Gen 1993

Gen 1993
Part 23 Berhasil



   "Kenapa bapak ingin membunuh mereka?


"Karena dia sudah menganggu Ponakan kecilku.


Mobil mereka parkir di samping gedung, dari balik dinding. Anjing gila memperhatikan mereka. Jika saja mereka melakukan kesalahan kecil saja, anjing gila tidak akan segan segera menembak mereka sampai mati. Hampir lima belas menit lamanya mereka mengintai pasukan robot Miracle, tapi mereka sama sekalu tidak melakukan hal yang mencurigakan sedikitpun. Hingga seorang lelaki jangkung berwajah tirus membawa seorang gadis pendek dengan bentuk wajahnya yang kecil.


"Siapa gadis itu, dia terlihat aneh. Seolah sedang meminta bantuan. Lihat mulutnya bergerak. "Tolong aku!


Amarah anjing gila memuncak, dia membuka seragamnya dan menarik sebuah pistol dari balik bajunya,"Ini saatnya, meledakkan mereka.


Seorang anak buah anjing gila menembak kaki robot yang menyandra seorang gadis. Lalu dia terkejut melihat robot itu,"Ke...ke..kenapa dia baik-baik saja, sama sekali tak merasakan sakit. Sebenarnya mereka itu apa?


Menyadari ada yang menembaki mereka, robot itu melempar gadis itu hingga menabrak pagar gedung, lalu gadis itu jatuh pingsan. Dengan cepat robot itu menembak ke arah lelaki yang menyerangnya. Beruntung anjing gila bisa menarik lelaki itu sebelum dia tertembak. "Nyaris saja! Apa kau gila! Kau seharusnya melihatku menyerang mereka.


Dengan wajah pucat dan keringat yang kini mengucur dari pelipisnya, ia berkata,"Si..si..siapa mereka? Apa mereka hantu? Ucap si polisi lugu.


"Kau bodoh, dia bukan hantu tapi robot, sekeras apapun kau menembaknya, peluru hanya akan terpental darinya.


Seorang lagi dari mereka memegang bahu polisi yang pucat dan memandang anjing gila,"Lalu pak? Jika kita tidak bisa membunuh mereka, itu artinya kami akan mati konyol?


"Kau juga bodoh! Dengar dulu penjelasanku, kecuali kau tahu cara menyerangnya di posisi yang tepat.


" Di mana? Tanyanya lagi.


"Calon menantu ponakanku mengatakan, jika robot itu akan mati jika kau menembaknya tepat di otaknya, karena mereka menyimpan chip pengendali di sana, jika chip itu rusak otomatis program dan juga mesinnya akan mati total.


"Apa? Otak? Chip? Program? Lalu mesin? Gumam sih polisi pucat dan jatuh pingsan. Mungkin karena terlalu syok.


"Ini kasus pertama kalinya bagiku pak, kasus di mana aku akan melawan mesin. Sungguh tidak bisa di percaya, mesin yang biasanya kita kendalikan kini malah berperang melawan kita.


"Pikiran yang benar, itulah revolusi. Mereka beranggapan mereka lebih baik dari pada kita, itu sebabnya mereka berontak dan ingin kita menjadi budak mereka.


" Jujur aku tidak setuju dengan ide mereka pak, bahkan jika harus kehilangan nyawaku, aku tetap memilih tidak menjadi budak mereka.


" Pemikiran kita sama, oleh sebab itu sekarang juga kita akan memusnahkan mereka. Kau tahu cara membunuhnya?


"Iya pak, menyerang otaknya.


"Bagus, aku percayakan ini padamu.


Anjing gila memberi intruksi pada anak buahnya. Dia akan menyerang bagian kiri dan yang satunya di bagian kanan. Setelah menyelamatkan gadis itu, mereka akan pergi meninggalkan tempat itu. Sementara polisi pucat, mereka memutuskan memindahkannya di dalam mobil.


Mereka berdua pun mulai melancarkan serangan mereka.


*****


Winda berjalan mondar-mandir sembari mengigiti kuku jarinya. "Frans? Apa paman baik-baik saja? Kenapa tidak ada kabar darinya? Tanyanya mulai cemas.


Winda melepas gigitannya pada kuku-kuku jarinya. Melempar badannya ke atas sofa dan menghela napas panjang. "Aku sungguh khawatir, aku tidak ingin kehilangan apapun lagi, sungguh! Aku tetap ingin dia berada bersamaku.


Gen 1993 hanya terdiam dan terus menahan Winda agar tidak keluar dari hotel. Seperti pesan anjing gila pada mereka.


*****


Pak komisaris marah dia memukul meja dan menendang opsir di sampingnya,"Apa yang dia lakukan?


"Sepertinya dia menyerang tempat yang anda berikan sementara pada Miracle pak, akan sangat tidak baik jika anjing gila mengetahui kebenarannya.


"Sial! Sekali lagi meja terhantam, semua benda di atasnya terlihat melompat. Aku sudah mengira, ide buruk memberi pekerjaan ini padanya. Bisa-bisa dia malah mengagalkan rencana ini.


"Lalu pak! Apa yang harus kami lakukan?


"Dia orang yang cukup keras dan tegas semenjak aku mengenalnya. Dia juga merupakan sahabatku, kami berdua adalah kandidat untuk menjadi calon komisaris, tapi dengan besar hati dia menyerahkan tempat ini padaku, bagiku ini memalukan, tapi aku menghormati keputusannya. Untuk saat ini jangan melakukan apapun, biarkan saja dia melakukan apapun yang dia inginkan.


*****


Mereka berhasil menyelamatkan gadis itu dari Miracle. Ketiga robot itu mati total, walau sebagai balasannya bawahan Anjing gila terluka di bagian kaki dan lengannya. Anjing gila memacu mobilnya dengan cepat, sepertinya para robot mengetahui jika ada yang menyusup ke markas mereka, hingga beberapa robot lainnya di kerahkan untuk menghentikan mereka.


Keringat membasahi seluruh tubuh lelaki yang kini terbaring di mobil karena menahan lukanya. "Pak, saya baik-baik saja. Bapak tidak perlu mengkhawatirkan saya ucapnya.


"Bodoh! Itu tidak semudah yang kau katakan, aku tahu kau sakit.


"Tapi pak jangan membawaku ke rumah sakit katanya tegas.


"Aku tahu, aku akan membawamu menemui orang yang harus kita lindungi. Tapi bagaimana dengan peluru yang bersarang di lengan dan kakimu?


Semuanya terdiam sejenak, semua menahan gelombang jalan yang membuat mereka terguncang. Gadis itu mengeluarkan sapu tangannya merobeknya menjadi tiga bagian. Di ikatnya pada kaki dan lengan polisi itu. Sementara satu bagiannya lagi di usapkannya pada keringat polisi itu. "Saya bisa mengeluarkan pelurunya, tapi saya butuh beberapa alat medis.


Polisi membuka lebar matanya, dia menunjukkan raut wajah takut, tapi lebih tepatnya cemas.


"Anda tidak perlu khawatir. Aku adalah seorang dokter.


"Aku ingin tanya pada anda. Kenapa mereka bisa menangkap anda? Tanya anjing gila padanya.


"Ii..ii..itu karena aku mengetahui kebenaran. Jika mereka adalah mesin! Aku masih takut, aku pikir aku akan mati di tangan mereka ucapnya lalu tangannya terlihat gemetar.


Polisi itu memegang tangannya, membuatnya tenang. "Terima kasih gumamnya pelan.


Mereka tiba di sebuah apotik, polisi muda yang pingsan kini sadar, betapa hebohnya ketika dia sadar, dia panik sendiri, bahkan menagis iba pada rekannya yang terluka sementara dia malah jadi pengecut.


"Diam kau! Karena para robot tidak mengenali wajahmu. Kau turun dan belilah alat yang di maksudkan oleh dokter itu.


Polisi muda mengambil secarik kertas yang sudah di resepkan doket semua alat dan juga obat-obatan yang harus di belinya segera.