
"Hem. Bolehkah malam ini" Ucapnya sambil menciup puncak kepala istrinya yang masih terbalut mukena.
Menelan saliva dengan kasar. Sambil menunduk.
"Boleh." Tanganya meremas mukena yang ia pakai saat ini sambil menggigit bibir bawahnya.
Mendengar pengakuan dari Ega begitu bersemangat. Ega yang sedang menunggu di kasur terlihat kikuk. Ia berusaha menetralkan perasaan yang sudah bercampur aduk.
Malam pertama itu seperti apa sih!
Tama perlahan mendekati istrinya. Ia mengunci tatapannya ketika wajah mereka bertemu nafas merek saling bertabrakan. Kring, kring! Suara ponsel mengganggu aja ya! Menggangu keromantisan malam pasutri muda.
"Tidak mungkin. Bagaimana bisa terjadi. Sekarang di mana Kak Rosi Yah?" Ucap Tama dengan suara khawatir ia bergegas mengambil jaketnya di atas meja. "Kak Rosi kecelakaan. Kamu mau ikut apa di rumah aja?" Lanjutnya sambil mencari kunci.
"Ikut" Ia bergegas mengenakan hijab besar yang tergantung di hanger.
......................
Seorah paruh baya yang berusia sekitar 45 tahun. Ia mondar mandir di depan pintu ICU. Wajah tua itu tidak bisa lagi membedung air matanya. Melihat sosok anak terbaring seolah tidak bernyawa, alat medis begitu banyak yang melekat di bagian tubuhnya.
Anak dan menantunya sudah tiba di rumah sakit aura kekhawatiran menyelimuti isi kepala. Ega mengeratkan genggamannya di sela-sela jari suaminya. Bahu Tama kini naik turun air matanya mengalir begitu saja. Tatapan kosong, ia mempercepat langkahnya.
"Yah...gimana keadaan Kak Rosi" Sambil membantu Ayahnya duduk di kursi.
"Belum sadar" Ucapnya pelan.
"Awal kejadian gimana?" Imbuhnya sambil mengelus perlahan pundak ayahnya.
"Kakamu korban kecelakaan berutun di lampu lalu lintas. Terus sekarang pelakunya sudah menyerahkan diri ke kantor polisi. Semoga Kakakmu bisa melewati masa kritisnya. Aamiin" Menghela nafas.
"Aamiin" Sambung mereka berdua.
"Sholat dulu yuk Yah." Kembali melanjutkan ia menatap istrinya. "Kamu jaga Kak Rosi bentar ya?" Pesan Tama sebelum berlalu bersama ayah mertuanya.
"Kak Rosi..." Lirihnya sambil menyeka air matanya perlahan.
"Kakak harus sembuh. Demi Kak Tama, Ayah dan aku." Membuang nafas kasar. Ia hanya mampu melihat keadaan kakak iparnya dibalik dinding putih sosok itu kini terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Aku rindu Dosen killer ku." Ucapnya.
Suara pintu terbuka. Seorang Dokter muda keluar dengan wajah sedikit ragu. Ega mendekati Dokter sambil menyakan perkembangan kakak iparnya itu.
"Jadi gimana keadaan Kak Rosi sekarang Dok."
"Maaf..."
"Maaf untuk apa Dok" Ucapnya, ada kejanggalan dari kata maaf yang dilontarkan.
"Maaf. Kami tidak bisa menolongnya. Allah lebih mencintainya. Dia orang yang baik." Ucap Dokter
menjelaskan secara tenang.
Yaa... Tuhan apa ini! Engkau kembali mengambil orang yang aku cintai. Luka belum begitu sembuh kini
kembali terluka?
Apakah orang-orang baik begitu cepat Engkau ambil. Tidak bisakah memberikan waktu bersama
sedikit lama lagi?
"Kak Rosi...maaf! selama ini aku menyebutmu Dosen killer" Ega menguncang-guncang tubuh gadis itu yang kini sudah tidak bernyawa lagi.
"Kak...bangun...." Air mata berlinang begitu saja tanpa ia hiraukan.
"Dok..." Kakinya tidak dapat menahan tubuh Ega. Penglihatan kian memudar. Akhirnya dia terkulai lemas, untung saat itu ada Dokter muda yang cepat tanggap menangkap tubuhnya, jika tidak dia akan jatuh di lantai.
......................
Tama berlari kencang melewati lorong demi lorong rumah sakit ketika mendengar kabar kalau Rosi sudah meninggal dunia. "Ini tidak mungkin pasti ada salah? Kak Rosi tidak selemah itu."
"Tuhan...apakah Engkau begitu membenciku?
Lagi-lagi. Diregut paksa perempuan yang aku cintai, melebihi mencintai diriku sendiri"
Dosa apa yang aku perbuat, sehingga aku kembali kehilangan lagi?
Ini takdir, jangan sesali yang sudah terjadi.
Takdir...jodoh, maut semua sudah ditentukan kepada Yang Maha Kuasa.
"Kak Rosi...." Ia meracau di tengah malam.
"Kak Rosi...Kakak tidak boleh meninggalkan aku begitu aja! Kakak janji selalu bersama aku. Mana janjimu...ok....kamu mau ninggalin aku kayak bunda kan baiklah." Ia berjalan mundur kearah pintu. Otaknya kini tidak bisa berfungsi dengan benar lagi.
Cup!
Ia mengecup kening Ega sekilas yang terbaring di kasur sebelah Kakak iparnya, pesan terakhir Ega sebelum sepenuhnya kehilangan kesedaran ia meminta agar tidak di jauhkan dari jasad Rosi.
"Maaf...aku pergi! Jika aku tidak kembali ikhlaskan aku sayang!"
Ceklek!
Handle pintu terbuka secara perlahan, lelaki paruh baya melangkah pelan ke arah Ega. Langkah kaki terasa berat begitu saja, melangkah dengan topeng di wajah. Kesedihan mana lagi, ketika kedua sosok perempuan yang menjadi bagian hidupnya. Harus tabah menerima takdir?
"Dok. Bagaimana kabar menantu saya?" Ucapnya tenang.
"Untuk saat ini Ibu Ega masih dalam kondisi pemulihan. Pak maaf saya... tidak bisa membantu terlalu banyak" Tuturnya pelan sambil pamit keluar.
"Semua sudah menjadi takdir anak saya. Allah mencintainya kini ia tidak kesepian lagi sudah ditemani oleh bundanya." Lirih sambil menetralkan emosi agar tetap terlihat tenang biar tidak lebih memperkeruh keadaan. Meski di didalam hatinya paling dalam sangat menyakitkan.
"Dok..anak saya Tama kemana?"
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara paruh baya itu.
"Dia pergi pak. Sebaiknya Bapak menyusul melihat kondisi mentalnya bisa beresiko besar." Penuturan Dokter muda itu mampu melemahkan tubuhnya sesaat. "Terimah kasih Dok"
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi kepada anak bungsunya itu.
Berdering-tersambung tapi tidak ada respon dari seberang sana. "Bagaimana ini? dia adalah orang yang nekat. Bahkan saat kematian bundanya sudah tiga kali hampir bunuh diri. Bagaimana jika dia melakukan hal bodoh itu lagi?"
"Ayah..." Ucap Ega lirih ia perlahan bangkit kearah ayah mertuanya. "Kak Tama dimana Yah?" Matanya yang kini berkaca-kaca.
"Ega. Tidak tahu Tama pergi ke kemana?"
"Tidak Yah."
"Yaa.. Allah Tama" Suaranya terdengar gemetar.
......................
"Kalian jahat. Bunda. Kak Rosi kalian sama saja." Tama meracau di sepanjang jalan sambil mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi.
Suara ponsel berdering dari kesekian kalinya. Tama tidak memperdulikan, hatinya begitu hancur. Ia mencari sesuatu yang mampu menghapus rasa sakit di uluh hatinya.
Panggilan kedua belas akhirnya dia memilih mengangkat takut ayahnya begitu khawatir kepadanya. Bukk! Ponselnya jatuhnya di bawah kakinya Tama bersusah payah mengambil ponselnya. Akhirnya ponsel itu dapat di raih oleh tangannya.
"Assalamualaikum ahh...!"
Tit.tit.. Telpon terputus.
"Waalaikumusalam. Halo. Halo.. Tamaa. Tam..."
"Kenapa Yah" Kini jantungnya bergetar begitu kencang. Rasanya sulit benafas. Ia berusaha mengatur nafasnya.
"Ega tenang di sini biar Ayah yang menyusul Tama kesana. Kamu tak perlu khawatirkan Tama ada Ayah. Titip Kak Rosi Ya"
Membuang nafas pasrah mengangguk. Ia terdiam sejenak tatapannya begitu kosong. Kini Ega terduduk di samping jenazah Rosi. Apa lagi yang akan terjadi?
"Kak...aku bakal rindu ocehan dan teguran mu di kelas?"
"Rindu memerahi Tama. Ketika menjahili ku"
"Ciee....yang honey moon"
"Hati-hati..."
"Titip Tama ya?"
Percakapan singkat lewat via telpon, ternyata ini bakal jadi percakapan dan pesan terakhir dari sosok kakak ipar dan Dosen killernya.
"Assalamualaikum. Apa bagaimana bisa Yah?" Handphone terlepas begitu saja. Ega menangis terisak tak terkendali.
Jeritanya yang memilukan tidak didengar oleh siapapun, tidak ada yang menguatkannya saat seperti ini. Hanya ditemani oleh tubuh yang tidak bernyawa. Langkahnya terasa semakin berat, tubuhnya kini kembali roboh. Baru beberapa menit yang lalu ia sadar dari pingsannya.
"YAA...ALLAH LINDUNGI SUAMIKU"
"TABAHKAN HATI MERTUAKU"
"DAN....."
"KUATKANLAH DIRIKU MENERIMAH UJIANMU DENGAN SABAR"
......................
Dinding putih bau obat menyerbak di sela-sela indra penciuman. Sudah beberapa jam Tama belum sadarkan diri. Ega meringis kesakitan tubuhnya kini terlihat semakin kurus dan pucat. Isak tangis kembali pecah melihat tubuh Tama terkulai, tidak ada respon.
"Ega. Ayah pergi dulu, kamu disini jangan lupa makan ya?"
"Iya Yah. Bolehkan aku memeluk Kak Rosi terakhir kalinya"
"Iya" Menelus pucak kepala Ega.
Ia memeluk erat tubuh yang sudah terbujur kaku, mencium pipi kanan dan kirinya. "Selamat tinggal Dosen killer." Ega berusaha menenangkan diri, tapi tidak halnya dengan tangis sedari tadi yang sudah di bendung.
Ayah mertuanya memutuskan untuk segera membawa jenazah putri satu-satunya itu. Agar bisa dikebumikan. Beliau tidak bisa menunggu sampai Tama sampai sadar. Hatinya begitu sakit beribu pisau menusuknya tapi tidak sama sekali dapat membunuhnya.
Pak Fhirman berusaha menenangkan dirinya sendiri. Begitu banyak rasa sakit dan kehilangan yang dirasakan, 1 tahun lalu ia harus menerima kalau istrinya meninggal karena serangan jantung. Kini putrinya ikut menyusul istrinya pula. Disisi lain ada putranya yang koma, sudah beberapa jam tanpa ada tanda-tanda kesadarannya.