Gen 1993

Gen 1993
Part 2 Jangan Cari Masalah Denganku



       Di sekolah, Frans berdiri di depan pintu gerbang dengan penuh kecemasan,"Di mana Winda? Apa dia membohongiku? Dia kan sudah berjanji padaku tadi.


Dari kejauhan terlihat beberapa gadis berjalan ke arah Frans, saat sudah dekat dengan sosok Frans, mereka menghentikan langkahnya, Gisel membuang helaian rambutnya ke belakang dan melempar senyuman paling manis yang di milikinya pada Frans dan berkata,"Hai Frans, apa kamu menungguku?


Frans memutar bola matanya malas,"Pergilah Gisel, aku tidak menunggumu, kamu jangan percaya diri.


Beberapa teman Gisel menahan tawanya, seketika mereka terdiam saat Gisel menatap tajam pada mereka,"Lalu kamu sedang menunggu siapa? tanya Gisel lagi


"Kamu pergilah, ini bukan urusanmu, dan jangan menggangguku ucap Frans kesal


Mendengar itu, Gisel marah dan pergi meninggalkan Frans, tapi langkah Gisel bersama teman-temannya terhenti saat Frans menyebut dan memanggil nama seorang gadis.


"Winda? Aku pikir kamu tidak akan datang kata Frans senang


Winda menatap Frans dan tersenyum,"Aku sudah berjanji padamu, aku bukanlah tipe orang yang suka mengingkari janji seperti ayahku.


Frans terdiam, dia lalu merangkul Winda, dan berjalan melewati Gisel dan juga teman-temannya, membuat Gisel marah,"Dia menolakku, demi gadis seperti Winda? Apa coba kurangnya aku di banding Winda ucap Gisel kesal.


"Banyak. Ucap teman-teman Gisel secara bersamaan.


"Apa kalian ingin mati ditanganku?


Teman-teman Gisel berlari meninggalkan Gisel yang marah Karena terbakar api cemburu buta.


*****


Gisel tak henti-hentinya menatap ke arah Frans dan juga Winda selama pelajaran berlangsung, dia benar-benar merasa cemburu dan kesal, karena Frans lebih memilih gadis aneh itu di banding dirinya,"Kalian dengar, pokoknya kalian harus bisa mempertemukan aku dengan Winda hari ini, aku akan memberinya pelajaran kata Gisel pada teman-temannya


Renata memutar bola matanya malas,"Kenapa meski pusing, kita katakan saja kalau kamu mau bertemu dengannya.


Gisel meremas mulut Renata,"Kamu memang temanku yang paling bodoh! Kalau Frans tahu, kamu pikir dia akan membiarkan kita membawa Winda menjauh darinya? Yang ada dia malah semakin membenciku.


Renata mencoba mencerna perkataan Gisel,"Kamu benar katanya dan mengangguk-anggukkan kepalanya


Gisel memutar bola matanya kesal dan memukul kepala Renata pelan,"Kapan kamu bisa pintar?


"Bagaimana kalau kita bertanya pada om google? Ucap Renata lagi.


Gisel menatap tajam pada Renata. Jesica dan Rahel segera menarik Renata menjauh dari Gisel, agar tidak terjadi keributan,"Sudah cukup kebodohan Renata mempengaruhi kita, pokoknya aku tidak mau tahu, kalian berdua. Tidak, maksudku kalian bertiga harus bisa mempertemukan aku dengan Winda, apapun caranya, aku tidak mau tahu kata Gisel dan meninggalkan ketiga temannya itu.


Renata menatap ke dua temannya itu,"Kenapa Gisel selalu melampiaskan amarahnya padaku?


Jesica memijat keningnya dan memegang  bahu Renata,"Aku juga akan marah, jika kamu bertingkah seperti tadi, apa memang otakmu itu tidak ada isinya?


Rahel terkekeh dan merangkul Renata,"Sudahlah Jesica, walaupun dia bodoh, tapi dia sangat lucu dan teman yang baik, jadi jangan menghinanya terus. Sekarang yang harus kita pikirkan, bagaimana caranya kita mempertemukan Winda dengan Gisel.


Renata memutar bola matanya dan bertolak pinggang,"Bodoh amat, kenapa sih kita selalu saja mengikuti keinginan Gisel?


Jesica menatap ke arah Renata,"Ya ampun, kamu tahu Ren, ini pertama kalinya aku melihatmu membantah Gisel. Ketiganya lalu tertawa dan berjalan menuju kantin.


*****


Frans dan Winda juga berada di kantin, keduanya entah membicarakan apa, lalu ketiga teman Gisel melihat keduanya,"Apa aku tidak salah lihat? Bukankah itu Winda dan Frans? kata Jesica mencoba meyakinkan dirinya dan segera memberitahu kedua temannya.


Renata dan Rahel mengamati gerak-gerik mereka,"Kapan kita bisa memisahkan Frans dengan Winda? Kata Rahel.


Tiba-tiba Winda berdiri dari tempat duduknya,"Winda? Kamu mau kemana? Tanya Frans yang terkejut karena Winda tiba-tiba berdiri.


Winda mengaruk kepalanya,"Maaf Frans, tapi aku ingin ke toilet,aku akan kembali ucap Winda dan meninggalkan Frans.


Sementara ke tiga teman Gisel merencanakan sesuatu,"Kamu dengar kan, Winda bilang dia akan ke toilet, cepat hubungi Gisel dan katakan padanya rencana kita ucap Jesica kepada kedua temannya.


Winda keluar dari toilet, namun dia melihat Gisel di depan cermin bersama ketiga temannya, aroma parfum yang sangat menyenggat menyakiti penciuman Winda. Setelah mereka menyadari kehadiran Winda, mereka berempat berada di sisi kanan dan kiri Winda. Renata menutup pintu toilet, sementara Rahel bertolak pinggang di hadapan Winda dan memberinya tatapan tak suka, dan untuk Gisel dan juga Jessica berdiri menghadap cermin sambil mengoleskan pelembab bibir. Mereka kini memblokade tempat ini.


Setelah Gisel merasa penampilannya sudah maksimal, dia berbalik dan melangkah mendekati Winda, kini Winda dan Gisel saling berhadapan. Jessicca dan Rahel juga berdiri di kedua sisi tubuh Gisel.


Winda menatap ketiganya,"Apa yang kalian inginkan dariku?


"Punya malaikat yang selalu berada di sampingmu membuatmu merasa di atas angin? Ucap Jesica.


Tangan Gisel meraih ujung rambut Winda dan memainkannya, Winda dengan kasar menyingkirkan tangan Gisel,"Lepaskan rambutku.


Rahel tersenyum keji dan mendorong bahu Winda dengan telunjuknya,"Apa katamu? Lepaskan rambutmu? Kalau kami tidak mau bagaimana?


Winda tersenyum sinis,"Aku juga tidak tahu, apa yang akan aku lakukan pada kalian teman-teman kelasku yang manja dan imut ini.


Gisel mengepal tangannya,"Apa? Manja dan imut? Kau tahu kau sedang berhadapan dengan siapa?


"Memangnya dengan siapa? Apa kamu bisa memberitahuku? kata Winda


Jesica dan Rahel memegang masing-masing sebelah lengan Winda, dan Gisel bersiap melayangkan tamparan keras ke wajah Winda, tapi Winda tidak tinggal diam, dia lalu mengepalkan kedua telapak tangannya dan memukul Rahel dan Jesica tepat di wajahnya, keduanya memegang wajah mereka dan mengerang kesakitan, Gisel gemetar ketakutan, dia berusaha melawan tetapi salah sasaran karena Winda menghindar, dan Winda menarik rambut Gisel, Gisel mejerit keras,"Lepaskan rambutku Winda.


Renata berlari hendak menolong Gisel, tapi dia menghentikan langkah kakinya saat melihat tatapan kejam dari Winda yang seperti mengatakan. Jika-kau-mendekat-kau-akan-mati-ditanganku. Renata hendak melarikan diri tapi sebuah robot mesin gunting rambut menghentikannya,"Benda bodoh apa ini ucap Renata.


Winda mendorong Gisel ke arah jesica dan renata membuat ketiganya tersungkur ke lantai,"Aw! Kau makan apa Gisel? Kenapa kau berat sekali keluh Jesica.


"Diam kau! Kata Gisel kesal.


Winda menatap teman-temannya sembari bertolak pinggang,"Jangan cari masalah denganku, dan kau Renata dia bukan benda bodoh, tapi dia adalah robot canggih ciptaanku, yang sudah gatal ingin memangkas rambut kalian. Frogy,lakukan tugasmu. Frogy membabat rambut mereka secara brutal, setelah selesai, Frogy dan Winda meninggalkan Gisel dan teman-temannya. Teriakan dari dalam toilet membuat Winda tersenyum gembira. Sementara Gisel dan teman-temannya menangis melihat kekacauan yang terjadi pada rambut cantik mereka.


*****


Winda kembali ke kantin dan melihat Frans masih menunggunya di meja makan, Winda mendekat dan senyum Frans mengembang,"Kamu kenapa lama sekali? Tanya Frans khawatir.


"Ada sedikit kekacauan di toilet, tapi kamu jangan khawatir Frogy sudah membereskan mereka.


"Fro..fro..frogy? maksud kamu, robot yang kamu coba buat bulan lalu? Robot pemangkas rambut?


Winda mengangguk,"Iya kamu benar.


"Lalu dimana Frogy?


"Dia tidak akan datang, jika aku tidak dalam bahaya.


"Apa? Sungguh menarik.


Winda memandangi Frans lekat.


Frans menyentuh wajahnya,"Apa ada sesuatu di wajahku?


"Tidak ada.


"Lalu kenapa kau melihatku seperti itu? Tanya Frans lagi.


"Aku heran, apa yang mereka lihat darimu hingga mereka mengatakan jika kau seorang malaikat.


"Omong kosong apa itu? Ucap Frans.


"Aku juga berpikiran sama denganmu, semua itu omong kosong.


*****


Nenek sedang menonton acara faforitnya, ketika Winda kembali dari sekolah, nenek menatapnya dan tersenyum,"Kamu sudah pulang? Apa kamu sudah makan sayang? Tanya Nenek penuh perhatian.


Winda membalas senyuman neneknya dan mengatakan jika dia sudah makan dan dia hanya butuh istirahat di kamarnya, setelah kepergian mama dan papa Winda, Winda kini tinggal di rumah neneknya.


Winda berjalan ke dalam kamar, dia membuka baju dan membaringkan tas di atas meja belajarnya, lalu dia pun melempar badannya di atas kasurnya dan memeluk bantal guling kesukaannya,"Ah, aku lelah sekali, aku senang sekali mengerjai Gisel dan teman-temannya itu, mereka telah salah menjadikanku lawan.


*****


Winda samar-samar melihat seorang wanita, dia terluka dan menatapnya penuh makna, dia mencoba mendekati Winda dan berkata,"Sayang, peri kecilku, kau harus melanjutkan pekerjaan mama, agar tidak ada korban yang berjatuhan. Winda terbangun dari tidurnya, keringat memenuhi pelipisnya dan mengalir kebelakang punggungnya,"Mimpi apa itu, apa dia mama. Winda mengusap wajahnya dan kedua bola matanya tak sengaja mengunci sebuah benda di atas meja, benda itu adalah laptop peninggalan mama.


Winda terus menatap laptop milik mamanya, dan mengingat kata-kata terakhir papa, sebelum dia tak sadarkan diri,"Papa bilang, laptop ini milik mama dan dia meninggalkannya untukku, mama bilang aku harus menonton video-video yang dibuatnya, tapi sampai saat ini, aku memutuskan untuk tidak membukanya, karena aku merasa jika apa yang di katakan mama mustahil terjadi, ledakan, penyerangan, semua itu konyol bagiku, tapi demi janjiku pada papa aku harus kembali memeriksa video mama.


Hai Readersku, akhirnya aku bisa membuat novel terbaru. kalian harus tahu menjadi seorang penulis tak semudah yang kalian pikirkan, sebagai penulis kami harus bisa menata bahsa dengan baik, jangan sampai ada kata yang tidak sesuai, kalaupun ada itu semua adalh kesalahan dari saya, well mengarang sebuah karya menjadi suatu cerita tidak semudah membalikkan telapak tangan, kalian harus mempunyai inspirsai dan terkadang ada suatu waktu kalian benar-benar jauh dari inspirasi, hah itu sangat membuatku frustasi dan berpikir, kapan aku bisa menyodorkan cerita menarik lagi, walau banyak yang mengatakan jika karyaku tidak menarik sama sekali, tapi tidak apa-apa, semua itu adalah kritik yang membuat saya semakin semangat menulis, terlebih lagi jika para readers memberi comment yang menyenangkan dan juga memberiku semangat, aku semakin semangat menulisnya. nah oleh sebab itu, di karya saya ini, saya hanya akan update sekali dalam seminggu karena menulis itu tidak mudah. nah sampai ketemu minggu depan, jangan lupa like, love, penilaian, comment dan vote kalian yah.