EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Bab. 8 (RAHASIA YANG TERBONGKAR)



"Tidak...." Ega memberontak emosinya sudah tak terkendali, "kalian bohong tidak mungkin Fizri meninggal."


"Tapi-" Ujarnya, perlahan menenangkan sahabatnya itu.


Menghempaskan tangan Finattalia dengan kasar "Kalian jahat..." Selama ini kalian hanya pura-pura perhatian sama gua iyakan!" Ega pergi meninggal mereka begitu saja tanpa memperdulikan dua orang dibelakang berlari mengejarnya.


"Ega..tunggu kami!" Panggil Fikri, mereka berdua berusaha mengejar gadis itu. Entah sejak kepan Ega bisa berlari sekencang seperti saat ini.


Nafasnya sudah tersengal-sengal. Tanpa ia sadari, ia telah masuk di dalam gang kecil yang disekililingnya tidak ada tanda-tanda kehidupan, rumah-rumah kosong terbekelai. Beberapa tahun yang lalu tampat ini di jadikan aksi kejahatan pembunuhan maupun pemerkosaan. Banyak korban yang terbunuh tanpa diketahui pasti identitasnya.


......................


"Nat, Ega kemana?" Memekik keras, ke arah gadis itu,


"ini semua salah lo! Coba dari awal tidak melarang gua memberitahukan kejadian yang sebernanya, yang sudah menimpah Fizri. Tidak akan seperti ini!"


Finattalia mematung mendengar penuturan Fikri. Ia cuman bisa menangis dan menangis. "Maaf...gua yang salah," menarik nafas perlahan, dadanya kini sudah sesak, ia berusaha mengatur pernafasan sebelum melanjutkan ucapannya. " Jika Ega sampai kenapa-kenapa aku tak mau hidup lagi" Finattalia meracau tidak jelas, ia memukul tubuhnya sendiri.


Fikri berusaha menahannya agar dia tidak nekat melakukan lebih kejam lagi kepada dirinya sendiri, ia takut Finattalia kembali terulang seperti masa lalu. Jangan sampai depresi meregoki tubuhnya kembali. Cukup lama gadis ini bangkit dari masa yang kelam itu.


Apa karena dia kehilangan penenangnya?


......................


Ega merasa ketakutan ketika berada di suatu tempat yang semenakutkan ini, ia berada di tempat yang tidak di ketahui dirinya sama sekali. Tempat ini begitu asing, kini perlahan matahari mulai tenggelam. Suasana begitu mencekam, suara pijakan ranting terdengar jelas di telinga. Apa karena ini tempat ini kosong? Bahkan suara kecil pun dapat tertangkap ditelinga. Sehingga pikiran Ega melayang kemana-kemana. Bisa-bisanya ia terjebak disuatu tempat seperti. Seolah kehilangan arah. Gadis perlahan mencari sesuatu di dalam sakunya.


"Ha! Tidak ada. Apa terjatuh saat aku berlari. Bagaimana ini?" Mencari tempat yang aman. Saat ini dia hanya butuh tenang, meski dirinya begitu takut. Dinginnya malam membuatnya menggigil kedinginan untung saat ini dia memakai hoddie yang tebal dan oversize.


Yaa...Tuhan lindungi hambamu ini. Gadis itu selalu berdoa meminta perlindungan dari Allah. Seketika suara langkah kaki perlahan melangkah suara tawa terbahak-bahak disertai suara berdenting. Ega memeluk dirinya sendiri, menenangkan diri agar tidak takut. "Aku bukan gadis penakut" Ia memilih bersembunyi di bawah meja. Mungkin baginya ini adalah tempat yang aman, setidaknya dia bisa bertahan sampai esok pagi.


Pandangan mata Ega beredar kembali, dari satu sudut ke sudut lainnya. Tapi dia tidak melihat suatu bayangan atau pun suara itu lagi di bisikan telingannya. Mungkin mereka sudah pergi. Tak jarang tempat ini dijadikan markas para pemabuk yang sering berkeliaran di sini.


Lampu-lampu yang terpasang di langit-langit rumah hanya memancarkan cahaya remang-remang dan di balik keremangan cahaya itu dilihatnya sesuatu bayangan yang berjalan kearahnya. Meskipun matanya sudah sedemikian rupa dibeliakkan tetap saja sosok itu tidak dapat dikenal secara jelas.


Perhatiannya teralihkan begitu saja ketika mendengarnya suara langkah yang diikuti dengan kemunculan sosok laki-laki bertopi dengan masker diwajah, hoddie yang berwarna hitam yang dipakai terlihat nyatu dengan cahaya yang redup.


Gadis itu membaca surah-surah pendek dan ayat kursi, meminta permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Sosok itu semakin berjarak dekat dihadapannya. Bukk! Kepala yang terbentur dengan keras sehingga bisa mengalihkan sosok itu, ia perlahan melangkah ke suara itu yang ditimbulkan oleh Ega. Ia menahan isak tangisnya, Ega meringis kesakitan, membungkam mulutnya dengan sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara kembali.


"Kamu. Kenapa bisa ada di sini."


"Ahhh!" Sontak Ega menjerit ketakutam


Hushhh!


Laki-laki itu berusaha membungkam mulutnya agar tidak menarik perhatian orang yang berniat jahat yang berada ditempat kosong ini. Ia berusaha menenangkan gadis itu.


"Bunuh aja gua..." Ia meronta dan memukul berulang dada laki-laki itu.


"Fizri gua datang menyusul lo di sana...!" Ucapnya pelan. Penglihatannya mulai memudar, pada akhirnya Ega terkulai lemas di pangkuannya.


"Tenang! Gua bukan orang jahat." Bisiknya ditelinga gadis itu yang kini sudah tidak sadarkan diri. Ia membopong gadis ke arah motornya terparkir. Mengikat tubuhnya Ega agar tidak terjatuh saat di bonceng.


"****. Kenapa saat seperti ini, malah gua tidak membawa mobil!" Umpatnya di dalam hati.


Siapa yang tahu. Mereka di pertemukan dengan cara seperti ini?


......................


Suara azan sholat isya telah berkumandang. Terlihat dua sosok itu masih kebingunan, sesekali menanyakan ke orang-orang disekitar wilayah itu, dengan menunjukkan photo gadis itu. Tapi, tidak ada salah satu pun dari mereka yang merespon keberadaannya.


"Kita tak boleh pulang sebelum Ega ditemukan" Fikri membalas dengan anggukan. Ia meneguk saliva dengan kasarnya.


Triing!


Telepon yang sudah berdering dari tadi akhirnya diangkat, "Ini siapa ya?"


Sejenak, Fikri mendengarkan perkataan orang yang menelpon dari lokasi lain, hingga kemudian, Ia melotot. "Baik, aku segera ke sana!"


"Siapa Fik...?"


"Haa"


"Kok bengong!"


"Ayok cepat!"


"Baiklah"


Mereka bergegas menuju ke lokasi yang dituju. Finattalia menatap serius ke Fikri, ia menatap dengan kebingunan. Fikri yang saat itu tengah fokus menyetir pun langsung menoleh ke arah gadis itu. "Kenapa?"


"Loh! Yang kenapa sih. Terlihat santai saat seperti ini," Raut wajah yang siap mengekskusinya. "sadar gak sih kalau Ega hilang-paham-tak"


Diam sejenak menarik nafas kasar. "Hem"


"Haa! G*la" Umpat Finattalia.


"Turunini gua sekarang!"


"Finattalia Alangi sepupu ku yang paling cantik dan nan imut" Terkekeh pelan.


"Haa!" Mengernyitkan dahi, mengalihkan pandangan ke arah jendela dengan bibir mengerecut. Dia sudah tidak paham lagi maksud dari laki-laki itu.


......................


Seorang laki-laki berjalan masuk ke dalam kamarnya sambil membuah sebuah tampan di tangannya yang diatas sudah ada segelas susu dan roti. Suara pintu terbuka perlahan. Ia mengucapkan salam sebelum masuk.


"Permisi. Assalamualaikum" Terlihat sosok gadis terbaring lemas wajahnya pucat matanya sedikit sembab.


"Gua dimana?" Sambil memengang kepalanya yang masih sedikit terlihat linglung.


"Kamu di rumah saya? Tenang kamu sudah aman disini. Istrahatlah sampai kamu merasa sehat kembali." Ucapnya sembil meletakkan tampan di meja.


"Terimah kasih." lirihnya.


"Permisi Tuan. Ada tamu?" Ucap perempuan yang berumur sekitar 45 tahun itu.


"Baik Bi terimah kasih." Ujarnya pelan.


Mengangguk pelan seraya pamit keluar. Panggilan dari belakang membuatnya menghentikan langkahnya. "Bi. Tolong jaga dia ya? saya mau keluar dulu"


"Baik Tuan"


......................


Sebuah mobil memasuki area parkiran yang cukup luas. Dihadapan terlihat sebuah bangunan nan mewah dan indah. Besar seperti istana kerajaan. Sepasang pasutri turun dari mobil menatap takjub pemandangan yang begitu indah. Ini taman atau karnaval, lampu-lampu menghiasi disetiap sudut taman itu.


"Ini rumah siapa Fik? Main masuk aja."


"Ini benar kok share location-nya."


"Kita mau ngapai, sih?"


"Mau ketemu pujuan hati gua lah"


"Ha...! A-apa, pujian hati lo gak paham. Ma-ma-maksudnya?" Ucapnya terbata-bata, ada apa dengan Fikri?


"Permisi pak, ada bang Firmantara Tama?"


"Oh, ad. Tuan di dalam"


"Terimah kasih pak"


Dibalas dengan anggukan. Finattalia yang menatap heran dari belakang. Firmatara Tama, Tuan, pujuan hati. Haa! Kepalanya terlalu begitu sempit untuk memahami hal itu.


"Nat. Kok bengong ayuk masuk" Menarik pelan tangan gadis itu.


"Hem."