
Winda berdiri di depan meja belajarnya, dia menarik kursi dan duduk, kemudian menyalakan laptop mamanya, dia membuka video rekaman itu, folder yang berjudul kehancuran, ada lima video, video pertama telah di tonton Winda, dia masih ragu untuk menonton video keduanya, tapi dengan mengingat pesan terakhir papanya, Winda memberanikan diri membuka video itu.
"Hai, sudah lama kita tidak bertemu, sekarang tanggal 23 januari 2024. Aku tidak membuat video beberapa tahun belakangan ini, karena aku takut jika dia menemukanku. Well sekarang peri kecilku berumur lima tahun, dia semakin cantik, dan lucu. Kini aku mengerti perasaan seorang ibu, jika para ibu mengatakan jika mereka tak bisa hidup dari anak-anaknya. Aku sudah melakukan semua pekerjaan rumah, Winda juga sedang tidur, sedangkan Arif masih di kantor, jika di waktu senggang begini, aku akan merekam diriku.
Kalian tahu perkembangan teknologi sekarang, dulu jika kalian memesan barang lewat ekspedisi, maka yang membawanya adalah petugas pengiriman paket bukan? sekarang tidak lagi, di zaman sekarang para robot mengambil pekerjaan mereka. Sungguh mengerikan, bagaimana tidak. Sekarang para manusia kehilangan pekerjaan mereka, karena di gantikan mesin-mesin yang tak ada lelahnya, dan membuat angka pengangguran meledak pesat. Tapi dengan itu, tidak ada lagi ūkejahatan, karena para manusia tidak bisa merampok dan membunuh robot. Tapi masih ada juga manusia, yang berhati mulia dan tetap mengandalkan tenaga alami manusia, perusahaan dan orang yang menjalaninya itu meski diberi jempol dan penghargaan. Tapi itu bukanlah intinya, intinya adalah seseorang yang kucurigai selama ini dalang di balik semua robot-robot yang saat ini mengambil setengah dari pekerjaan manusia, ada sebuah perusahaan besar, sangat kuat dan ternama, hampir seluruh perusahaan yang ada di dunia di kuasainya, orang-orang yang memiliki kekuatan dapat menghancurkan dunia dan aku menduganya jika dia adalah orang itu, walaupun tidak ada yang menyadarinya, tapi aku tahu jika robot yang datang untuk mengantar paket bukanlah manusia, mereka adalah robot yang di selimuti kulit manusia. Sepertinya aku terlalu banyak bercerita kita akhiri hari ini.
Video yang ditonton Winda hanya berdurasi lima menit saja, dan semua isinya tentang robot yang akan menguasai dunia, juga orang yang dicurigai oleh Sari dan betapa kuatnya mereka, sehingga tak ada yang bisa melawan mereka. Winda memukul meja belajarnya,"Oh Shit! Apa sebenarnya yang ingin mama sampaikan padaku, kenapa tidak langsung pada intinya saja, aku muak mama hanya mengatakan jika robot akan menguasai dunia. Winda menarik napas dalam, dia kembali fokus pada layar laptop mamanya, dia kemudian membuka video ketiga, tapi itu tidak seperti yang di bayangkan oleh Winda, Winda sedikit kecewa. Video yang di bukanya tidak berisi apapun, video itu tidak ada. winda berpindah pada video ke empat milik mamanya.
Namaku Sari, aku ingin bercerita sesuatu pada kalian. Sebenarnya aku berasal dari Korea Selatan, aku kuliah di Universitas ternama di sana, dari kecil kata ayah aku adalah anak yang sangat cerdas dan jenius, aku baru berusia lima tahun tapi aku sudah bisa menggunakan semua jenis alat elektronik di rumahku, aku pandai menulis, menghitung dan membaca saat itu juga. Hingga aku mulai masuk sekolah, aku selalu menjadi nomor satu di kelas dan itu membuatku tidak punya teman, mereka membenciku, bahkan guru juga seperti itu, karena kadang aku bertanya di luar nalar manusia, itu membuatku sakit hati dan menutup diri dari mereka dan lebih memilih berteman dengan buku, mesin, dan riset, kadang aku juga melakukan penelitian. Saat semester tiga masa kuliahku, aku bisa mempelajari semua dengan cepat, bahkan rumus yang tidak sempurna bisa aku sempurnakan dengan mudah, itu membuat profesor bangga padaku, hingga suatu hari Profesor Shin memanggilku ke ruangannya, saat aku menemui beliau, beliau menjelaskan padaku jika aku bisa melakukan pertukaran pelajar dengan orang Amerika, beliau merekomendasikan aku kuliah di salah satu universitas terkenal di dunia, aku sangat senang, karena dengan begitu aku bisa semakin mengasah kemampuanku, karena kutahu orang-orang di sana sangat cerdas dan mungkin akan ada yang mengalahkan kejeniusanku, aku memberitahu ayah dan ibu soal ini, mereka turut senang dengan kabar ini, mereka memberiku semangat sepenuhnya, hari itu juga aku berangkat ke Amerika dan yang kutahu aku menyesal melakukan itu.
*****
Hari pertama masuk kuliah, mereka memandangku seolah merendahkanku, apa mereka baru pertama kali melihat orang korea? Aku berpikir mungkin ini kesalahan yang aku ambil, apa mereka juga akan mengucilkanku. Aku terus berjalan dan bertemu dengan Profesor Michael, beliau sangat ramah dan menyambutku hangat. "Welcome to Amerika Miss Kim Nana. Yah nama koreaku adalah Kim Nana. "Thank You Profesor.
Michael membawaku ke kelas khusus, di sana aku bertemu dengan lima mahasiswa. Michael memperkenalkanku pada mereka satu persatu. Ron, Jakob, Sarah, Randy, dan Chelsea. Mereka teman yang baik, mereka menyambutku ramah. Michael meninggalkanku bersama dengan mereka. Chelsea mendekatiku dan memulai berbicara padaku,"Hai, senang berkenalan denganmu Kim Nana. Aku tersenyum, ini pertama kalinya aku senang memiliki teman. Ron juga mendekatiku dan berbicara padaku,"Kim Nana kamu sangat cantik, kalau boleh tahu apa keahlianmu? Aku menjawab jika di negara asalku mereka mengangapku jenius. Jakob, Sarah dan Randy bersama-sama mengatakan jika mereka menerimaku sebagai temannya. Sungguh konyol kataku dalam hati. Itulah awal pertemananku dengan mereka, kami selalu jalan bersama, hingga tak ada satu pun orang yang menganggu dan memandangku rendah lagi.
*****
Saat siang hari, Michael datang dan mencari kami berenam, beliau menyuruh kami berkumpul, katanya ada sesuatu hal penting yang ingin beliau sampaikan pada kami, kami semua berkumpul di ruang kelas khusus. Michael menemui kami dan beberapa orang berjas hitam, membawa koper dan memakai kaca mata hitam. Kami saling memandang, apa sebenarnya yang terjadi.
"Sari?
Kami saling menatap satu sama lain, Sari? Siapa itu?
Michael tersenyum dan menunjuk ke arahku, Kim Nana mulai hari ini kamu bernama Sari.
"Apa? Tapi professor kenapa tiba-tiba professor mengganti namaku?
"Karena namamu terlalu kaku kata mereka berlima.
"Sudah cukup, ini bukan waktunya bermain, baik anak-anak. Kalian lihat kedua orang yang datang bersamaku? Mereka adalah orang dari perusahaan Miracle.
"Ya tuhan, apa Profesor benar? Kata Chelsea begitu takjub. Hanya aku yang merasa biasa-biasa saja mendengar nama perusahaan itu, aku memandang Chelsea dan bertanya padanya,"Hei kawan, ada apa dengan perusahaan itu?
Chelsea menatapku tak percaya,"Ayolah Sari, Perusahaan Miracle adalah Perusahaan terkenal, terkuat, dan memiliki alat-alat canggih di dunia, apa kau tidak pernah mendengarnya di Korea teman?
Aku menggelengkan kepalaku,"Sepertinya tidak asing, tapi aku lupa.
Aku kembali fokus menatap Michael dan kedua lelaki itu. Michael mengatakan maksud kedatangan kedua lelaki itu,"Mrs Ronald and Arnold ingin menemui kalian, petinggi perusahaan memanggil kalian untuk bekerja di perusahaan Miracle. Mendengar itu kelima temanku berteriak histeris dan terlihat sangat gembira, tapi aku tidak, aku terdiam dan menatap mereka bingung. Tapi aku ikut tersenyum melihat teman-temanku tersenyum bahagia.
"Dan ingat, jika sudah memulai kalian tidak bisa mengakhirinya, di mulai dari saat ini. Besok kalian berkumpul di depan gerbang, akan ada mobil hitam yang akan menjemput kalian. Itu perkataan terakhir Mr Arnold hingga dia dan saudaranya menghilang di ambang pintu.
Aku terus memikirkan kedua lelaki yang tadi menemui kami, karena terlihat khawatir Sarah mendekati dan bertanya padaku,"Ada apa Sari? Kenapa kamu terlihat tidak senang?
Aku melirik dan menatap kedua bola mata Sarah yang berwarna coklat itu,"Apa kamu tidak merasa aneh melihat kedua lelaki tadi?
Sarah mengangkat sebelah alisnya mencoba berpikir,"Memangnya ada apa? Aku tidak merasakan apa-apa.
Sari tetap menatap Sarah, itu menandakan jika Sari tidak sedang bercanda,"Aku serius, mereka tidak terlihat seperti manusia pada umumnya.
Sarah menghela napasnya pelan,"Ya ampun, kamu bicara apa? Mereka jelas terlihat seperti manusia, di bagian mana mereka tidak terlihat seperti manusia pada umumnya di matamu? Katanya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke depan wajahku.
"Dari awal mereka muncul, aku tidak merasa senang melihat mereka, kedua lelaki itu bahkan tidak membuka kacamata hitam yang mereka gunakan saat melihat kita, dan kursi yang kita siapkan pada mereka, tidak di hiraukannya dan cara mereka berbicara seperti seorang robot atau terlihat sangat kaku.
"Ya Tuhan, Sari itu sudah biasa, orang seperti mereka lebih suka berdiri di banding duduk kawan dan ada banyak orang di luar sana jika sedang berbicara terdengar datar.
"Tapi setidaknya mereka membuka kacamata mereka, demi menghargai kita sebagai rekan kerja bukan?
Sarah menepuk bahu Sari pelan,"Sudahlah kamu tidak perlu memperdulikan masalah itu, lebih baik kita kembali ke asrama dan siapkan barang-barang yang akan kita butuhkan di Lab, dan semoga kita satu kamar lagi katanya dan menarik Sari keluar dari kelas mengikuti Jakob, Chelsea, Ron dan Randy.
*****
Kami sudah berada di halaman Perusahaan Miracle, perusahaan yang sangat besar yang pernah kulihat, pemilihan warna bangunannya hanya di balut warna putih, membuatku seperti berada di dalam sebuah rumah sakit yang terisolasi, aku tak bisa bernapas sepanjang jalan, aku jujur sangat membenci warna putih, tapi aku suka struktur bangunannya, megah dan elegan.
Entah apa yang sedang terjadi di perusahaan ini, sepanang jalan masuk ke dalam gedung ada banyak orang-orang yang memamerkan karya robot yang mereka buat, apa ini semacam pameran?
Michael tersenyum melihatku tak berkedip meyaksikan ada banyak robot canggih yang sangat memuaskan mataku dan membuatku haus untuk mencoba membuat suatu temuan juga,"Ada apa anakku? Apa kau ingin membuat suatu terobosan baru juga? Aku yakin kamu bisa membuat yang lebih dari orang-orang yang ada di sini katanya penuh bangga padaku. Aku tersenyum dan dia merangkulku melewati beberapa orang di sepanjang jalan perusahaan.
*****
Kemarin malam sepertinya aku dan teman-teman yang lain sudah sangat berlebihan mengadakan pesta di kamar Jakob, sampai sekarang kepalaku masih sakit karena kekurangan tidur, sementara para lelaki bau alkohol masih tercium tajam di tubuhnya.,"Kurasa aku akan segera muntah, aku tidak tahan lagi keluh Ron.
Jakob mengelengkan kepalanya dan mencoba membantu Ron dengan memijat lehernya,"Kamu habis berapa botol semalam? Aku sudah peringatkan jangan terlalu banyak meminum alkohol, itu tidak baik untuk badanmu.
Michael tiba-tiba membuka pintu, tatapannya tajam, aku melihat raut wajahnya, aku yakin beliau sangat marah pada kami.
Michael berjalan maju dan menghentikan langkahnya saat tiba di depan meja, dia berdiri di hadapan kami menatap kami dengan penuh amarah, dan dia memukul meja sekuat tenaganya,"Apa yang sudah kalian lakukan!