EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Eps. 26 (DIA SEDARAH)



"Yangg...kita jadi pulang ke sana" sambil memakaikan baju anak laki-laki bertubuh gempal itu, "sebaiknya kita temui dia, aku benar-benar khawatir?" Lanjutnya.


"Iya! Jika kamu merasa sedikit terganggu dengan mimpi itu...!" Balasnya sambil merapikan kera baju di depan pantulan cermin.


Menarik nafas perlahan."Baiklah, minggu depan kita pulang, lagian anak sekolah sudah libur akhir semester." Dibalas dengan anggukan oleh suaminya, sebelum ia pamit pergi ke kantor.


......................


Mereka berdua masih tenggelam dalam lorong kesedihan, air mata tak henti mengalir. Hari istimewa ini seharusnya tercipta kebahagian baru bukan larut dalam kesedihan seperti ini. Beberapa menit berlalu mereka berdua menyudahi kesedihan yang tak seharus di ciptakan sebelumnya.


Dengan tubuh tegap, lelaki berstelan jas hitam kontras dengan tema hari ini. Ia berjalan beriringan dengan putri kesayangannya. Bagaikan kisah bak kerajaan seorang raja melepaskan seorang putri, sosok paruh baya di samping gadis berusaha tenang dan tegas, begitu pula dengan Fhira yang kini telah berbalutan baju pengantin berkerah V yang sedikit memperlihatkan tubuh putihnya. Banyak sepasang mata menatap kagum ke arah mereka, bagaimana tidak, tubuh paruh baya itu masih saja terlihat muda dan tampan meski usianya tak lagi muda. Wajah cantik anaknya pastilah keturunan dari papanya.


Sambutan dari MC mempersilahkan para tamu untuk memakan santapan lezat diatas meja yang telah di sediakan, para pelayan juga tak henti memberi jamuan-jamuan lezat, dari pembuka hingga penutup.


"Untuk Baraa Arfantara, kini aku serahkan anakku padamu...tolong jagalah dia sepenuh jiwa dan ragamu," menarik nafas ia berusaha menahan cairan bening yang hampir saja meluruh "sayangi Fhira, aku memohan kepadamu jangan pernah sakiti dia, aku sungguh menyayangi anakku satu-satunya ini. Harta terindah yang pernah di kasih oleh istriku sampai saat ini aku begitu menjaganya sampai dia berada di dalam genggaman tangamu."


Dengan tegas, "Pa, aku berjanji sampai akhir hayatku, putrimu akan ku juga sampai perujung nafas terakhirku."


Para tamu, menatap rasa kagum terhadap kedua lelaki yang kini berada di atas pelaminan yang bertema kemewahan itu.


"Pa...!" Gadis itu memeluk erat Papanya dengan air mata yang tak bisa di hentikan lagi.


"Pa, maafkan Fhira jika selama ini belum bisa memberi apa-apa dan membuat Papa bangga" Penuturan dari anaknya membuat matanya kini mulai perlahan berkaca-kaca.


"Sayang! Papa tidak menginginkan apapun lagi, bagi papa kebahagianmu adalah kebanggan bagi Papa." Ia mengecup lama kening gadis cantik di hadapannya.


Baraa menatap lama istrinya, sejenak ia berfikir ternyata dia gadis yang baik dan rapuh. Selama ini dia hanya tersenyum di balik topeng penderitaannya, selama ini tidak pernah melihat air mata gadis itu mengalir sederas hari ini.


"Sayangg...aku berjanji, sampai akhir nafasku. Aku akan tetap berada di sampingmu" Baraa mencium tangan istrinya penuh dengan ketulusan.


Ega mematung, ia berusaha mengingat sesuatu di masa lalunya. Sepertinya aku begitu mengenalkan? Siapakah dia, sosok itu tidak asing. Dia...Baraa.


"Baraa yang di maksud adalah Baraa itu kak?" Ucap Ega, ia benar-benar terkejut. Ternyata dia adalah Bara Arfantara, mereka sudah lama tidak bertemu mereka berpisah semenjak di bangku SD, saat itu masih awal kejayaan orang tuanya yang terpaksa mengelolah beberapa usaha di wilayah indonesia maupun luar negeri. Hingga pada akhirnya pamannya itu memilih untuk menetap di luar negeri.


"Kok diam..." Tama sedikit mengerutkan kening, ia menatap heran istrinya semenjak dari tadi dia hanya menatap kedua mempelai di atas pelaminan.


"Yangg..." Tegur Tama.


"Hem...!" Tanpa menoleh ke arah suaminya. Sehingga membuat Tama merasa jangkel, tanpa sadar ia telah membuat cemburu suaminya.


"Dia tampan bukan?" Dibalas dingin "Iya..."


"Kita pulang sekarang!"


Semarah inikah dia?


"Tapi..." Sebuah tangan menariknya kasar.


"Kamu cemburu?" Ega terkekeh pelan menatap wajah Tama yang kini terbakar api cemburu. Tanpa di gubris Tama, ia lebih memilih membuang muka.


"Benar, tidak ada maksud lainkan" Memastikan.


"Iya sayangg...,cinta aku cuman untuk kamu seorang" Ega tersenyum tulus, sedikit menggoda suaminya. Tama membuang muka, karena dia tahu wajahnya kini tak lebih dari kepiting rebus, ia tersenyum-senyum tanpa sepengetahuan Ega.


"Hem...!" Wajah itu seketika muncul di hadapannya. "Cie..ciee...malu nih ye! suami aku" Ega tersenyum meledek tanpa sadar banyak sepasang mata melihat tingkah lakunya.


"Ck.."


"Egaa...liat!" Mata Tama berputar memberi kode ke istrinya yang konyol itu. Ega membalas dengan mengangkat bahu, ia tidak paham apa yang dikatakan Tama.


Sebuah tangan merengkul pinggangnya yang kini perlahan berisi. Akhir-akhir ini nafsu makan Ega perlahan bertambah, kerena selalu disuguhkan makanan yang enak dan sehat pastinya.


Ega menatap dengan wajah kebingunan. Mereka berjalan di atas karpet merah untuk memberi selamat kepada kedua mempelai. Kedatangan mereka tidak di sambut ramah oleh pengantin wanita. Ada rasa benci, dendam, dan amarah yang ia tujukan, wajah sinis yang terlontar menjadi bukti akan hal itu.


Baraa menatap ke arah Ega sedikit lama, ia mengemati dengan teliti. Wajah ini tak asing siapa dia?


"Ini aku Baraa, Ega... adek sepupu kesayanganmu" Batin Ega, ia bingung memulai dari mana, disisi lain ada Fhira yang dari awal menatapnya dengan wajah cemburu.


Bahkan seorang Tama yang sudah mengetahui ikatan persaudaraan dengannya saja masih ada rasa cemburu terhadap sepupu istrinya itu. Apalagi seorang Fhira, rasanya kemungkinan kecil untuk tidak merasakan hal tersebut. Tangan Ega baru saja hendak memberi selamat kepada Fhira. Fhira yang sudah terlanjur termakan api cemburu berpura-pura memperbaiki gaun yang sama sekali tidak berantakan. Ega tersenyum, ia paham kenapa gadis itu semakin membencinya.


......................


Seorang anak laki-laki bertubuh gempal berlari kegirangan. Hari ini ia sangat bahagia karena mendapatkan penghargaan berupa bintang kecil melekat di dadanya. Ia dengan bangga berjalan ke arah kedua orang tuanya, yang belum menyadari, karena kesibukan masing-masing.


Pasti mereka senang?


"Ma...Paa...! Assalamualaikum..." Ucapnya, melepas sepatu lalu meletakkan tasnya di atas meja tamu,


"Ma...Pa. Liat ini apa?" Menunjukkan diri.


"Wahhh...! Congrastulation Sayang Mama, ummuachh..." Ega tak henti mencium pipi, sekali-kali memeluk gemas anaknya.


"Kado...!" Ia duduk di antara kedua orang tuanya.


Tangannya sibuk membuka bungkusan yang lumayan besar di hadapannya. Anak kecil itu menganga, matanya terpaku dengan isi kontak tersebut. Air mata haru mengalir dengan tulus. Mereka sebagai orang tua memahami isi hati anaknya. Meski mereka jarang pergi bersama karena kesibukan kedua orang tuanya terutama Papanya. Meski demikian, mereka tidak pernah membiarkan anaknya merasa kesepian dan kehilangan kasih sayang sedikit pun.


"Pa..terimah kasih, Agam Suka, suka banget...!" Ia memeluk erat tubuh ayahnya. Dalam hati selalu bersyukur atas kenikmatan dan kebahagian yang selalu ia rasakan.


Yaa...Allah...terimah kasih, aku sayang Mama dan Papa.


Mereka bertiga tenggelam dalam pelukan hangat. berdoa dalam hati atas syukur kelimpahan rezeki yang di beri Sang Maha Kuasa.


"Yaa...Allah, Yaa Rabb... lindungilah keluarga kecil hamba dari marabahaya, karena kebencian dunia sangatlah mematikan dan berbisa bahkan melebihi bisa ular sekalipun" Perempuan berdaster rumahan ini berdoa dalam hati dengan begitu tulus.


Sebagai CEO yang sukses di usia muda. Sehingga banyak yang menjadi lawan bisnis suaminya, dari pengusaha menengah hingga ke mafia-mafia kelas kakap. Kini usaha sudah berada di puncak dan meraih banyak kerja sama antar luar kota maupun luar negeri.