EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Eps. 31 (PONDASI)



Saat itu diriku tertidur begitu pulas, ketika langkah-langkah berat mendekati. Dalam keadaan setengah tersadar. Ahh...! Apa yang akan terjadi pada diriku, tubuhku begitu lemah meski hanya sekedar membuka kelopak mata. Ia merasakan sesuatu menyentuh tubuhnya secara perlahan, tangan kasar itu menyentak bajuku sehingga robek, dan memulai melakukan aksi bejatnya. Mulut keluh untuk berteriak, dalam gelap tangan lemahnya menggapai-ngapai, meronta. Apalah dayanya, tubuhnya semakin melemah, ia terkulai lemas. Tatapan perlahan gelap, tak lama ia jatuh pingsan.


Tidak... mimpi buruk itu lagi.


Ya... Allah kuatkanlah hambamu ini.


Ma... pa... aku rindu kalian.


Sejak itu, hidupnya hancur. Seperti juga hati dan semangatnya patah secara perlahan, air mata mengenang. Sungguh besar cobaan gadis ini, kini ia hidup sebatang kara, tanpa keluarga. Mereka yang tak sengaja berpapasan pun enggan meski sekedar melirik. Hidup hina ini telah menjadi cibiran.


......................


Seminggu berlalu, tubuh Ega perlahan membaik kini ia sudah mengikuti pola sehat dan senam yoga ibu hamil. Tama selalu setia berada di samping istrinya yang kini tengah hamil muda, bahkan tak segan ia keluar tengah malam demi memenuhi keinginan Ega, yang suka meminta aneh-aneh. Ia meminta sate 20 tusuk di dini hari. Bayangkan betapa lelahnya Tama menyelusuri jalan, 2 jam berlalu ia tetap saja tidak menemukan satu tusuk sate pun, jangankan sate, gerobaknya pun sudah tidak ada lagi. Terpaksa ia pulang dengan tangan kosong.


Uuhh... nasib begini amat ngehadapi ibu hamil.


"Kak satenya mana?" Tanya Ega yang sudah menunggu di ruang tamu menunggu kepulangan suaminya.


"Hem..anu, aanu.!" Ucap Tama terbata-bata.


"Sate, satenya mana Kak... ? HIKS.... HIKS... HIKS... !" Ega menangis tersedu-sedu melihat suaminya tidak membawa apa-apa.


"Kalau memang tidak niat jangan kasih harapan dong!" Tegas Ega.


"Tapi sayang..." Tama tidak melanjutkan ucapannya.


Hening...


"Aku yang buatin mau?" Sembari mendekati istrinya yang masih terisak, perasaan campur aduk. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi.


"Jangan menangis lagi. Kumohon... " ucap Tama pelan.


Ega terdiam, air matanya berlinang. Raut wajah kekecewaan ia pancarkan rasanya begitu sakit. Ia memandangi Tama yang bangkit dari sofa.


"Gak peka amat sih!" Membantin.


"Aku pergi bentar ya?"


"Sana... "


Pukul 02.30 WIB, Tama sibuk di dapur ia mempersiapkan banyak bahan yang bisa di gunakan. Beruntung sekali, ternyata ibu mertuanya begitu suka masak. Sehingga apa di butuhkan semua terpenuhi. Ayam, bawang, kacang, semua lengkap.


Beberapa menit kemudian satu porsi sate memenuhi sebuah piring, kuah begitu kental.


Hem... baunya begitu mengugah selera.


Tok..


Tok...


Tok...


Membuka pintu kamar secara perlahan "Assalamualaikum sayang..."


"Ga, aku bawa sesuatu nih! Special for you... " Meletakan tampan berisi satu porsi sate dan segelas air putih.


"Makan dulu yuk? Enak banget satenya... hem... enak!" Guman Tama.


Makan tidak ya? Uhh... mana baunya enak banget lagi?


"Tidak, sudah tak nafsu." Memekik keras.


"Benar nih!" Menyanggah dagu di samping Ega.


Hening...


"Tidak baik loh menolak makanan. Kita beruntung masih bisa makan, lihatkan kebawah? Betapa sulitnya mencari demi sesuap nasi. Kita tidak tahu apa yang akan menyanggal isi perut? Entah itu nasi basi, kotor, atau bahkan sudah tidak layak di makan." Menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya.


Menyangga dagu, ia begitu memperhatikan ekspresi wajahnya. Diam-diam Ega terkekeh pelan. Tuhan ini suami aku kah? Kenapa bisa sebijak ini.


"Jadi, sebaiknya kita mensyukuri dari apa yang kita punya. Allah tidak menyukai hambanya yang tidak pernah bersyukur. Paham sayangku Firzahra Ega?" Penjelasan yang begitu lembut terangkan. Namun tetap pada ketegasan.


Ega hanya mampu terdiam saat mendengarnya, mendongak memdengarkan suaminya dengan tatapan serius.


Hem... niatnya mau ngambek biar dia tambah perhatian. Ehh! Ini malah kena ceramah.


"Paham sayang... " Terangnya.


Membuang nafas pasrah mengangguk " Iya... "


"Sekarang makan dulu yuk! Kasian litte baby kelaparan gara-gara bundanya suka ngembekan. Ups... salah bicara hehhe," meneguk salivanya kasar.


"Oh... gitu ya?" Berdecak kencang, menatap tajam ke arah Tama.


"Maaf... " pintanya.


"Bunyi apa tuh! Bunyi tikus makan keramik?" Ledek Tama.


"Ihhh... itu bunyi perut aku lah"


"Bissmilah... " Menyuapi Ega secara perlahan.


"Ya... Allah... maafkan lah aku, tidak pernah mensyukurin apa yang telah Engkau beri." Membatin.


"Sorry... i'm so sorry? Semenjak hamil suka kekanankan" Ujarnya.


"It's ok!" santai Tama, kembali menyuapi istrinya secara perlahan "Demi istri dan anak aku rela buat apa saja asal kamu bahagia, dan anak kita sehat. Aamiin"


Mata Ega mulai berkaca-kaca "Beruntung banget sih! punya suami sebaik ini"


"Iya dong, itu harus!" Menunjukkan diri.


"Ck, mulai kepedeannya." Cicir Ega.


"Hehhe, siapa dulu..." henti Tama.


"Suami aku!" Imbuhnya.


"Suami siapa?" Terkekeh pelan.


"Orang siapa?"


"Orang-orangan."


"Penjaga sawah dong!"


Mengernyitkan dahi "Bodoh. Aku ngantuk mau tidur bye..."


"Ini belum habis loh sayang!"


"Haa... tinggal satu tusuk? Lapar banget kamu ya?"


"Sayang..." memastikan kalau Ega benar-benar tidur.


"Ahh... benaran tidur lagi" batin Ega.


"Good night sayang...muach..." Kecupan selamat malam.


......................


Perlu dua jam perjalanan untuk sampai kesana dari pelabuhan penyeberangan. Bocah bertubuh gempal itu terlelap di bangku belakang. Mereka melanjutkan perjalanan setelah beristirahat.


Tok...


Tok...


Tok...


"Assalamualaikum, permisi... " Ibu Fhimasari begegas menuju ke arah pintu setelah mendengar ketukan pintuk berulang dari luar.


Ceklek...


Pintu terbuka perlahan, "waalaikumussalam... Mari masuk."


"Iya terimah kasih ma"


"Wah! Kamu dari mana saja? Lama tidak pernah datang ke sini lagi?"


"Hhehe, suami sering keluar negeri ma, jadi baru sempat sekarang" Terangnya.


"Suami kamu mana?"


"Dibelakang ma, lagi memarkirkan mobil."


"Oh, baiklah. mama tinggal bentar dulu ya? "


Ega... ada tamu!"


"Iya ma, bentar lagi pakai jilbab..."


"Cepat ya sayang, kasian dia nunggu" pesan mama dari balik pintu kamar Ega.


"Iya ma!" Balasnya.


Ega terdiam sejenak melihat sosok di hadapanya. Ia masih ingat jelas sosok itu, Ega menghampiri sebelum bertindak ia takut salah orang.


Finattalia... Ega bergegas menghampiri sahabat masa sekolahnya itu, ia menghilang semenjak memasuki bangku kuliah.


"Wahh... kamu beda banget sekarang Finatt, tambah bahagia aja!" Sindir Ega secara halus.


"Iya dong! Suami aku ngasih makan banyak banget hehehe... " terkekeh pelan.


"Suami, kamu sudah nikah. Kapan? Ihh kok tak ngundang aku sih!"


"Selamat ya buat kalian bahagia selalu" Memeluk erat sahabatnya itu.


"Kamu juga sudah nikah tak kabarin sahabatmu satu ini" Ledeknya.


"hehehee..."


"Suami kamu mana?" Sambil menuangkan air teh ke gelas.


"Kayaknya nunggu di mobil sama anak, dia lagi rewel-rewelnya apalagi kalau di banguni susah banget"


"Anak, berapa tahun?" Ega tak menyangka, selain sahabatnya nikah secara diam-diam, dia juga sudah memiliki anak.


"Baru satu tahun Ga. Slurpp..." menseruput teh di dalam cangkir.


"Ihh... pasti lagi comelnya"


Pipp...!


Ppip...!


Suara dan getaran dari ponsel, berbunyi di sela pembicaraan mereka. Finattalia pun menghentikan ucapannya, awalnya hanya sebuah pesan, tapi belum ada respon dari penerima akhirnya ia memilih menelpon.


Ega menghela nafas pelan. "Angkat aja dulu, siapa tahu penting," ujarnya.


Mengangguk pelan. "Aku angkat bentar ya?"


"Iya, waalaikumussalam, " Finattalia terlihat berfikir sejenak. "Kenapa bisa?"


"Ada apa?" Sambung Ega di sela pembicaraan Finattalia.


"Iya, aku pamit dulu" Telpon terputus, wajahnya terlihat mengkhwatirkan sesuatu.


"Kenapa? Kok buru-buru banget"


"Ga, aku pamit dulu, anak aku deman mendadak mungkin efek imunisasi, assalamualaikum" Berjalan beriringan menuju ke arah pintu.


"Oh begitu. Hati-hati di jalan, kapan-kapan ke sini lagi, " peringat Ega, hujan gerimis baru saja berhenti setelah cukup membasahi jalanan.


"Iya, titip salam sama mama ya?"


"Iya" Melambai tangan.


Menatap mereka dari balik jendela mobil. Pip! Pip! Pip suara klakson tiga kali sebelum mobil itu benar-benar berlalu dari pandangan.