EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Bab. 10 (LAUHUL MAHFUZ)



Satu tahun kemudian...


Waktu berlalu begitu saja, kenangan di ingatanku perlahan menghilang. Bukan berarti aku melupakannya bukan!


"Ega ikhlaskan aku...kembalilah ceria sayang!"


Heyy...! Bahagia tak harus melupakanmu bukan?


.....................


Seorang gadis melangkah cepat menuruni tangga. Hari ini jadwalnya bertemu Dosen killer dan cerewet. Panggil saja ia Ibu Ros. Dia dosen yang paling menyebalkan, meski ia dosen paling muda diantara lainnya. Tapi, dia cukup disegani oleh-oleh mahasiswa dan dosen lainnya. Bagaimana tidak! Ia adalah anak yang punya kampus yang cukup terkenal di kota ini. Uhh! Sebel...!


"Assalamualaikum Ma, Pa. Ega pamit" Pamitnya seraya mencium tangan kedua orang tuanya, dengan balasan pelukan hangatan kedua orang tuanya.


Sudah setahu berlalu. Ega menjalani hari-harinya tanpa sahabatnya itu. Finattalia pergi keluar kota ikut bersama Fizri. Ia sudah tinggal 4 tahun bersama keluarga Fizri, semenjak ia mengalami broken home. Hatinya hancur bahkan dia sempat mengalami depresi berat selama berbulan-bulan waktu itu ia sebelum bertemu dengannya. Ega merubah segalanya termasuk hidupnya yang menjadi lebih baik.


"Hati-hati. Naik motor jangan ngebut!" Ucap kedua orang tuanya sebelum gadis itu benar-benar menghilang dari pandangan.


Membalikkan tubuhnya, mengangkat tangannya memberi tanda hormat."Siap!!!" Kedua orang tuanya tak pernah lelah memberi nasihat kepada anak sematang wayangnya.


"Ma...Ega uda besar?"


"Terus Papa mau nikahkan muda Ega gitu, " Ucap Ibu Fhirmasari ngasal. "Punya cucu dong!" Ia melanjutkan kembali ucapannya. "Mang Papa uda ketemu calonnya gitu?"


"Hem!" Laki-laki paruh baya itu terkekeh pelan melihat raut wajah istrinya.


"Apa Ega, tidak keberatan Pa?" Sambil menyendok makanan ke dalam mulutnya.


"Liat aja nanti!" Melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.


......................


Suara hiruk piruk di dalam kelas terdengar jelas. Ega lebih memilih keluar kelas menuju taman. Salah satu temannya menarik pelan tangannya. "Mau kemana Ga..."


Diam sejenak. "Mau keluar aku butuh udara segar, lagian Ibu killer itu cuti beberapa hari. Jadi jam kosong bukan?"


"Iya sih" Sambung gadis itu.


"Telepon kalau ada dosen pengganti yang masuk ya?"


"Oky! Siap." Mengacungkan kedua jempol. Ia adalah gadis yang berusah menganti sosok Finattalia meski bukan secara langsung.


Ega terpaku sejenak melihat pemandangan taman dihadapannya. Ega duduk di sebuah ayunan di sudut taman itu. Ia menghirup napas dalam-dalam, mengisi kekosongan yang teramat sangat di dalam dirinya. Suasana di pagi hari yang cerah melengkapi kedamaian di dalam hidupnya. Burung-burug berkicau riang di atas dahang pohon.


"Sampai jumpa di kehidupan selanjutkan"


Ega merutuki dirinya sendiri. Ia kembali mengingat saat Fizri mengajak ke taman terakhir kalinya. Andai saja waktu dapat diputar. Ia akan memberi kesempatan Fizri untuk duduk berdua dengannya. Seperti saat ini.


Hem! Maaf aku kembali ingkar? Kembali mengingatmu, kamu harus paham bahwa kamu itu berbeda! Teriak Ega, matanya perlahan meneteskan airnya. Didalam tatapan kosong ia membiarkan air matanya kosong begitu saja.


"Jika kamu ingin aku melupakan dirimu. Maka buatlah aku jatuh cinta bisakah?" Ia berbisik ditengah deru angin.


Mang dasar Ega konyol, berawal iseng jadi doa yang terkabulkan.


"Secepat inikah?" Ega menatap tajam sosok di seberang sana. "Dia bukannya orang menyelamati gua waktu itu buka." Ia berusaha mengingat wajah itu yang tidak pernah dilihatnya kembali setelah peristiwa itu.


"Kejar dia Ega. Dialah takdirmu" Suara Fizri berbisik ditelingaku, sebelum berlalu terbawah angin.


"Ha...! Sekarang banget. Demi kamu Fizri aku yang bakal ngebucin sama cowok itu!"


Tama menatap heran gadis itu tiba-tiba muncul begitu saja dihadapannya. Ia menghela nafas pelan. Ia merasa tidak mengenal gadis itu. Laki-laki itu sudah terbiasa didekati perempuan bahkan dikejar-dikejar, mungkin saat ini pun hal itu bisa terjadi jika Tama tidak menggunakan masker dan topi. Tapi, bagaimana Ega bisa mengenalnya? Hayo! Hem... ya! Pas lepas topi hahaa! Bagaimana tidak, ia sosok laki-laki yang tinggi bertubuh bidang, apalagi lesung pipit di pipinya melengkapi ketampanan.


"Haii," melambaikan sebelah tangannya pas didepan wajah laki-laki itu. "Perkenalkan saya Firzahra Ega. Panggil aja Ega." Menjulurkan tangan kanan kearahnya.


Sementara itu. Tama berjalan dan tidak memperdulikan sosok di sampingnya. Kesel karena diabaikan. Akhirnya Ega melangkah cepat untuk berada dihadapannya. Langkah kaki Tama terhenti begitu saja.


"Kok diam. Jawab dong? Kamu harus bangga karena kamu satu-satunya cowok yang gua kejar seperti ini" Menujukkan diri. Tatapan mereka bertemu begitu lama.


"Haii! Sayang..." Tersenyum tatapan agresif. Laki-laki itu melangkah maju di hadapan Ega, sontak ia berjalan mundur. Bukk! Ia terkunci di antara dinding dengan Tama. Kali ini kedua tangannya naik ke dinding mengunci pergerakan Ega. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.


"Lo tau! Gua bisa nyium lo sekarang. Dan ini adalah keahlianku." Geretak Tama.


Ega menelan salivanya dengar kasar jantung berdetak kencang. Ia berusaha bersikap tenang meski sedang terpojok dengan keselahannya. "Hem. Yaa uda, cium aja!" Tantang Ega, Fizri...bisa-bisanya gua bersikap bodoh! Tuhan... tolong aku! Bagaimana jika menciumku. Hilang keperawanan bibirku.


Teriakan! Menghakimi. Usir Dia, dia tidak pantas di sini dia menghancurkan reputasi kampus ini! Faktanya itu hanya tariakan khayalan difikirannya saja. Tidakkk!!! Teriakan yang cukup keras membuat Tama sontak menjauh dari Ega. Ega berlari kencang menjauh dari pandangan Tama setelah mendapatkan kesempatan.


"Dia kenapa?" Tama menatap heran, sesekali terheran melihat tingkah lakunya.


Ega menatap kearah belakang. Untung dia tidak mengejarku! Tama tidak terlihat sama sekali. Ia terhenti sebelum memasuki kelas, "permisi" Ia mematung di depan pintu melihat dosen killer itu mengajar di sana. "Ehh ibu. Sudah lama?" Baru saja hendak menuju kursi suara wanita menggelegar diruangan itu "Berhenti. Keluar...!!!"


Gadis itu melangkah lesu keluar dari kelas "Baik Bu"


"Maaf telat kak!" Ucap laki-laki itu santai.


"Tama...sudah berapa kali aku bilang jangan samakan rumah dan kampus. Seharusnya kamu sudah wisuda bukan malah membatu di kelas ini," Terdiam sejenak menetralkan emosinya. "Keluar"


"Apa-apaan sih! buat malu aja. Ok...fine" Teriakan seorang Tama membuat mahasiswa lainnya sontak menatap wajah laki-laki itu secara bersamaan.


Ternyata mereka bersaudara?


"Dasar anak jaman sekarang tidak punya etika dan sopan santun." Meski Tama adalah adik kandungnya. Ia tidak membedakan poisisnya dengan mahasiswa lainnya.


Ega mengintip dari balik jendala. Adik, kakak sama saja! "Ternyata Bu Firrosi tidak seburuk yang ia duga. Pantas aja ia di segani. Dia menjunjung tinggi peraturan.


"Hai! Nasib kita sama ya?" Menjijit menyamakan tingginya dengan laki-laki itu. "Apa ha! Mau gua cium?" Tekekeh pelan yang tanpa di sadari oleh Ega.


Ya...Tuhan. kuatkan imanku! "Kekantin yuk?" Menarik pelan tangan gadis itu.


"Haa.."


"Ta-tapi..."


"Daripada disini buat apa? Gua lapar nih!" Sambil memegang perutnya yang sudah sedari tadi berbunyi. Kebetulan hari ini Ega juga tidak sempat serapan.


"Boleh" Tatapannya terpaku melihat sosok Tama.


"Fizri takdir seperti apa ini? Bahkan aku tidak mengerti seolah ada magnet menarik aku ke arah laki-laki tampan itu"


"Tuhan...bantu Gua!"