EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Eps. 29 (POSITIVE PART END)



Keesokan harinya, Tama dan Ega bangun kesiangan, padahal rencana awal, ingin pergi pagi agar mereka dapat menikmati udara segar di penggunungan.


Ega merasa kesal dengan suaminya sendiri selalu saja tidak menepati janji. Tama menunda kepergian yang telah di tentukan bukan karena tanpa sebab. Saat ini musim hujan, apalagi setiap sore hari pasti selalu hujan. Kondisi seperti saat ini membuat jalan licin dan berbahaya.


Apa boleh buat, Ega tidak berdaya, mau protes pun percuma saja, maka terpaksalah dia kemasi barang bawaanya. Pakaian tambahan, sabun, odol, sikat gigi dan terakhir sebuah boneka boba kesukaannya.


"Uda?" Tanya Tama yang sudah menunggunya di ambang pintu. Ega pun menganggukkan kepala dan mengikuti Tama.


"Mau pindahan bu?" Sindir Tama, ia terkekeh melihat reaksi Ega memenyunkan bibir dengan raut wajah jengkel.


Pandangan mata yang tertuju sepenuhnya pada mobil tersebut, Ega melihat sebuah mobil terpakir di halaman rumah, ia menganga. Ini bukan mobil kita.


"Kak, itu mobil siapa?" Bisik Ega, matanya tetap meneliti keberadaan mobil mewah itu.


"Mobil kita" Balas Tama, tersenyum.


"Ck, mobil kita?" menelan saliva,


"Iya sayang, hadiah ini dari papa untuk cucunya"


"Ihh...Kak Tama, buat aja belum?" Asal jeplak, Ega malu dengan ucapannya sendiri.


"Kamu lupa ya?" Mengingati kejadian kemarin.


"Hehehheh"


Tunggu kejadian kemarin, apa jangan-jangan? Ahh! mungkin dia ngasal. Hufft...


"Di sana kita akan menikmati lebih lama" mencubit pelan hidung istrinya.


"Siapp, pak boss"


"Koper..."


"Maaf sayangku, kamu mau aku gendong juga," tawar Tama.


"Enggak, aku bukan anak kecil lagi" Balas Ega.


"Oh pasti, yang ada buat anak kecil" Bisik Tama.


"Kak...,Tamaaa..." Teriak Ega, Tama sudah berjalan jauh menjauhinya. Jika tidak bakal kenal pukulan maut.


Kurang lebih 3 jam mereka menempuh perjalanan, menaiki bukit-bukit tinggi dan penggunungan. Untung saja cuaca hari terang jadi tidak ada kendala, perjalanan mereka pun berjalan lancar.


Tama sengaja mengajak ke villanya, karena ini adalah tempat kesukaan Tama sejak kecil. Ia ingin memulainya dari sini pula, Tama menoleh kearah istrinya yang kini masih terlelap. Perlahan Tama membangunkan Ega agar tidak terkejut saat bangun.


"Kak, udah sampai" meregangkan tubuhnya,


"Uahhh..."


"Sudah, turun yuk?" Ajak Tama, sambil memegang tangan Ega yang masih belum sepenuhnya sadar.


"Maaf..."


"Buat apa Kak?"


"Karena kita tidak jadi ke villa mewah" Wajah Tama seketika memelas.


"It's ok!" sambil menghirup udara segar di sekelilignya.


"aku suka tempat ini, tak perlu mewah untuk bahagia" Ucapan sederhana ini mampu memberi semangat kepada suaminya.


"Benar?" Memastikan ucapan dari Ega.


"Iya, lagian kan kita ke sini bukan untuk honey moon"


"Ck, ma-mak-maksudnya" Tama kebingunan dari apa yang di ucapan Ega.


Menghentikan langkah di teras villa, "Kan aku lagi datang bulan Kak Tama sayang"


"Ha,"


"Uhh, apa sebaiknya aku jujur aja ya?" Menyakinkan diri.


"Kak, tempat ini kok bisa bersih banget ya?" Kedua bola mata Ega begitu teliti sambil berjalan menulusuri villa.


"Pasti, villa ini kan ada yang jaga, pak Amin itu baik dan rajin loh!"


"Dia siapa Kak?" Tanya Ega.


"Dia penjaga villa ini"


"Ihh, maksud aku dia kerabat atau orang yang berada di sekitar wilayah ini yang di suruh untuk jaga tempat ini," Tanyanya lagi.


"Mau tahu aja, apa mau tau banget!" Ledek Tama, ia semakin senang melihat ekpresi wajah Ega yang mulai memanas.


"Uhh, kamu nanyak, sini aku kasih tau?" Geram, Ega merasa kesel karena suami begitu menikmati.


"Ihhh, landak kecil marah....kabur ah!" Tama mengalihkan, ia sibuk menuruni koper dari bagasi mobil.


"Say-" Ega sudah berjalan jauh memasuki ke dalam villa.


Ega merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa memperdulikan Tama yang tengah sibuk bolak-balik mengambil koper dan barang-barang lainnya. Tama hanya bisa mengeleng kepala melihat istrinya sudah tertidur pulas sambil memeluk boneka kesayangannya.


Pukul 12.00 Wib Ega masih terlelap dalam tidur. Tama merasa kasihan, tanpa menunggu Ega bangun, ia menuju dapur memasak untuk makan siang. Jujur, Tama lebih handal dalam memasak dibandingkan Ega, hanya saja selama ini dia menghormati hasil kerja keras dan keinginan Ega mau belajar memasak.


Tidak butuh lama, sekejap beberapa menu makanan sudah tersajikan di atas meja makan. Harum...! Ega terbangun mencium aroma makanan yang mengugah salera. Kebetulan cacing lagi memberontak minta jatah makan siang.


"Uda ngambeknya," sindir Tama.


"Hem..sedikit heheh"


"Ya udah makan dulu jangan lupa cuci muka dulu biar segar, nanti sambal di kira sambal tempe" Tama kembali meledek Ega.


"Iya, iya" Balas Ega dengan nada jengkel.


Mereka berdua menikmati makan siang ditemani angin sepoi-sepoi dari celah jendela. Udara segar penggunungan membuat siapa saja betah berada lama di sini.


"Nanti sore mau melihat pemandangan pas senja turun. Pasti akan indah banget," kata Tama.


"Jauh enggak dari sini Kak?" Tanya Ega, sambil melanjutkan suapan ke dalam mulut.


"Tidak, cuman butuh 10 menit"


"Mau dong, kita perginya agak cepat ya? Biar bisa lihat pemandangan di sini," tawar Ega.


"Iya sayang, selesai sholat asar kita berangkat. Oky!"


"Oky!" Mengacung jempol tanda setuju.


Pukul 15.00 Wib mereka bersiap-siap menuju ke tempat yang tersebut. Sepanjang perjelanan Ega begitu menikmati udara segar, dia mencermati villa-villa yang dilintasi. Setiba di sana Ega turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Ugh! Kaki Ega menginjak genangan air. Musim hujan beberapa hari yang lalu membuat genangan air dimana-mana. Tama tertawa melihat wajah kesal istrinya ketika terkena genangan air yang berlumpur tanah kuning. Dengan kaki dijinjitkan Ega pun melangkahi genangan air di sepanjang jalan.


Terbayarkan sudah rasa lelah, ketika menikmati keindahan senja diatas bukit, di bawah sana terlihat pantai. Kenapa kita tidak sana saja ya?


Mereka berdua tidak melewati keindahan di atas bukit, mereka berdua mengebadikan dalam hp. Ega dan Tama seolah pasangan yang baru saja memadu kasih.


"Kak pulang yuk! Sudah sore nih, besok kita ke sini lagi untul melihat-lihat pemandangan" Ega perlahan bangkit dari tempat duduknya.


Mengangguk pelan "ayuk, sini biar aku gendong biar tidak kelelahan,"


Tersenyum kegirangan "Benar nih!"


Tanpa aba-aba Ega menaiki punggung Tama, membuat dia hampir saja terjatuh. Uhh! Menyesal menawarin, mana sudah berat! Sabar Tama, makanya lain kali mikir sebelum bertindak heheh.


Baru beberapa langkah kaki Ega memasuki villa, perutnya sudah terkocok ingin segera mengeluarkan semua isi perutnya. Huek...huek..hueekk...! Tama mengikuti Ega menuju ke arah wc, ia memastikan istrinya kalau Ega baik-baik saja.


"Kamu mabok atau masuk angin?" Sambil mengelus punggung Ega menggunakan minyak kayu putih.


"Tak tahu Kak, huek, huekk...hueekk..." wajah Ega memelas dan pucat, Tama mencari ponsel di saku baju.


Triingg...triinggg...


"Assalamualaikum Ma, anu, aanu, Ma, " ucap Tama terbata-bata, membuat orang diseberang sana merasa khawatir. Tama begitu panik melihat kondisi Ega.


"Waalaikumussalam, ada apa Nak? jangan buat Mama takut" Balas mertuanya.


"Itu Mah, Ega muntah-muntah"


"Kok bisa? Tadi makan apa?"


"Ega baik-baik saja Ma, mungkin masuk angin" Membuka suara.


"Oh! Syukurlah untung tidak kenapa-kenapa, Mama dan Papa jadi khawatir"


"Kamu istirahat, Tama jaga istrimu" Pesan Bu Fhirmasari kepada menantunya.


"Baik Ma, assalamuaalaikum"


"Waalaikumussalam" Telpon terputus.


Tama menuntun jalan Ega menuju ke arah kamar,


"Kak, kok datang bulan aku berhanti?"


"Hem...Aku mau jujur, jika kamu marah, mengamuk ataupun membenciku silahkan" menari nafas perlahan, membuang nafas kasar.


"Aku minta maaf soal hari itu"


"Aku tahu, kok" Tama terbelalak memdengar jawaban itu.


"Maksudnya tahu apa?" Memastikan.


"Kalau, Kak Tama sudah mendapatkan hak sebagai suami, yang seharusnya dari dulu aku kasih"


"Tapi, cara aku mengambilnya salah sayang!"


"Iya, aku tahu, awalnya aku juga ingin marah. Tapi, aku berfikir kembali ini bukan salahmu juga"


"Jadi, maksudmu tertipu, ini maksudnya, kamu pura-pura tidak tahu apa telah terjadi?" Ia menatap memastikan ucapan Ega itu benar.


"Iya, maaf, soalnya aku kesal, kamu tak bisa sabaran sih!" Memanyunkan bibir


"Uhh! Gemes banget aku tuh!" Memeluk erat tubuh Ega.


"Terimah kasih sayang" Tama mengecup lama keningnya.


"Sam-, huekk, huekk...hueek" Kembali memutahkan isi perut yang tidak seberapa lagi isinya.


Jangan-jangan dia hamil, ahh! Tidak mungkin, masak iya langsung jadi, mungkin dia hanya masuk angin, apalagi angin saat itu begitu kencang di atas bukit.


Tama tak ingin menerka-nerka sesuatu yang belum bisa di pastikan. Jika pun iya, dia pasti sangat bahagia, bukan hanya Tama, papa, mama mertua, papanya pasti juga sangat bahagia, dan pastinya dia!