EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Bab. 12 (GADIS KE-22 IKATAN SUCI)



Ega terbangun dari tidurnya ia tertidur saat dirias, ini pertama kali wajahnya dipoles make up tebal, ketika jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi hari. Tiga puluh menit lagi akan diadadakan akad nikah gadis ini. Waktu begitu cepat berlalu. Ia merasa baru tidur beberapa menit yang lalu. Rasanya baru kemarin keluarganya menerima lamaran dari keluarga Tama. Hari ini, tinggal menghitung beberapa menit lagi dia akan sah menjadi istri orang di usianya yang masih muda.


Ega menarik nafas dalam-dalam sebelum berenjak dari atas tempat tidurnya. Sudah saatnya gadis ini bermunajat kepada Sang Pemilik Semesta. Meminta dengan hati ikhlas agar masa lalu di hapus dan diganti dengan kisah yang baru. Yaa... Allah permudahkanlah!


Kisah seorang calon pengantin yang memiliki paras cantik, menjaga sholatnya dan memiliki etika yang baik. Namun satu hal yang kurang dia belum terbiasa memakai, pakaian muslimah seperti menggunakan gamis yang berbaur syar'i seperti yang sedang saat ini dia pakai.


Setelah setangah jam berlalu akhirnya Ega sudah tampil cantik dengan gaun pengantin syar'i. Wajah dibalik cadar itu benar Maa Sha Allah! Berulang kali periasnya memuji Ega, yang sedang berhadapan dengan Ega, dari pantulan di cermin wajahnya terlihat tersenyum tulus.


"Terimah kasih Kak, ini berkat tangan Kakak yang ahli."


Tepat pukul delapan pagi, rumah keluarga mempelai wanita mulai berdatangan tamu satu persatu. Banyak tamu yang datang dari berbagai wilayah. Rombongan keluarga besar Firmantara Tama kini sudah menjalani prosesi adat istiadat sebelum memasuki rumah mempelai. Satu persatu saling sapa dengan warga sekitar maupun luar wilayah itu. Para saksi dan keluarga masing-masing mempelai sudah mengambil posisinya.


Tidak lama, terdengar penghulu mulai menanyakan kesiapan para saksi dan Tama sebelum akhirnya janji itu terucap begitu lantang.


"Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka Firzahra Ega binti Farikshan Pratama alal mahri mushaf alquran wa alaatil'ibadah haalan," Wali Hakim mengucapkan kalimat ijab itu sambil menjabat tangan Tama mantap.


Apakah ini Ega yang sama? Tak mungkin, inj hanya kebetulan sama!


Tama bergegas menimpali, "Qobiltu nikaahahaa wa tazwiijahaa bil mahril madz-kuur wa radhiitu bihi wallahu waliyut taufiq." Suaranya begitu lantang dan mantap.


Suara siapa ini kenapa seolah aku pernah mendengarnya? Mampukan aku mencintai sosok yang tak kukenali sama sekali. Apakah dia akan bahagia bersamaku? Batinnya bertanya.


Lantas ketika sang penghulu menanyakan kesahan ijab, para saksi dan tamu serentak menjawab sah. Menandakan mereka telah sah menjadi sepasang suami istri. Di dalam kamar, Ega tak dapat menahan isak tangisnya, ia memeluk erat mamanya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


Jantung gadis itu kini berdetak kencang saat suara handel pintu terbuka. Ucapan salam terdengar menandakan sosok itu telah memasuki kamarnya. Gadis itu menjawab salam sangat pelan. Kepalanya masih tertunduk dalam, ia tidak mampu menatap wajah suaminya. Siapakah gadis ini wajahnya begitu tidak asing? Pernikahan ini berlangsung tanpa saling mengenal.


Adat turun temurun dilakukan sebelum melanjutkan resepsi pernikahannya. Adat 'Mappisikerawa' dalam istilah bahasa bugis dapat diartikan ke bahasa indonesia bersentuhan. Mappasikarawa / Mappasiluka setelah akad nikah, mempelai pria dituntun menuju kamar mempelai wanita untuk melakukan sentuhan pertama. Bagi suku Bugis, sentuhan pertama mempelai pria memegang peran penting dalam keberhasilan kehidupan rumah tangga pengantin. Proses persentuhan pria dan wanita dalam ikatan sah sebagai suami istri. Prosesi ini juga dikenal sebagai tanda “batal wudhu”. Orang yang melakukan kegiatan mappasikarawa ini adalah orang-orang panutan atau pilihan di dalam masyarakat.


Sentuhan yang dirasakan Ega mampu membuat aliran darahnya membeku. Tatapan sedikit kaku, sehingga lebih memilih selalu menunduk daripada melihat wajah tampan sang suami. Ega kamu bakal menyesal jika tidak mendongak. Suamimu begitu tampan dengan pakaian adat. Senyumnya merekah! Dibalik senyumnya ada perasaan yang ia tutupi. Perasaan itu begitu dalam.


......................


Ega berdiri kikuk di samping suaminya. Sejak kembali berada di atas pelaminan, tangannya sesekali merangkul tubuhnya. Hal itu tentu membuat Ega tidak nyaman, namun ia tidak mungkin menolak secara terang-terangan di depan para tamu undangan yang kini silih berganti memberi ucapakan kepada kedua mempelai.


"Terimah kasih telah menjadi Gadis ke 22 dihari ulang tahunku ke-22 tahun," ia menatap lembut gadis itu. Tama menggenggam tangan Ega dengan lembut,


"semoga kamu menjadi yang terakhir dalam hidupku."


Perlahan Ega mendongakkan wajahnya. Deg! Bagaikan petir di siang bolong, begitulah perasaannya saa ini.


Apa! Kak Tama adalah suamiku? Bagaimana ini bisa?


Dan apa maksudnya gadis ke 22 dihari ulang tahunnya? Banyak pertanyaan yang ingin dia sampaikan kepada sosok itu yang kini sudah menjadi suaminya.


Rasanya begitu singkat, baru saja beberapa hari yang lalu dipertemukan. Kini mereka sudah menikah.


Apakah dia tidak mengenalku?


Apa alasan Kak Tama meminta calon istrinya memakai cadar?


Pertanyaan bertubi-tubi muncul di dalam isi kepalanya.


Banyak tamu memuji kedua pasangan ini terlihat begitu serasi bak raja dan ratu. Dan sebagian menjuluti. "Pengantin perempuannya kok sok-sok bercadar sih!" Ucap Ibu-ibu gang rumpi. Sambung Ibu lainnya. "Tongeng, dalam arti bahasa indonesia benar" Beberapa tatapan sinis, tapi tak kalah jauh oleh dari rasa kekaguman tamu yang lain.


Acara resepsi sudah selesai kini sepasang pasutri itu sudah berada di sebuah kamar yang dihias sedemikian rupa agar terlihat khas pengantin barunya. Terlihat kecanggungan di antara mereka. Mau itu Tama atau pun Ega. Di mana sosok Tama yang aku kenal agresif tempo hari? Kenapa dia terlihat sedikit berbeda. Apa karena dia tidak tahu ada aku yang di balik cadar ini?


"Hem-" Laki-laki itu perlahan mendekat ke arah Ega itu.


"Bolehkan saya membuka cadarmu" Ia meminta persetujuan gadis itu sebelum membukannya. Dibalas dengan anggukan perlahan dari gadis itu.


Tangannya perlahan membuka cadar. Yang saat ini dia tidak tahu siapa gadis dibalik cadar ini. Tama aku melihat kelembutan dan kebaikkan dalam dirimu. Panggilan begitu lembut dan mempu membuatku jatuh cinta. Deg! Jantung laki-laki itu berdebar begitu kencang ketika melihat sosok di balik cadar, wajah yang tertutup sedari tadi.


Sontak. "Kamu!" Wajah begitu samrigah melihat Ega begitu cantik. Untung dia memakai cadar kalau tidak dia bakal dipandang orang banyak. Ahh!


Apa ini,aku cemburu kah?


Sejak kapan! Perasaan ini timbul?


Ega menundukkan wajah. Ia menggigit perlahan bagian bawah bibirnya, menahan rasa sesak yang menghantam dadanya. Perlahan melangkah mundur saat Tama perlahan menyentuh kedua bahunya.


Ma...aku takut?


Apa-apan kamu Ega dia suamimu! halal baginya menyentuh, ahh!


Ega spontan berdiri dari atas kasur. Ia perlahan menjauh namun langkahnya terhenti saat Tama melingkarkan tangan di pinggangnya. "Ega. Aku tidak tahu kita bakal disatukan lewat tali suci ini"


Ia menundukkan wajah hingga sejajar dengan wajah gadis manis dihadapannya. Hembusan nafas mereka bertemu, kedua tangannya kini pindah di sebelah pipi Ega.


Dia mau apa?


Apa Tama mau mencium yang sempat tertunda beberapa hari yang lalu?


Tidak! Aku harus pura-pura ke wc. Akal bulusnya demi menghindar dari suaminya itu.


"A-a-aku! Mau ke wc." Telihat jelas di wajah laki-laki itu dia sedang meledek Ega.


"Baru disentuh uda main kebelet aja! Apalagi kalau aku minta itu" Dipotong cepat. "Minta apa jangan macam-macam? Aku teriak!" Ancam gadis itu.


Terkekeh pelan melihat tingkah istri kecilnya itu. Ia menarik pelan tangan Ega.


Cup!


Ciuman pertama dengan penuh kasih sayang.


Sebuah kecupan mendarat di dahi gadis itu yang kini telah di basahi keringat. Ternyata cuman kecupan dikening. Ega merasa lega, menelan saliva sambil mematung dihadapan suaminya.


Tama tersenyum, tangan kirinya sekilas membelai lembut pucuk kepala Ega. "Tenang saja. Aku tidak meminta sebelum kamu siap" Senyuman diwajahnya memperlihat lubang kembar dipipinya.


"Te-terimah kasih kasih" Imbuhnya sedikit terbata-bata.


Yaa...Allah apakah aku termasuk istri menzolimi seorang suami yang baru saja menikahiku?