EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Bab. 9 (SURATAN TAKDIR)



"Terimah kasih Bi"


"Iya Non, sama-sama" Senyum Bibi itu begitu ramah. Ega teringat sosok mamanya. Aku rindu mama. Ma? Maafkan Ega.


Ia memegang kepalanya yang sedikit sakit. "Maaf Bi, ini saya di mana ya?"


Diam sejenak sebelum menjawab. "Rumah Tuan Muda"


"Ha!!!" mulutnya mengangga menatap heran ke arah lain. Ia kembali melanjutkan ucapannya." Tuan Muda siapa Bi? Kenapa saya bisa ada di sini?" Memegang kepala yang masih terasa sakit, ia mencoba mengingat sesuatu tapi tidak menemukan apapun di isi kepalanya.


"Itu Non. Tu-" Terhenti ketika suara pintu terbuka.


"Permisi, assalamualaikum"


"Waalaikumussalam" Finattalia sontak terbengong melihat sosok sahabatnya itu. Ia bersyukur karena Ega tidak di timpah masalah apapun. Dasar Fikri bisa-bisanya diam soal ini. Pantas saja dia terlihat begitu santai.


"Ega...maaf kami yang salah." Mata gadis itu perlahan berkaca-kaca. "Ihh! Kok sedih. Ini semua sudah takdir gua Nat" Isak tangisnya kembali pecah di dalam pelukan sahabatnya.


Tama mengkode kedua orang di sampingnya untuk mengajak keluar dari kamar. Direspon cepat oleh mereka dengan anggukan perlahan.


"Nat. Gua sudah ikhlas dengan kepergian Fizri. Allah lebih mencintainya daripada gua." Ia memaksa dirinya untuk tersenyum disela tangisnya yang deras. Ia kembali memeluk erat gadis itu.


"Maaf. " Ia kembali mengulang kata maaf, meski kata itu tidak dapat mengubah yang sudah terjadi. Anggaplah sebuah pelajaran untuk kedepannya.


"Fikri tak salah Ga...tapi-, gua yang memaksanya untuk bungkam dengan pemersalahan ini" Ia menatap gadis di hadapannya itu dengan raut wajah bersalah.


"Sudahlah...kita lebih baik berdoa untuk arwah Fizri semoga tenang di alam sana." Mereka membentang kedua tangan ke atas langit sambil membaca doa-doa pendek. Aamiin!


......................


Lain halnya diluar sana. Fikri dan Tama berbincang seolah mereka ialah kakak beradik yang hilang kontak. Bertemu setelah beberapa sekian lama, akhirnya bisa di pertemukan kembali.


"Bang. Mantap sekarang sudah hidup serba mewah, tapi tetap aja tampil sederhana beriwibawa lagi" Menatap kagum kearah Tama.


"Allhamdulillah" Ia kembali menatap serius Fikri.


"Bang, kapan-kapan nongkrong bareng lagi yuk!"


"In shaa Allah. Kamu tidak jadi kuliah di ditempat Universitas abang?" Sambil menseruput cuppucino di tangannya.


"Hem. Sepertinya tidak jadi bang, Ayah dapat pekerjaan dari luar kota soalnya, jadi kami terpaksa ikut pindah juga ke sana" Balas Fikri.


Pukul 21.30 WIB. Waktu berlalu begitu saja, banyak hal yang sudah terjadi hari ini. Dua gadis muncul dari balik kamar minimalis Tama. Meski terlihat sederhana tapi mampu membuat ketenangan bagi siapa saja yang berada di dalam sana. Finattalia membopang tubuh sahabatnya yang masih terlihat lemas. Mereka berjalan perlahan ke arah kedua laki-laki dihadapan yang kini terlihat masih sibuk berbincang dengan puas sesekali mereka tertawa lepas.


"Fik-Fikri. Pulang yuk! Uda malam. Takut di cariin bunda sama ibu Fhirmasari, mama Ega?"


Fikri mempercepat menseruput coffe latte di tangannya. Kan terlalu sayang kalau tidak dihabisin minuman seenak ini seperti hasil karya barista cafe yang berkelas. Hahaha!


"Bang kami permisi, terimah kasih banget! Uda nyelamatin pujaan hati gua, ehehhe," terkekeh pelan sambil meledek. "sama coffe latte-nya. Enak." Membersihkan sisa coffe latte di bibirnya.


"Fikri, malu-maluin-aja ahh!" Tegur Finattalia, mencubit pelan laki-laki itu


"Auhh. Sakit..." Memegangi tangannya yang di ciptakan oleh Finattalia.


Ega dan Tama terkekeh pelan melihat tingkah mereka berdua. Ia sedikit tersenyum ke arah Ega.


Tersenyum adalah gaya khasnya sebelum berbicara. "Iya. Hati-hati pulangnya"


"Siap bang!"


Ega melirik sekilas dengan senyuman meski raut wajah yang sedikit memelas. "Terimah kasih Kak"


"Iya hati-hati."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang mereka menerobos malam yang semakin larut. Mereka sudah berjanji mengatar Ega dengan selamat sampai di rumahnya.


Disambut ramah oleh mama Ega. Fikri yang kini sudah mematung dengan tatapan kosong. Ia takut kena introgasi dari calon mertuanya itu. Ha! Calon mertua ternyata halu Fikri tidak kalah jauh dari Fizri ya? Hahaha!


Menelan saliva dengan kasar. "Se-semuanya bu"


"Iya"


"Bu kami pamit dulu ya, besok Finattlia datang ke sini lagi"


"Iya. Hati-hati di jalan"


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


"Ga...masuk yuk."


"Iya ma."


...----------------...


"Kehilangan yang menyakitkan adalah KEMATIAN."


_FIRZAHRA EGA


^^^"Maaf. Aku hanya bisa berjanji mencintaimu selamanya. Tapi, tidak untuk bersama selamanya."^^^


^^^_FIZRILLDINO ABIL^^^


^^^"Tiada hidup yang sia-sia, semua pasti ada HIKMAH dibaliknya."^^^


^^^_FIKRIANSYAH ANDIL^^^


...----------------...


Sudah satu minggu berlalu setelah kelulusan. Banyak hal yang sudah terjadi didalam hidupnya. Kesedihan yang serasa mencekit, kehilangan yang berakhir menyakitkan. Tapi, mentari dan pelangi hadir memberi warna yang indah, kini hujan tidak menemani kesedihannya lagi. Ega menutup mata, menikmati hembusan angin dipipinya. Ia sudah duduk di taman kurang lebih setangah jam. Sedari tadi, ia hanya berdoa untuk seseorang yang masih memiliki kenangan kuat di dalam hatinya.


Tangan Ega perlahan naik mengusap lembut matanya. "Terimah kasih atas kenangan yang singkat ini Fizri"


"Jangan dulu Ega, ingat! kalo lo mati nggak ada lagi loh. Yang dibucinin si Fizri, kan kasian juga sama dia, lagian loh nih dasar manusia jutek"


Ucapan Finattalia benar. Aku yang bodoh telah menyia-nyiakan sosok Fizri selama ini.


Sadar... setelah kepergian sosok yang dicintai. Ternyata lebih menyakitkan ya?


Kenapa...? Harus telat jatuh cintanya sih?


Cinta ini kemana aja sih?


Takdir hanya mempertemukan kita ya? Bukan untuk mempersatukan.


Ega merenung cukup lama, tatapannya terpaku pada satu kupu-kupu yang hinggap di di taman bunga. Gadis itu tersenyum di antara linangan air matanya. Gemuruh guntur semakin jelas terdengar bersahutan-sahutan. Satu persatu tetesan air jatuh dari langit. Tangisnya kembali pecah. Ketika mengingat kenangan bersama Fizri.


Sekali lagi hujan turun kembali menamani kesedihannya. Ia membiarkan tubuhnya. Basah di guyur hujan di sore hari itu, ia menikmatinya. Ega melepaskan kenangannya bersama setiap tetesan air hujan yang membasahi tubuhnya.


"Sekali lagi terimah kasih" Lirihnya.


Ega perlahan bangkit dari tempat duduknya. Kepala mengadah keatas, menikmati setiap tetes air hujan yang mengenai tubuhnya. Ia membiarkan air matanya meluruh bersamaan dengar air hujan.


"Terimah kasih telah mengajarkan aku arti cinta sejati. Fizri I LOVE YOU. I'M SO SORRY!" Ia melapaskan semua rasa sakit yang terpendam sampai suaranya hilang di derasnya deru hujan.


Janji ini terakhirnya kali aku bersedih!


"Ikhlas adalah kata TERAKHIRKU"


"Hai! Sayang...jaga baik-baik dirimu ya?" Suaranya begitu jelas tertangkap ditelingaku. Meski di antara deru derasnya hujan. Hujan kini perlahan menghentikan aktivitasnya. Sinar orange perlahan memunculkan wajahnya. Senyumnya merekah bersamaan sinar senja. Kini hidupnya sudah berada ditahap kedamaian. Tanpa melupakan sosok itu di dalam hatinya.


"Sekali lagi terimah kasih Fizri" Berbisik di antara angin yang kini sedang meniup dedaunan kering.