Gen 1993

Gen 1993
Part 11 Mulai Menyerang



Frans membulatkan kedua bola matanya,"Miracle?


Winda mengangguk dan terlihat sedang berpikir lalu menatap Frans,"Kenapa? Apa kau tahu soal perusahaan itu?


Frans berubah ke mode serius, dia mendekatkan diri pada Winda agar tak ada yang mendengar pembicaraan mereka,"Kau tahu ayahku bukan? Dia itu...


Frans belum selesai berbicara tapi Winda memotongnya,"Dia adalah menteri pertahanan.


Frans berdecak,"Bukan, maksudku ayahku sedang menyelidiki perusahaan itu, ayah bilang perusahaan itu sudah melakukan banyak percobaan di luar batas, mereka melakukan penelitian legal Winda.


Winda tersenyum,"Begitu? Itu artinya aku punya banyak pendukung untuk melawan dan menghancurkan Miracle dan membebaskan paman Jakob dan teman-temannya.


Frans menghentikan Winda sambil mengangkat sebelah tangannya,"Tunggu, bukannya Jakob itu saudara kembar papamu?


Winda mengangguk,"Dia belum mati, seorang bernama Arnold dan Chelsea sedang menawan mereka, mereka mengurungnya di dalam sebuah penjara kapsul Frans.


Frans sontak memukul meja membuat semua orang memandang ke arah mereka,"Kejam! Kenapa mereka bisa sekejam itu?


Winda mencoba menenangkan Frans dan mencoba menjelaskan segala sesuatu padanya,"Frans dengarkan aku, ayahmu sama sekali tidak salah, dia sudah mengambil tindakan benar jika dia ingin menyerang Miracle, kau tahu paman Jakob dan teman-temannya adalah salah satu bukti yang akan memberatkan mereka, mereka tidak bisa di serang dengan memanggil mereka ke pengadilan, kau tahu mereka tidak bodoh, mereka akan menyangkal semua tuduhan dari ayahmu bahkan jika kita memiliki bukti, apalagi kita tidak memiliki bukti itu karena Miracle masih menawan mereka, jalan satu-satunya adalah dengan menyerangnya secara kekerasan.


Frans sempat takjub dengan penjelasan Winda yang begitu antusias,"Aku setuju denganmu, tapi ku dengar orang yang bernama Arnold bukanlah manusia melainkan sebuah mesin yang di balut daging manusia, itu sebabnya dia terlihat seperti manusia.


"Kau memang benar, itu yang ku dengar dari mama.


"Mama? Bukankah kau membenci mamamu? Lalu bagaimana kau percaya dengan kata-katanya.


Winda memejamkan kedua kelopak matanya seolah sedang meratapi kesalahannya,"Aku tidak membencinya lagi Frans, mamaku orang yang baik, aku bahkan melihat bagaimana dia mati di depanku.


Di tengah-tengah perbincangan mereka, semua orang berlari ke suatu tempat, karena penasaran Frans berdiri dan berhasil menghentikan seorang dari mereka,"Hei bro? ada apa? Tanya Frans.


Lelaki itu tersenyum dan memukul bahu Frans pelan,"Perusahaan miracle datang kata lelaki itu dan melanjutkan langkahnya.


Winda membuka kelopak matanya, otaknya tiba-tiba panas, dia bangkit dan menarik Frans,"Frans gawat! Kita harus pergi dari sini.


Frans masih bingung dengan ucapan Winda yang tiba-tiba,"Kenapa? Bukankah sebaiknya kita juga menemui mereka, siapa tahu saja kita bisa menggali informasi dari mereka.


"Pergi atau kau akan mati! Celoteh Winda dan membuat Frans terdiam. "Sudahlah, kau ikut denganku saja, aku akan menjelaskannya nanti padamu.


Frans dan Winda menyambar tas mereka di atas meja, mereka berjalan berlawanan arah dengan orang-orang Miracle,"Sebenarnya ada apa Tanya Frans penasaran.


Winda membalik jaketnya untuk menghilangkan identitasnya dan menghentikan langkahnya,"Mereka pasti sudah berhasil menemukan idku, dan mereka tahu jika aku adalah salah satu dari mahasiswa di Uniersitas ini, yang artinya aku adalah sasaran utamanya, mereka tidak boleh menangkapku Frans sebelum aku menemukan Gen 1993.


Winda dan Frans kembali melanjutkan langkah kaki mereka setelah Winda berhenti berbicara,"Gen 1993? Apa itu.


"Itu adalah robot ciptaan mamaku, dia menyuruhku untuk menyempurnakannya Frans.


"Keren, lalu di mana robot itu?


Winda mengangkat kedua bahunya,"Itulah yang membuatku frustasi Frans, itu sebabnya aku butuh bantuanmu.


"Bantuan apa?


"Kau tahu, kau ahli dalam melacak alamat bukan?


"Yah, kau memang benar. Lalu mana alamat yang ingin kau aku lacak?


"Aku tidak membawanya, laptop mama ada di rumah. Winda tidak melanjutkan ucapannya, lalu tiba-tiba terdengar suara tembakan dan teriakan para mahasiswa demi menghindari serangan membabi-buta dari Miracle.


"Sial! Mereka menembak warga sipil, aku harus menghentikan mereka.


Winda menghentikan Frans,"Aku tahu maksud baikmu, tapi ini bukan saatnya, kita harus ke rumahku dan mengambil laptop mamaku Frans.


"Tapi? Bagaimana dengan mereka? Apa kau tidak perduli sama sekali?


Frans kehabisakan kata-kata, dia merasa serba salah, dan dia memutuskan untuk mengikuti kemauan Winda,"Ayo kita ke rumahmu.


Frans dan Winda melanjutkan perjalanan mereka, Frans menyetir mobilnya sekencang mungkin meninggalkan kampus menuju rumah Winda. Winda seperti melupakan sesuatu, dia lalu berpikir dan teringat akan sesuatu yang penting,"Sial! Frans percepat mobilmu.


"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba panik?


"Di rumah ada nenek Frans, aku takut mereka akan membunuhnya.


"Tenanglah Winda, mereka tidak akan mungkin membunuh nenekmu yang tidak tahu apa-apa.


"Apa para mahasiswa itu tahu sesuatu? Lalu kenapa mereka tanpa belas kasih menembak satu persatu teman-teman kita Frans?


Frans memukul setir mobilnya dan menginjak gas hingga full,"Pegangan yang kuat Winda, kita akan meminjam kekuatan para pemain film Holiwood 2 Fast 2 Furious.


*****


Saat tiba di depan rumahnya Winda sadar, dia sudah sangat terlambat, Marta tidak pernah membiarkan pintu terbuka lebar, dengan langkah berat dia mencoba melangkah masuk ke dalam rumahnya, dia menemukan mayat pembantunya tergeletak bersimbah darah di anak tangga menuju kamarnya, hati Winda sakit. Jantungnya mulai memburu dan membara, dalam hatinya dia tak berhenti mengatakan. Ku mohon bertahanlah nenek, jangan pergi meninggalkanku seperti yang di lakukan papa, mama dan juga kakek. Tapi semua harapan Winda musnah seketika ketika dia mendapatkan neneknya sudah tidak bernyawa di atas tempat tidurnya, darah masih menetes dari tubuhnya, melihat itu langkah kaki Winda melontai, pandangannya mulai mengabur dan terjatuh karena tak bisa menahan kesedihannya,"Nenek! Bangunlah, kau satu-satunya keluargaku saat ini.


Frans segera menyusul Winda, dia menemukan Winda dengan posisi memeluk lututnya, Frans duduk di sampingnya, dia memegang bahu Winda pelan,"Apa kau baik-baik saja?


Winda tidak mengatakan apa-apa, wajahnya masih menunduk, ujung rambutnya bergoyang saat dia menggelengkan kepalanya.


Frans menghela napas,"Aku tahu kesedihanmu Winda, tapi aku akan mengingatkan ucapanmu padaku, waktu kita tidak banyak, kita harus menemukan Gen 1993. Secepatnya!


Winda mengangguk meski tetap dengan posisinya, dia mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk ke arah bawah ranjangnya,"Di sana ada sebuah berangkas, bukalah kata Winda.


Frans membaringkan tubuhnya dan mendorongnya masuk ke dalam kolong ranjang Winda, karena di bawah gelap, Frans menyalahkan senter ponsel miliknya, dia kini melihat jelas sebuah berangkas menempel di ranjang, dia terpaku karena kagum, Frans yakin ini adalah karya Winda,"Winda, berangkasmu meminta sandinya kata Frans cepat.


"Sari Clair jawabnya lagi.


Berangkas terbuka, Frans mengambil laptop milik Winda dan membawanya keluar, dia melakukan sesuai kemauannya, karena dia yakin jika dia berbicara dengan Winda itu hanya akan menghambat, beberapa kali Frans mengulang video rekaman ke empat milik mama Winda, tapi Frans belum menemukan titik terang.


"Apa kau sudah menemukan sesuatu tanya Winda.


"Untuk saat ini belum. Saat di menit-menit terakhir, Frans menekan tombol pause untuk menghentikan video, dia melihat cermin di atas meja memantulkan sesuatu, dia lalu memperbesar gambar itu, dan dia menemukan sebuah paket lengkap dengan alamat rumah lama Winda dulu. "Aku menemukannya.


Mendengar itu Winda mengangkat wajahnya, dia mendekati Frans,"Kamu mendapatkan alamat rumah kami?


Frans menoleh dan menatap wajah Winda,"Ya aku menemukannya, ayo kita ke sana.


Winda terdiam, dia lalu menatap Frans dengan tatapan sendu,"Apa kau mau membantuku?


Frans mengangguk pasti,"Tentu.


Winda memegang kedua tangan Frans,"Ku mohon pergilah ke sana seorang diri, aku akan menyusulmu setelah aku selesai mengurus mayat nenek dan juga bibi. Ingat bersembunyilah jika ada hal yang mencurigakan.


Frans mengangguk dan segera menuju ke rumah lama milik keluarga Winda.


*****


Tidak butuh waktu lama Frans menemukan rumah lama milik keluarga Clair. papan nama keluarganya pun masih terpasang, rumah ini masih terabaikan, garis polisi yang terlihat kusam masih terpasang di sana, tanaman merambat hampir menutupi rumah itu. Frans turun dari mobilnya, dia melangkah ke arah papan nama rumah dan menyingkirkan tanaman merambat yang menutupi papan itu, di papan itu jelas tertulis nama Clair.


Frans berpindah, dia melangkah ke depan pintu rumah Winda, dia membuka knop pintu,"Tidak terkunci?


Frans memilih untuk masuk ke dalam rumah, dia memperhatikan ke sekeliling dan menemukan stop kontak lampu,"Lampunya masih berfungsi.


Frans menghela napas berat sesaat menemukan meja kerja Mama Winda,"Aku harus mulai dari mana? Aku tidak menemukan petunjuk apapun. Ini gawat jika aku tidak bisa menemukan lab rahasia yang di maksud mama Winda.


Setelah beberapa menit berpikir, Frans menyerah dia sama sekali tidak bisa menemukan jalan menuju lab rahasia itu, dia berjalan frustasi dan memukul-mukul kepalanya ke dinding rumah Winda.


Sesuatu bergetar dari bawah, Frans ketakutan, keringat dingin mengalir di pelipisnya,"Apa pihak Miracle menyerang ke rumah ini juga? Frans teralihkan ketika lantai yang tak jauh darinya terbuka, sebuah tangga terlihat menuju ke ruang bawah tanah.