Nenek mengikuti Winda, dia juga duduk di samping Winda, dia lalu mengangkat tangannya yang keriput dan mengusap lembut permukaan rambut Winda,"Apa tadi malam kamu tidur dengan nyenyak? Tanya nenek dengan suara paraunya.


Aku sedikit tersenyum dan mengangguk,"Iya, aku tidur dengan nyenyak.


Nenek kembali mengusap rambut Winda dan mencium keningnya,"Nenek senang kamu baik-baik saja. Ayo bersiap nenek akan menunggumu di bawah kata nenek dan menutup pintu kamar Winda.


Winda mengusap wajahnya dan menepuk-nepuk wajahnya,"Sadarlah Winda, kamu harus bangkit.


Dering ponsel Winda membuatnya berhenti mengganggu wajahnya, dia menyambar ponsel miliknya dan mengangkatnya,"Halo? Ada apa Frans?


Kudengar suara napas legah dari Frans,"Syukurlah, akhirnya kamu mengangkat telponmu, kau tahu aku sudah setengah mati khawatir padamu, beberapa hari ini kamu sama sekali tidak mengangkat telponmu, bahkan kau tidak sedikitpun membaca pesanku.


"Oh Frans, maafkan aku. Kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tuamu.


"Jelas aku tahu, maaf pagi-pagi buta begini aku malah megores luka di hatimu.


Winda terkekeh, ini pertama kalinya dia tertawa seperti itu setelah kematian papanya,"Nanti kita bertemu di sekolah kata Winda dan mengakhiri pembicaraan mereka.


Winda merapikan tempat tidur dan juga dirinya, dia lalu bergabung dengan neneknya di dapur,"Selamat pagi Nek.


Nenek tersenyum, dengan langkah kaki yang tak beraturan lagi, dia mendekati Winda dan menepuk pundaknya,"Nenek senang melihatmu sepagi ini sayang, apalagi kamu terlihat rapi dan cantik, apa kamu memutuskan ke sekolah hari ini?


"Ya nek.