
"Kado...buat apa?" Ia menatap lekat wajah perempuan cantik itu dengan raut wajah kebingunan.
"Emang hari ini tanggal berapa sih" mengecek tanggal di layar ponsel, sesekali ia menatap kado tipis di tangan kanan.
Tak ada jawaban ataupun respon dari lawan bicaranya. Tanpa perpanjang drama tanya-bertanya.
Srekk... srekkk...rekk..
Sedikit demi sedikit kertas pembungkus hampir memperlihatkan isi di balik kado itu.
Dua buah kertas VVIP berwarna gold, yang kini berada di tangannya, sambil menoleh ke arah lain berfikir sejenak.
"Gunanya apa coba?" Gumamnya pelan.
"Kak, ini untuk ap-"
Pippiipp....
Sebuah pesan singkat muncul di layar ponsel
"Semangat buat dedek ya sayang...!"
Mulutnya menganga, mata tetap terfokus ke arah ponsel. Tapi entah kenapa pikiran melayang kemana.
"Hemm... bayi, dedek. Pasti comel dari buatan ayah yang tampan ini" sambil bergaya cool di depan cermin.
Piipiipp...
"Cieee...senyam-senyum sendiri"
Plakk...!
Sebuah bantal melayang tepat pada sasaran. Auhh... pekiknya, rasa sakit yang dibuat-buat agar adiknya merasa semakin terpojok. Tanpa memperdulikan sosok itu yang kini masih setia memegang handle pintu. "Kak...aku pulang dulu" Kiss bye jarak jauh.
......................
Rintik-rintik hujan membasihi bumi, awan hitam menyelimuti awan yang semulanya cerah, kini telah berubah, seperti halnya perasaanku. Tuhan salah aku apa! Ingin rasanya gadis ini berteriak sekencang-kencangnya. Air mata jatuh kebumi bersama rintiknya hujan. Taman sepi sunyi menjadi sandaran deritaku.
Sakit sekali Tuhan...sungguh!
Maaa....aku butuh mama sungguh!
Bisakah hapus air mata anakmu ini.
Dunia ini terlalu kejam buat diriku yang selemah sapu lidi, meski patah berkali-kali, tetap harus digunakan.
Tuhan...! Maaf...
Aku tak sanggup lagi hidup dengan penuh
penghinaan.
Diriku terlalu perasa buat dunia yang penuh canda.
......................
Tepat pukul 17.00 Wib. Sebuah mobil melaju cepat kearah parkiran, sosok lelaki tampan membawa dua buah koper dengan ukuran berbeda. Serta dua buah tiket di saku depan kemejanya. Ia mempercepat langkahnya, agar segera mungkin memberi kejutan pada istri kecilnya itu.
Tokk...tokk...tokk...
Ceklek...
"Assalamualaikum, sayang" ucapnya pelan sambil membuka pintu dengan perlahan.
Lelaki tampan berlesung pipit, menampakan deretan giginya yang rapi.
"Say-" terpotong singkat sebelum melanjutkan ucapan Tama, "kasihan sekali istri aku, pasti lelah membereskan rumah sendiri, mana berantakan separah ini dan begitu kotor" ia menatap sekelilinya yang sudah terlihat bersih dan rapi.
"Uhhh... gemes banget deh!" Mencubit pelan pipi Ega, yang mulai terlihat membulat.
Tangan nakal Tama tak henti-henti mencubit gemes pipi perempuan cantik di hadapannya, ia mengangkat kepala istrinya memposisikan diatas pahanya. Yaa Allah...sungguh kado terindah yang Engkau beri kepada hambamu ini, sosok manis telah berada di hadapanku.
Maafkan hambamu ini telah mensia-siakan sosok cantik yang memiliki hati yang cantik luar dan dalam.
Yaa...Allah permudahkan hambamu ini, lindungin kami dari orang-orang yang ingin menyakiti kami.
Cup...
Sebuah kecupan mendarat di dahi perempuan yang berbalut hijab instan, tanpa ia sadari air mata Tama menetes tepat di pipi mulus istrinya, Ega yang semula tertidur pulas, kini perlahan membuka matanya sambil mengusel-ngusel.
"Kak Tama, sejak kapan pulang? Maaf aku ketiduran" memanyunkan bibir dengan wajah penuh rasa bersalah, "gak papa, kamu pasti kelelahan"
"Enggak kok, mana ada bidadari baik hati buat salah seperti istri aku ini" Mencubit pelan hidung mancung istrinya.
"Kak..."
"Apa"
"Aku..."
"Apa sayang?" Ia memposisikan beberapa senti dari
hadapan Ega.
Blush
"Pipinya kok bisa Merah?" Menggoda dengan kedipan mata.
Cup...
"Kak Tama...ihhh, tak jijik aku tidur ileran loh banyak lagi" mencibir Tama.
"Biarin, bagiku perempuan di hapadan aku ini adalah candu bagiku, aku tanpamu hanya sebuah butiran debu, hehehee..."
"Ihh kak Tama, modus pasti ada maunya iyakan!" Melirik, manyun.
"Surprise, sayang...traaa simsalabin jadi apa ayok!" Ledek Tama.
"Hem apa ya?" Ia pura-pura tidak tahu.
"Tiket, villa...untuk apa kak?" Ega merasa bingung, ini bukan waktunya liburan.
Bisikan pelan terdengar di telinga kanan Ega, "mari kita buat dedek sayang..."
Deg...
......................
Kamar pecah, berantakan, banyak barang berhamburan dan pecah di mana-mana, terlihat sosok gadis bergaun pengantin berwarna putih wajah pucat, hiasan make up luntur membuat wajah cantiknya terlihat mengerikan, ia terduduk di sudut kamar menangis dengan tatapan kosong. Kamar yang awalnya di dekorasi di khusus untuk pengantin baru. Kini telah berantakan tidak ada keindahan ataupun kenyamanan, seperti hal yang di rasakan dan impian setiap pasangan pengantin baru, kini hanya malah menjadi nereka baginya. Di sisi lain ada dua sosok pria begitu mengkhwatirkannya, meraka berusaha mendobrak bersama para anak buah ayahnya. Tetap saja tidak bisa, tubuh kekar mereka tidak mampu sama sekali mengeser pintu meski satu senti sekalipun.
"Sayang, buka pintunya, kasian suamimu dia begitu khawatir, buka pintu ya sayang. Kita bicara baik-baik" Ucap papanya sambil mengetok pelan daun pintu kamar Fhira.
"Sayang...ini Bara, keluar sayang jangan gini terus, kamu belum makan apa-apa loh!" Tambah Bara suara memelas.
"PERGI KALIAN SEMUA....! GUA TAK BUTUH KALIAN...!" Balas Fhira dengan nada purau.
"*****...!!! BANGSAT!" Ia meracau tak jelas, rasa sakit begitu jelas terasa.
"Please...pergi dari sini, aku butuh sendiri, hiksshikss"
......................
Srekk...srekkk...
Suara tirai terbuka perlahan, cahaya matahari bersinar terang menyilaukan mata Ega, ia perlahan membuka matanya secara perlahan. Tampan sungguh! Yaa..Allah makhuk satu ini benar membuat jatungku berdebar kencang seolah sosok ini baru saja aku temui.
"Huaahhh..."
"Hem...menguap saja cantik, uhhhh meleleh hati ini" Ledek Tama, sontak Ega menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, ia menutupin seluruh tubuhnya di balik selimut tebal.
Suara hentakan kaki perlahan mendekat, sebuah tangan membuka perlahan selimut dari wajah Ega. Ia semakin mengeratkan selimutnya agar wajahnya tidak terlihat yang kini telah berubah warna, yang pucat sudah berubah menjadi warna merah mudah.
"Sayang serapan dulu yuk! Biar sehat dan kuat," Ucapan Tama mampu membuat Ega menganga lebar tanpa sepatah kata pun terucap dari mulut perempuan ini.
"Ma-maa-maksudnya...apa Kak?" Balas Ega dengan wajah begitu polos.
"Buat dedeknya lah sayang..."
Cup...
Sebuah kecupan sekilas menderat, dibibir Ega membuatnya kembali mematung. Dibalas tatapan genit oleh Tama.
"Kak Tama uda mandi" ia mencium bau khas suaminya.
"Sudah dong, kalau mau mandi bareng boleh, aku siap, bukain dong baju aku" Goda Tama, menggoda istri seolah kewajiban.
"Ihh Kak Tama, pergi sana" Ega mendorong pelan tubuh suaminya.
"Oh iya, jangan lupa serapan ya tuan putri, biar sehat dan kuat" tambahnya, "jangan lama-lama kasian suamimu ini"
"Biarin, awas ngintip, mata bintitan loh! Terimah kasih serapannya sayang" Imbuhnya.