EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Bab. 19 (UJIAN CINTA)



Ting!


Ting!


Ting!


Suara bel membuyarkan lamunan panjangku. "Iya bentar?"


"Assalamualaikum..." Capika-capiki, waww! Tatapan kekaguman terlihat jelas di wajah gadis itu.


"Rumahmu bagus banget... minimalis tapi terkesan mewah. Taman juga luas, betah sekali aku di sini" Mata masih terbelalak melihat pesona keindahan rumah itu.


"Buat apa rumah sebagus ini jika tidak ada kebahagian?" Ega menyalahkan keadaan yang memisahkan dirinya dengan Tama.


"Maksudnya"


"Tak. Lupailah mau duduk sini apa di gazebo?"


"Apa gazebo. Disini ada gaszebo mau dong santai di sana?" Menarik pelan tangan Ega menuntun keluar rumah.


"Hem. Baiklah aku ambil cemilan dan minuman dulu ya?"


Disergap cepat oleh Fhafa. "Ok siap nyonya! Eheheh"


Ega cuman bergeleng-geleng melihat tingkanya itu, yang menurutnya sangat lucu.


10 menit berlalu, kini Ega kembali membawa cemilan mulai dari snack, kue, buah-buahan. Serta dua jus yang masih segar. Hanya Tuhan yang bagaimana Fhafa mencintai rumah yang baru saja ia datangi. Udara segar menyerbak menyapu pelan di wajah Fhaha, ia begitu menikmati sesekali mendongak menatap kelangit dengan mata tertutup.


Ahh...kenapa baru sekarang aku mengenal tempat surga dunia ini. Iya! Surga di rumah Ega. Mereka berbincang banyak hal mulai awal pertemuan dengan Tama hingga bersama dalam ikatan yang suci, yang dari awal tidak pernah terlintas akan bersama. Untung Fhafa tidak sadar ada kejanggalan dalam rumah tangga Ega yang tersimpan rapat oleh perempuan itu.


......................


"Ega." Cepat-cepat Ega menghampus jejak air mata yang membasahi pipi, lantas berbalik mendengar ke arah suaminya sedang mengingau. "Iya, Kak," sahutnya seraya begegas.


Ega meraih tangan Tama kedalam genggaman. Keringat bercucuran hebat, suhu badan meningkat.


"Kak. Aku harus bagaimana?"


Terlintas begitu saja. "Google!"


Mengetik di kolom pencarian, 'cara menurunkan suhu tubuh dengan alat sederhana' begitu banyak ilmu sederhana dan mudah. Ia memilih untuk mencari handuk untuk mengkompres suaminya.


"Semoga ini membantu" ia melakukan berulang kali sampai ia tertidur di samping Tama dengan posisi tertidur.


Tepat pukul dini hari Tama terbangun suhu tubuhnya sudah kembali normal berkat tangan istrinya itu. Ia merasa kasihan melihat istrinya menggigil tanpa selimut, Tama mengangkat tubuhnya istri yang kini sudah perlahan kurus tubuhnya tidak seberat pertama kali ia membopongnya saat itu. Aku benar-benar suami tidak berguna? Ia mencela dirinya sendiri. Kapan ini berakhir Tuhan!


"Assatagafirullah. Sudah siang aku belum melaksanakan sholat subuh" Ia begegas menuju ke kamar mandi tanpa sadar. Kenapa kini bisa berada diatas kasur.


"Kak Tama masuk pagi ya?" Mendapati suaminya yang kini sudah rapi.


"Terimah kasih sudah merawat gua" Tuturnya kini perlahan melembut. Meski kata lo, gua, tak papa semua butuh proses. Kita pasti bisa memulai dari awal lagi, aku yakin!


"Iya. Terimah kasih juga sudah mau mengangkat tubuhku di atas kasur" Tak lupa ia melukis senyuman di wajah.


"Tidak masalah, mau ikut kuliah?" Ia mencegat Ega sebelum masuk ke kamar mandi.


"Bolehkah" Mata berbinar, bahagia akhirnya dia bisa pergi bersama. Setelah sekian lama ia tidak merasakan momen kebersamaan.


"15 menit lagi aku nyusul ke bawah. Maaf untuk hari ini aku tidak mempersiapkan sarapan pagi?"


"Kita makan di kantin kampus" Ia membalas dengan anggukan sebelum memasuki kamar mandi.


Sesuai janji, 15 menit kemudian Ega sudah siap dengan gamis melekat di tubuhnya dipadukan dengan jilbab pasmina hitam dengan model menutup dada. Mata Tama tidak lepas dari tubuh istrinya itu. Ia menatap kagum, maa sha Allah! Luar bisa cantik natural. Ega tersipu malu ketika ia sadar dengan tatapan mata Tama.


"Ayuk! Aku sudah siap!" Mengalihkan keadaan,


"Baiklah" Balasnya secepat kilat.


......................


30 menit berlalu, akhirnya mereka tiba di kampus. Ega mendengarkan sorakan teman-teman kampusnya. Mereka memberi sambutan hangat kepada kedua sepasang yang mempesona bahkan mampu menyihir semua orang. Tidak banyak mereka kecewa setelah mengetahui kalau mereka bedua resmi menjadi istri dan suami. Bagaimana tidak Ega dan Tama adalah sosok yang paling di kagumin oleh lawab jenis. Wajah cantik dan tampan, bagi mereka sosok itu sangatlah sempurna sampai mereka lupa bahwa kesempurnaan hanya milik Allah.


"Selamat Kak atas pernikahan kalian"


"Lenggeng sampai 7 turunan"


"Waww pasangan yang sangat sempurna"


"Yaa...patah hati gua"


"Kak Tama..."


"Egaa..."


Banyak ucapan selamat dan pujian buat mereka berdua yang ia dapat. Tapi, beda halnya dengan tiga seorang gadis dilantai 3. Merek menatap sinis rasa tak suka, membuatnya memilih pergi daripada melihat pandangan yang merusak mata bagi mereka.


"Menurut kalian cantikan gua apa dia?"


"Yaa...pasti kamu dong my princess" Ucap mereka berdua serentak.


"Tama akan menyesal menikahi gadis itu!" Sebuah akal licik muncul dibenaknya dia berusaha memanfaatkan keadaan yang menerpa Tama.


"Tama lupa ingatan bukan!"


"Yes...terus lo mau apa?"


"Kita liat aja nanti apa bisa aku lakukan" ia menyungging bibirnya dengan wajah berfikir licik.


Bukk!


"Maaf Tama? Aku tidak sengaja, mereka tidak sengaja menyenggolku" ia mencari alasan untuk bisa mendepatkan kesempatan. Yess! Permainan dimulai sayang!


"Bagaimana akting kami?" Mereka berdua memuji diri sendiri.


"Ok! Nice...pertahankan."


"Dia siapa Kak?" Tanya Ega, dia melihat kalau gadis itu sengaja menabrak suaminya. Rasanya ingin dia mencakar wajah gadis itu, tapi terhenti saat melihat pandangan orang-orang menuju ke mereka.


"Dia Fhira Miccela" Balas dengan wajah datar.


"Oh!" Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya tapi kapan? Yaa sudahlah jika dia macam-macam aku sleding dia lantai. Kejam sekali Ega sungguh!


"Mau pesan apa?" Menunjukkan beberap daftar menu makanan.


"Aku mesan roti bakar sama jus jeruk. Kalau Kak Tama apa?" sambil menyedorkan buku list menu. "Sama dengan pesanan istriku." Haa...! Demi apa dia berani menyebut istri di depan umum bahkan saat dia sebelum hilang ingatan dia tidak pernah menyebut itu.


"Permisi...boleh saya duduk?" Ucap gadis yang di tabrak Tama di lorong kampus tadi. Lebih tempatnya dia sengaja mencari muka di suami orang!


"Iya"


"Apa-apaan dia ini setidaknya minta persetujuan istri kek gitu! Nyesal aku muji tadi." Gumannya pelan.


"Dia tidak akan mengganggu" Tama mendengar ucapan istri yang meski begitu pelan.


Mengernyitkan dahi bagaimana dia tahu. "Haa. Baiklah" Mengangguk pasrah.


"Aku ke toilet dulu ya Kak?" Ia menatap tajam kearah gadis yang berada di depan Tama. Namun dibalas senyum sinis. Dasar gadis ular! Kursi banyak uang kosong gitu kok!


"Maaf Kak aku tidak sengaja" ia kembali menumpahkan cappucino di atas lengan baju kemeja Tama. Ia berusaha membersihkan dengan tisu, tapi terhentikan olah tangan yang menyergapnya. "Maaf. Tidak boleh menyentuh! Bukan mahram. Dosa dan haram..." ia berusaha tenang meski saat itu Ega ingin sekali mencabik-cabik gadis ular itu. Ia menahan agar mertabat suaminya tidak rusak di mata orang lain.


Ia memilih pergi dari tempat itu kerena dipermalukan oleh Ega di depan umum. "Awas aja loh! Kan gua buat kalian bertengkar di depan umum itu janjiku"