
Dengan langkah pelan, ia mencari P3K di nakas meja ruang tamu. Tangis yang sempat redah kini kembali pecah, sungguh ruangan tamu ini kembali mengingatkan awal dimana ia datang. Banyak kenangan keromantisan ia dapat rasakan, perlahan Ega menutup mata membuka kembali pintu memorinya.
"Masih sakit..." Aku yang sakit tapi dia yang seolah merasakannya.
"Tidak, goresan sedikit cuman" Terkekeh pelan.
"Cuman katamu, ini bisa infeksi kalau tidak segera diobati"
"Aku sudah terbiasa dapat hadiah seperti ini. Waktu aku masih di bangku sekolah, sering jatuh dari motor hehehhe. Malah lebih parah dari ini"
Menceritakan dengan santai seolah itu pengalaman yang paling menarik, Tama bergeleng-geleng kepala melihat aksi istrinya itu. Apa dia tidak sayang dengan kulit putihnya yang mulus ini?
"Sekarang tidak boleh lagi naik motor. Kita naik mobil!" Pintanya dengan tegas.
"Ba-ba-baiklah Kak" Terbata-bata.
"Kapan kita kuliah Kak. Aku bosan di rumah?" Mengalihkan keadaan.
"Seminggu lagi."
"Haa. Seminggu lagi, apa tidak terlalu lama?" Ega menganga, wajah terkejut itu membuat Tama terkekeh.
Senyuman tidak tulus, aku yakin ada maksud lain dari senyuman itu. "Kekamar yuk!" Tepat seperti apa yang telah di duga Ega.
"Baru juga jam 8 malam, beri aku sedikit waktu untuk menonton serial flim kesukaan aku, masih tayang nih!" Cetus Ega. Lebih tepatnya dia ngeles agar bisa menghindar.
"Tidak boleh, harus sekarang sayang...ada yang lebih penting dari hanya sekedar nonton flim." Wajahnya mendekat lalu mengempaskan tubuh Ega di atas sofa yang berada di ruang tamu.
"Kak nanti di liat orang aku malu..."
"Haii-Sayang, kamu lupa di rumah ini cuman ada kita berdua, pak supir datang hanya untuk ngantar pesanan Ayah aja"
"Haa! Apa?"
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di kening. Ega mematung di hadapan suaminya.
"Aku mencintamu," bisiknya lembut.
"Apa aku...boleh...meminta hakku sekarang juga?" Tatapannya begitu memelas. Rasa kasihan Ega akhirnya meruntuhkan egonya, "b-bo-boleh" sambungnya. Bissmillah! Ega menyakinkan hatinya untuk menyerahkan apa sudah menjadi kewajibannnya.
"Benar...serius!" Ia kembali menyakinkan Ega, meski sedikit tersengal.
Perlahan ia mengangguk, melihat senyum yang begitu terlihat bahagia di wajah tampan suaminya. Sehingga Ega tidak mungkin menolak lagi. Dengan semangat ia menggendong tubuh istrinya menuju ke kamar yang ada di lantai 2.
Malam itu berjalan sebagai mana semestinya. Mereka membaca doa sebelum melaksanakan tugas masing-masing. Sudah di puncak yang begitu dingin, suara rintikan hujan di luar sana benar-benar mendukung sepasang muda ini.
"*Terimah kasih, sayang. Untuk malam ini" Tama mendekap tubuh Ega. Mencium lama dikeningnya.
"Aku yakin malam ini akan menjadi awal kebahagian kita*"
"Awwh..!" Lirihnya Ega. Bekas goresan tanpa sengaja di sentuh Tama. Ia panik sehingga lebih memilih memakai bathrobe untuk mengambil P3K di sudut kamar.
"Maaf...aku mengecewakanmu?"
"It's ok! Sayang. Kita bisa memulainya di lain hari" Raut di wajah tidak dapat membohongi kalau saat ini dia begitu kecewa. Tapi, dia lebih memilih mementingkan istrinya yang terluka saat ini.
"Terimah kasih." Sebuah kecupan sekilas mendarat di bibir Tama.
Tama berusaha tenang ia memposisikan tubuh istri sambil menyelimut Ega.
"Good night sayang."
Cup!
Kecupan selamat tidur.
......................
Seluruh tubuhnya terasa begitu sakit, terutama hatinya, impian yang baru saja di mulai kini kembali diterpah cobaan begitu dalam. Kini Ega hanya mampu menguatkan diri dengan sedikit keluhan terhadap Tuhannya semoga beban perlahan dibebaskan.
Ega terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi. Seulas senyuman menghiasi wajah pucat Ega. Beberapa hari ini semenjak suaminya pulang dari rumah sakit. Ia tidak pernah di perlakukan seperti seorang istri. Belum lagi saat Tama mengalami kecelakaan, berkabung saat kehilangan kakak iparnya. Sehingga terlihat sedikit lekukan tulang di bagian dada.
Sampai kapan ini berakhir?
Maaf...aku hanya bisa mengelu daripada bersabar!
Kalimat ini sudah sering ia ucapkan. Ega beranjak dari atas kasur. Berjalan perlahan sambil menguatkan tubuhnya yang kini perlahan melemah, nafsu makannnya berkurang. Usai membersihkan diri dan berwudhu, ia bersiap melaksanakan sholat malam. Di dalam keheningan malam itu, dia bersujud, berbisik kepada bumi di dengar oleh langit.
Di dalam sujud isak tangisnya kembali pecah.
"Yaa...Allah, semua ini terjadi atas kehendakmu. Beri hamba ketabahan untuk menjalani ini semua. Jangan biarkan hamba terpuruk dalam kegundahan hati. Kuatkan iman dan ragaku, tiada tampat sebaik-sebaiknya meminta selain kepada Engkau-Yang Maha Kuasa pencipta sesisi alam. Yaa...Allah sembuhkan suami hamba, angkatlah penyakitnya, kembalikan ingatan. Maafkan hamba selama ini tidak bisa menjadi istri yang baik buatnya."
Ini sangat menyakitkan. Dan sungguh, rasa sakit ini begitu menghantam ulu hati. Kita satu atap tapi tidak saling menatap. Kenapa dia hadir membawa kebencian. Ingatannya pergi bersama kebahagian itu. Maaf...?
"Kenapa aku melalui ini semua?"
"Kapan ini berakhir aku lelah Tuhan?"
"Sampai kapan aku bertahan?"
"Tuhan tak adil kepadaku...,hikshikss!" Setetes cairan bening meluncur tanpa permisi, untuk kesekian kalinya Ega merutuki dirinya sendiri. Kalimat ini sudah terlalu sering di utarakan sehingga menjadi melayang-melayang di dalam pikiran.
Hanya saja, dilain waktu terkadang titik-titik itu menjadi buram begitu saja. Berhenti memaki keadaan, tiada cobaan diberi dari keluar kemampuan hambanya, setiap kesulitan yang diberikan oleh Allah kepada kita pasti ada hikmah di baliknya. Mungkin selama ini kita terlalu mencintai duniawi sehingga membuat kita lalai akan kewajiban, Allah cemburu sehingga memberi kita sebuah musibah, agar kita kembali mengadu kepadanya.
Sebuah buku motivasi karya Alfi Syahri Ramadhan membuatku kembali mengingat bait-baik kalimat yang tidak terlalu panjang tapi mampu menyadarku.
"Kadang kita memang perlu menangis, bukan untuk menumpahkan kesedihan, tapi agar hati bisa memandang segala sesuatu dengan lebih jernih."
......................
"Pagi Kak, hari ini bisa saya ikut bersama ke kampus?" Ucapnya pelan, sedikit gugup ia menatap perlahan ke wajah suaminya.
"Tidak," Dinginnya, "kan ada pak supir, buat apa dia disini kalau tidak mau dipakai!" Herdik Tama sebelum berlalu begitu saja dari hadapan Ega, tanpa peduli betapa kecewanya saat ini.
"Tapi kan pak supir cu-" Diam sejenak, pada akhirnya dia memilih mengalah.
"Ba-ba-baiklah Kak, hati-hati, waalaikumussalam" Tanpa balasan apapun dari Tama, pergi begitu saja dengan kecepatan yang tinggi.
Triingg...
"Iya. Waalaikumussalam, tidak Fha." Ega membuang nafas kasar.
"Cie,ciee...cihuii...chucuwi..." Sindirnya. "Biasalah pengantin baru."
"Heheh. Kamu ini ada-ada aja." Berusaha sebisa mungkin menetralkan, agar isak tangisnya tidak pecah.
"Ga...turut berbela sungkawa atas kematian Ibu Rosi. Maaf belum sempat ke sana jenguk. Ehm! Lebih tepatnya gak tau jalan hehee"
"Iya Fha terimah kasih." Balas seadanya.
"Kemarin pas acara yasinan di rumah mertuamu gak datang ya?" Imbuh seorang beda lokasi.
"Tidak. Kak Tama saat itu masih koma di rumah sakit"
"Kak Tama Ga?"
"Kak Tama di dalam kenapa Fha." Ucap Ega pelan, sesekali menarik nafas paksa.
"Tidak. Bukan itu maksudku?" Ia menangkap seseorang di seberang sana."Tidak. Aku tak bisa! Hm maksudku, keadaan Kak Tama gimana? Pasti dia masih syok"
"Kak Tama Amesia Fha hiks hiks..." Akhirnya tetes demi tetes air mata membesahi pipinya yang kini sedikit kurus dan memucat.
"APA. AMESIA?" Fhafa berucap getir seakan tidak percaya "bagaimana bisa?" Ia kembali melanjutkan ucapannya. "Maaf!" Lirihnya.
"Kak Tama kecelakaan, dia pergi dari rumah sakit mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Dia merasa terpukul dengan kematian Kak Rosi?"
"Kok aku tidak ada tahu berita itu. Aku ke sana sekarang serlok Ega!"
"Tak perlu di sini ada Kak Tama, aku baik-baik saja kok" Kembali berkata bohong.
Tuttutututt...
Telpon terputus
"Haloo...hallo-"
"Bagaimana ini? jika dia datang pasti dia tahu apa sedang terjadi di sini?" Ega menghampaskan tubuhnya di atas sofa.
Dalam keadaan cemas Ega mengirim lokasinya lewat via whatsApp. Tangan Ega menyentuh permukaan dadanya. Perasaan gugup ia rasakan, bagaiman iya menjelaskan. Uhh! Dasar Fhafa aku rindu Finattalia. Mereka sosok yang sama tapi wajah yang berbeda, bahkan tidak memiliki ikatan darah sama sekali. Saling mengenal pun tidak.