Gen 1993

Gen 1993
Part 24 Jangan Diam Saja



    Mereka mengambil jalur tangga darurat menuju kamar Winda dan juga Gen 1993. Anjing gila menggendong bawahannya. Sementara dokter dan juga polisi muda mengikuti mereka dari belakang.


Suara bel berbunyi, membuat Winda was-was. "Apa mereka sudah datang menangkap kita? Ucap Winda pada Gen 1993.


Gen 1993 bangkit dari duduknya, menarik Winda ke belakangnya, mengeluarkan pistol dan bersiap membuka pintu.


Winda menahan lengan Gen 1993 sebelum membuka pintu,"Ingat jangan menembak jika itu adalah polisi.


Gen 1993 mengedipkan matanya,"Tergantung.


Pintu terbuka, Winda terkejut dan segera menyuruh mereka masuk,"Paman? Ada apa? Siapa orang yang terluka ini? Tanya Winda sedikit panik.


Anjing gila membaringkan Gil di sofa, dokter lalu mengambil alat yang di bawah polisi muda dan menyuruhnya membantu saat operasi di lakukan.


Anjing gila menyeka keringatnya. Dia mendekati Winda menjauh dari mereka. Dia memegang bahu Winda,"Tolong berikan paman air minum, paman haus katanya sembari menyandarkan punggungnya di sofa satunya lagi.


Winda memberi segelas air dan menatap pamannya,"Sebenarnya apa yang terjadi Paman?


Anjing gila menenguk airnya dalam satu kali tegukan, dia meletakkan gelasnya di atas meja dan berkata,"Paman menyerang markas Miracle, dan dia. Sambil menunjuk ke arah Gil. "Dia terluka saat kami menyerang mereka.


"Apa? Kenapa paman gegabah? Apa paman sudah gila! Harusnya paman berpikir dulu sebelum bertindak.


"Tenanglah Winda, Paman melakukan ini karena menyelamatkan dokter itu. Mereka menyandranya, lalu apa paman hanya akan melihatnya saja tanpa melakukan apapun? Paman yakin kamu tidak akan setuju jika aku mengabaikan dia.


Winda mengusap wajahnya,"Baiklah kali ini paman melakukan hal yang benar. Tapi untuk ke depannya, aku mohon paman jangan melakukannya lagi. Aku tidak ingin paman terluka dan aku juga tidak ingin kehilangan lagi Paman.


Perdebatan di antara mereka pun redam, mereka teralihkan pada Gil yang saat ini sedang di tangani oleh dokter. Dia mula-mula memberi anastesi, saat obat itu mulai menjalar di tubuh Gil, Gil pun mulai tak sadarkan diri. Dokter meminta polisi muda memberinya pisau bedah. Saat pisau bedah membelah lengan Gil, polisi muda kelihatan ngeri dan mencoba menutup matanya. Dengan cepat dan lihai, satu peluru berhasil di keluarkan dari lengan Gil. Suara dentingan peluru yang mengenai wadah berbunyi, mereka hanyut di dalamnya. Dia kemudian menjahit lukanya dan melakukan hal yang sama pada kaki Gil yang juga berserang satu peluru. Hampir satu jam dokter mengoperasi Gil. Dia melepas kos tangannya. "Operasinya selesai. Dia akan membaik bila sudah sadar katanya lalu mencuci tangannya.


Polisi muda bangkit dan duduk di di lantai. Wajahnya pucat dan berkeringat. "Aku tidak akan melihat dokter melakukan operasi lagi ucapnya frustasi.


*****


Mereka tidak sadar jika para Miracle dan polisi sudah mengepung mereka. Suara langkah kaki terdengar oleh Gen 1993. Dia bangkit dan memperingatkan semuanya. "Kau dan Gil harus bersembunyi di dalam lemari ini. Ingat jangan mengeluarkan suara apapun.


Mendengar Gen 1993 tiba-tiba mengatakan hal itu membuat mereka khawatir. "Ada apa? Tanya Winda.


"Miracle dan para polisi sudah mengepung tempat ini.


Gen 1993 mengintip di balik jendela,"Mereka semua sudah di pindahkan di tempat yang aman.


"Sial! Kata anjing gila. "Aku tidak bisa keluar untuk bernegoisasi dengan para robot itu.


"La..la..lalu apa yang akan kita lakukan tanya polisi muda.


"Tentu saja menyerang balik ucap Gen 1993. Mendengar ucapan Gen 1993 membuat Gil menelan ludahnya keras.


Gen 1993 memberi mereka perintah. Winda, polisi muda dan juga anjing gila berpegang pada tubuh Gen 1993. Gen 1993 lalu melompat ke gedung sebelah tanpa di ketahui siapapun.


Beberapa opsir polisi mendobrak kamar hotel mereka. Polisi sama sekali tidak menemukan siapapun. Seorang polisi hendak membuka lemari yang ada di depannya. Tetapi rekannya berkata,"Mereka sudah kabur lewat jendela ucapnya. Mereka lalu meninggalkan kamar itu. Setelah polisi itu pergi. Dokter membuka lemari itu dan mengeluarkan Gil dari dalam lemari. "Kita sudah aman. Semoga mereka baik-baik saja.


*****


Saat mereka mendarat di gedung sebelah, seorang robot melihat mereka. Dengan gila dia menembak ke arah mereka. Untung saja yang tertembak adalah Gen 1993 yang sama sekali tak merasakan apapun.


Perang pun di mulai. Anjing gila melakukan kegilaan, dia melompat dari lantai dua dan begelut dengan robot itu. Saat dia menghantamkan tinjunya pada pria robot itu, itu malah membuat tangannya sakit. Sementara robot itu sama sekali tidak berekspresi apapun,"Sial! Kau memang bukan manusia. Anjing gila lalu menarik pistolnya dan menembak robot itu tepat di otaknya. Tembakan itu membuatnya terdiam. Karena kesal anjing gila menendang robot itu dan meludah padanya.


Gen 1993 membawa polisi muda dan juga Winda menyusul anjing gila. Setelah mendarat Winda langsung mendekati pamannya,"Paman tidak apa-apa? Paman sudah tua, lain kali jangan lompat dari ketinggian lagi bentak Winda dan membuat anjing gila terdiam.


Baru kali ini aku melihat Bapak mati kutu batin polisi muda itu.


Tiba-tiba dua orang menyerang mereka. Gen 1993 melompat tinggi, mengambil barang berat yang bisa dia gunakan, kebetulan sekali gedung yang di lewatinya merupakan kamar seorang atlet. Dia meraih benda besi yang menggantung di pagar, menariknya keluar dan melemparkannya pada kepala dua lelaki itu dengan cepat. Lalu kedua robot itu tumbang kepala mereka hancur dan penyok. Betapa terkejut dan mualnya polisi muda menyaksikannya langsung.


Anjing gila mencengkram bahu polisi muda itu lalu berbisik,"Kau perhatikan dua orang itu, mereka adalah robot. Kau tidak akan muntah melihat isi kepalanya yang hanya berisi mesin.


Lagi-lagi polisi muda memasang wajah terkejutnya. Mana mungkin mereka yang tampak seperti manusia pada umumnya adalah seorang robot batinnya. Dia berjalan menghampiri dua lelaki yang kini rubuh, di intipnya bagian kepala mereka, dia lalu terperanjat melihat kepala lelaki itu mengeluarkan asap dan meledak. Beruntung saja Gen 1993 mengetahuinya dan sempat menolong mereka semua dari ledakan dua robot gila itu.


"Bagaimana kau sudah percaya ucapanku? Tanya anjing gila pada pemuda itu.


Dia tidak menjawab dengan mulutnya yang masih ternganga saking terkejutnya. Dia menepuk wajahnya lalu dia merasakan sakit. Jadi ini bukan mimpi? Hampir saja dia pingsan. Tetapi anjing gila cepat bertindak. Dia memukul punggung pemuda itu keras.


"Kau jangan lengah, jika tak ingin mati konyol ucapnya mengingatkan. Lantas polisi muda itu menelan ludahnya dan kemudian bangkit dari jatuhnya.


Winda melihat polisi muda dalam bahaya, dia berdiri di depannya dan menodongkan dua pistol yang masing-masing melengket di telapak tangan Winda dan melepas peluru yang melewati daun telinga polisi itu, jika bergerak sedikit saja, dia mungkin akan tewas. "Jangan tinggal diam saja, keluarkan pistol anda dan serang mereka kata Winda yang sudah melumpuhkan dua robot dalam sekali gerakannya.