EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Bab. 7 (KESEDIHAN TIADA HENTI)



"Ku butuh waktu dan ruang. Untuk melupakan semua kenangan yang sudah terlewati."


_ Firzahra Ega.


...----------------...


Gadis itu mengatur nafasnya. Sebelum berjalan sendirian masuk ke gerbang sekolah. Hujan yang awalnya hanya gerimis perlahan berubah menjadi deras. Bel masuk berbunyi sekitar setengah jam yang lalu, tapi hujan deras membuat sekolah sampai saat ini terlihat sepi daripada biasanya.


Ega masuk ke kelas dan segera meletakan tasnya agar tidak basah dan meanginkan. Baru berapa langkah meninggalkan ruangan itu. Brukk! Gadis itu terjatuh dengan sosok tubuh tinggi bidang.


"Auhh..." Ega meringis kesakitan. Ia memegangi sikunya yang sudah mengeluarkan tetesan darah.


"Maaf. Aku tidak sengaja." Laki-kaki itu sontak berlari begitu saja.


Beberapa menit berlalu. Terlihat dari jarak lumayan jauh terlihat sosok itu kembali lagi, ia berlari cepat di tangannya sedang menenteng sesuatu. Itu bukannya P3K ya?


"Maaf. Sedikit telat." Penuturan laki-laki itu. Ega mengunci tatapannya. Siapakah sosok di hadapannya ini. Siswa barukah? Tapi. Kok pakaiannya seragam kuliah. Pertanyaan itu keluar begitu saja.


Setelah memasang pelaster di siku gadis itu dia pamit dengan senyuman manis. "Sekali lagi maaf" Sedikit membukukkan tubuhnya.


Diam sejanak. "Hem. Tak masalah..." Melambaikan tangan ke arah sosok itu yang kini terlihat hanya punggungnya.


"Terimah kasih." Laki-laki itu menoleh sekilas dengan senyuman, pipi yang berlesung itu menyempurnakan ketampanannya.


......................


Sepasang pasutri tampan dan cantik blasteran jepang. Mereka berdua memasuki ruang khusus rapat. Deg! Sosok itu bukanya? Seragam itu bukannya Universitas...? Seragam yang dikenakan oleh mereka berdua menampilkan sebuah nama kampus di bagian dada. Benar! Itu nama kampus yang aku list di dalam buku kecil itu?


"Selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama kakak Firmantara Tama dan ini teman saya Fhi-" Terpotong karena disergap cepat oleh gadis itu. "Fhira Miccela."


"Kami di sini hadir sebagai perwakilan dari Universitas Gapura Garuda" Tama menjelaskan beberapa hal dan memberi ruang untuk siswa yang mau bertanya.


Tiga puluh menit berlalu mereka pun pamit undur diri. Tak banyak dari siswa yang meminta photo atau selfie bareng mereka berdua. Sepergian mereka disusul oleh seorang ibu guru yang memasuki ruangan itu.


"Jam 1 nanti pengumuman kelulusan sudah bisa di lihat di mading ya?" Ucap Ibu Wakil Kepala Sekolah.


"Siap Bu. Terimah kasih" Balas siswa di ruang itu.


"Nat kita lulus dengan nilai memuaskan. Tapi-" Ia diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. "Fizri tidak ada bersama kita!" Air mata gadis itu perlahan berlinang membasi pipinya. Finattalia menatap nanar sambil mengusap punggung Ega secara perlahan.


Seorang laki-laki datang dengan membawa sebuah kartu ucapan dengan buket bungan mawar merah dan putih ditangan kanan, ia menyembunyikan dibalik badannya. "Selamat hari kelulusan, Firzahra Ega" Surprise! Fikri mengejutkan Ega sambil menyerah buket bunga yang sedari tadi di tangannya.


"Terimah kasih Fik..."


Berdehem sebelum meluruskan niat untuk mengatakan suatu hal. " Ega. Bolehkan saya menghabiskan waktu bersama mu, meski cuman sehari ini."


Ega tersenyum tipis sambil mengangguk. "Boleh" Ucapnya setelahnya, mengalihkan pandangan ke arah lain. Mata gadis kini mulai berkaca-berkaca. Wajah itu terus memenuhi ingatannya.


Sebuah tisu terjulur dari seseorang. "Terimah kasih Fik" Imbuh Ega kali ini di balas dengan anggukan oleh Fikri.


......................


Inikah Univesitas itu. Ah! Mungkin hanya kebetulan. Mereka duduk di taman kampus itu sambil mengarah ke pintu masuk. "Ega. Kita masuk sini aja yuk? Pas tadi aku dengar dari mahasiswanya dan mencari info dari orang-orang kalau kampus ini memang bagus dan berkualitas." Ega menghela nafas pelas. Ia kembali merindukan Fizri. Yang sudah beberapa minggu ia tidak mendengar kabar sosok itu. Bahkan pertemuan terakhir mereka pun rasanya berlalu begitu saja. Tanpa ada kenangan khusus.


Hening kembali menyapa, tak ada yang mulai berbicara di antara mereka berdua. Pada akhirnya. Fikri menyadari ada kejanggalan dari keheningan ini. Akhirnya dia inisiatif membuka suara. "Ega lanjut yuk?"


......................


Mereka menuju suatu tempat menyenangkan dan mampu membuat senyum terukir diwajah gadis itu. Kupu-kupu warna-warni berterbangan kesana kemari suara angin dengan sapuan lembut menyapa pipi.


Senyum gadis itu perlahan merekah sesekali terkekeh pelan melihat aktivitas anak-anak itu bermain dengan lincahnya. Terimah kasih Tuhan! Telah menciptakan senyuman di wajah gadis manis ini.


Jam di pergelangan tangan Fikri menunjukkan pukul


17.00 WIB. Mereka yang sudah berada ditaman sudah beberapa jam yang lalu, kini begegas pulang ke rumah. Fikri menghela nafas panjang. Perlahan, ia menoleh ke belakang untuk menatap Ega. Tangan laki-laki itu perlahan meraih jari-jemari gadis yang dicintainya.


Fikri menatap sungguh-sungguh gadis itu. "Ikhlas Ega. Jangan terus-menerus tenggelam dalam angan-angan dan harapan yang tak berujung pasti"


Melanjutkan ucapanya berharap kata-kata yang diucapkan dapat menguatkan gadis itu. "Ega...kamu harus menerima yang sudah menjadi takdirmu."


Satu tangan laki-laki itu perlahan naik mengusap pelan puncak kepala gadis itu. "Beri kesempatan bagi yang ingin membahagiakanmu!"


"Haa! Ma-maksudnya?" Sambut Ega. Fizri hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya.


"Kita pulang yuk!"


Ega mengigit bibir bawahnya, lalu mengikuti jalan Fikri dari belakang. Baru beberapa langkah bahu Ega bergetar menahan tangis yang sedari tadi ditahannya. Semua ini terasa begitu menyakitkan.


Rasanya begitu menyedihkan berbicara kepada angin yang sampai kapan pun tak akan bisa di balas. Ia sedikit ragu, takut membebankan sosok di hadapannya jika diungkapkan, meski sosok itu pasti senang hati mendengar setiap keluhannya.


Berhenti sejenak, terduduk di sebuah kursi taman. "Sekali lagi. Maaf Fizri..." Tangan Ega mengusap air matanya dengan kasar sehingga terlihat kemerahan di kelopak matannya. Meski air mata ini tidak akan berguna lagi apalagi mengubah keadaan.


Fikri yang sudah jauh dari pandangan tidak sadar kalau gadis itu lepas dari genggamannya.


"Ega..." Fikri membalikkan tubuhnya ketika tidak mendapat jawaban.


Terlihat dari jarak lumayan jauh Ega tersenyum tipis sebelum menggangguk pelan. Tersirat kesedihan diwajah gadis itu. Fikri kembali menyusul gadis itu, yang sejak tadi tidak menyadari keberadaannya. Hal saat seperti ini yang bisa dilakukan hanyalah membuat Ega melupakan sosok Fizri. Walapun mereka tahu itu mustahil.


"Nat kemana ya Fik...dari tadi belum ada muncul." Ia mencari sosok itu ketika sadar ada kurang.


"Hem. Dia pergi buru-buru, jadi dia minta tolong aku yang temani kamu di sini Ga."


Mulutnya membulat. "O" Ega menatap langit yang perlahan berwarna jingga di atas sana terlihat sangat indah, sangat kontras dengan suasana hatinya.


Tanpa mereka sadari dari tadi ada sosok gadis mengintai mereka dari jarak jauh. Ia turut bahagia karena Fikri mempu menciptakan senyuman di wajah Ega. "Maaf. Ega..." Finattalia kembali mengerutuk dirinya sendiri, rasanya sesak melihat sahabatnya yang menderita sampai saat ini.


......................


"Assalamualaikum Ma" Menyalami paruh baya itu.


"Waalaikumussalam" Mengelus perlahan kepala anaknya dengan lembut.


"Makan dulu yuk!"


"Tidak Ma. Belum lapar" Menoleh sejanak sebelum melangkah ke dalam kamarnya.


Jam dinding menunjukkan pukul 21.00 WIB. Ega memilih untuk menyandarkan tubuhnya di sandara kursi yang mengarah ke arah jendala ia melihat suasana aktivitas manusia yang mulai melonggar.


Kini pandangannya beralih tertuju pada hujan yang mulai turun. Dinginnya suhu di dalam ruangan itu membuat Ega memeluk dirinya sendiri, mencoba memberi kehangatan untuk dirinya sendiri. Ia merindukan sosok laki-laki itu yang kini menjadi tidak lebih hanya kenangan bagi yang menciptakan. "Aku rindu kebucinanmu, puitismu, kekonyolan dan dirimu..." Teriak Ega didalam keheningan. Hujan kembali menemaninya disetiap malam yang diselimuti oleh kesedihan.