
Seseorang melamun sendirian di dalam kamar yang tertutup, tanpa adanya penerangan, hanya ada seberkas cahaya dari rembulan. Lembar tisu berserakan, keheningan di tengah malam. Terdengar rintihan seorang gadis, dunia terlalu kejam buatnya.
Aku lelah Tuhan...! Sungguh semuanya terasa menyakitkan.
Tapi kenapa? Ia tak percaya bahwa malam itu akan mendatangkan malam petaka buatnya. Sebuah botol kecil berisi cairan bening sebagai bukti terkuat bahwa mereka telah merencanakan dari awal. Bagaimana ada manusia berhati sebejat itu, dan berani melakukan hal tidak manusiawi, yang lebih menyakitkan ialah sosok yang selalu aku banggakan selama ini. Rasa cinta, kasih sayangnya berubah dalam sekejap. Apa salahku Tuhan! Gerutu gadis ini.
"Kamu...ngapai disini? Ini waktunya tidur," ia menatap sosok dihadapannya, sebuah gelas di tangan kanan.
"maaf, ini air untukmu. Kata Ibu, kamu lagi kurang sehat" Meletakkan gelas di atas meja.
"Jangan lupa makan obat, saya sudah sediakan di laci" Tambahnya, sebelum pamit keluar.
"Terimah kasih" Dibalas senyum manis darilaki-laki berwajah tampan itu.
Aku rindu dia Tuhan...! Sungguh!
Seharusnya aku tidak memutuskan dia bersalah tanpa harus mencari bukti sebenarnya. Penghianat handal, kau rebut semua kebahagian dan hidupku.
"*****...!" Gadis ini semakin meracau di dalam kegelapan malam, hidupnya terasa kelam ketika satu persatu orang tersayangnya di ambil satu persatu.
"Dia bukan manusia, tapi iblis berwujud rupa manusia!" Teriakan begitu ngilu dan menyakitkan.
Sungguh kasihan kini hidupnya sebatang kara tanpa ada kehidupan mengelilinginya. Ia rindu kebersamaan itu, dulu hidupnya begitu tentram dan damai sebelum manusia ular itu memasuki kehidupannya. Seharusnya dia mati saja, darah gadis ini semakin mendidih ketika melihat sosok berada di tengah photo keluarganya.
......................
Azan subuh berkumandang. Samar terdengar suara Tama yang pamit hendak menunaikan sholat di surau dekat villa. Sementara Ega memilih untuk sholat di rumah. Sebab sebaik-baiknya wanita ialah menunaikan sholat di rumah.
Melihat kondisi Ega belum sepenuhnya pulih beberapa jam yang lalu ia memutahkan semua isi perutnya, bahkan sampai saat ini ia belum memakan apapun. Perlahan ia melangkah mengambil wuduh di kamar mandi.
Ketukan berulang dari pintu luar kamar terdengar, Tama merasa gundah karena belum ada jawaban sama sekali dari dalam. Ia berusaha bersifat tenang, menarik nafas berkali-kali tidak dapat membuang rasa khawatirnya.
Tok...tokk...tokk...
"Assalamualaikum, sayang!"
"Assalamualaikum, Ega, sayang!"
Tama kembali mengetuk pintu berharap ada jawaban. Rasanya tidak mungkin ia kesiangan sampai jam segini.
Ia mencari sesuatu dari saku baju koko, "Assatagafirullah...ponsel ketinggalan di dalam."
"Apa sebaiknya aku mendobrak aja"
Brakk...
Mata Tama membulat ketika melihat tubuh terkulai lemas, mukena terusan berbentuk gamis masih melekat di tubuhnya.
"Ya Allah... Ya Allah..." Tama menyebut-nyebut nama Tuhannya. Seolah bertanya mengapa semua ini terjadi padanya. Pikiran kalut ia tidak bisa berfikir jernih lagi, ia mengecek berulang denyut nadi Ega, tapi tetap saja tak ada respon.
Tama mematung dihadapan istrinya, tidak... sadarlah Tama Ega akan baik-baik saja. Ia bergegas mencari kunci mobil, lalu membopong istrinya ke dalam mobil.
Baru beberapa kilo meter mereka menuruni penggunungan tiba-tiba hujan turun begitu deras, membuat mobil Tama hampir saja terjatuh kejurang yang terjal. Ia berusaha mengendalikan mobilnya, agar tetap aman sampai tujuan. Tanah licin dan berlumpur membuat dia kewalahan untuk mencari jalan aman.
Sesekali ia menoleh ke arah Ega, yang masih terkulai lemas di bangku belakangn. Dalam hati selalu beristigfar dan memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Rasanya begitu lama, tidak seperti biasanya. 5 jam sudah berlalu masih saja belum memasukin jalan perkotaan.
Tringg... tringg... tringg...
Sungguh! ALLAH Maha Mengetahui.
Di saat seperti ini, mama mertuanya menelpon. "Ma... Ega tidak sadarkan diri, sekarang Tama uda menuju ke rumah sakit terdekat" Tanpa menucapkan salam.
"Waalaikumussalam... apa! Bagaimana bisa, Mama dan Papa nyusul ke sana, kamu hati-hati bawa mobilnya" Telpon terputus.
ALLAHAMDULILLAH...
Tanpa pikir panjang, Tama langsung membopong tubuh istrinya memasuki rumah sakit. "Sus, bantu saya"
"Baik pak, sebaiknya bapak menyelesaikan administrasi terlebih dahulu"
"Baiklah,"
"Astagafirullah... dompet!"
"Ahhh..." Tama memberontak seperti orang gila.
"Sus tolong bantu saya, saya akan melunasi semua nanti tapi tolong, rawat istri saya" ia memohon di hadapan suster di bagian administrasi.
"Tama..." Tegur perempuan paruh bayah.
"Ega mana?"
"itu Ma... " ia menunjuk tubuh istrinya diatas brankar dorong.
"KENAPA ANAK SAYA MASIH DI SINI, ANDA MAU BERTANGGUNG JAWAB JIKA ANAK SAYA KENAPA-KENAPA HAA..." Teriak pak Fandra Wirta, Papa Ega, beliau adalah orang yang terkenal di dalam bisnis.
"Panggil atasan kalian!" Merendahkan nada suaranya, para suster bergemetar. Suster lainnya menghubungi atasan mereka.
"CEPAT..." Berteriak dengan lantang.
"Maaf, pak Fandra, maafkan atas kelancangan dari Suster sini, mereka hanya melakukan tugas saja" Ucap lelaki paruh bayah itu, ia mempersilahkan dan memberi perawatan intensif buat Ega.
"INGAT! JIKA ANAK SAYA SAMPAI KENAPA-KENAPA, SAYA TAK AKAN SEGAN-SEGAN MELAPORKAN RUMAH SAKIT INI" Memegang erat kera baju lelaki itu.
Ibu Fhirmasari berusaha menenangkan suaminya yang kini sudah naik pitam. Jika terlambat beliau bisa saja menyakiti siapapun. Beda halnya dengan Tama ia duduk di kursi dengan tatapan kosong, air matanya menetes begitu saja.
Tuhan... ambil saja nyawaku, aku ikhlas.
Sebuah tangan menepuk perlahan pundaknya. Perempuan paruh bayah itu duduk di samping menantunya, beliau berusaha menguatkan Tama. Meski hatinya begitu sakit melihat anak satu-satunya terbaring dengan bantuan alat medis.
Sudah 2 jam berlalu, Dokter itu belum keluar juga. Membuat mereka semakin khawatir, pak Fandra hanya bisa mondar-mandir seperti setrika kusut.
Ibu Fhirmasari hanya bisa menangis dan berdoa memohon kesembuhan anaknya. Sedangkan Tama belum pulang dari masjid, di sana ia memohon dengan sepenuh hati. Kesembuhan istrinya adalah hal yang terpenting.
Ceklek...
Akhirnya pintu terbuka, setelah 5 jam menunggu. Kedua orang tua Ega langsung menghampiri Dokter perempuan muda itu.
"Bagaimana kondisi anak saya Dok?" Tanya Bu Fhirmasari.
"Allhamdulillah, ibu Ega telah melewati masa krisisnya. Maaf bu, suaminya di mana?" Ia mencari sosok lelaki muda yang menurutnya itu adalah suaminya.
"Saya Dok, istri saya baik-baik saja kan" Imbuh Tama yang baru saja datang.
"Allahamdulillah, dan selamat buat bapak" Dokter muda ini memberi selamat kepada mereka, yang sebenarnya mereka tidak tahu apa yang di maksud oleh Dokter ini.
"Ibu Ega positif hamil" Tegas Dokter ini.
"Hamil Dok, benar? Langsung jadi dong!" Tama berbicara ngasal di hadapan kedua mertuanya. Mereka tertawa mendengar penuturan Tama.
"Allhamdulillah, selamat ya nak Tama" Ucap mereka serentak, sebuah pelukan erat dari papa mertuanya.
"Akhirnya, kita bakal jadi kakek dan nenek ya Ma" sambil memeluk istrinya.
"Kamu yang kuat yang sayang, dan bayi kita. Papa di sini" Bisik Tama dari balik kaca jendela.
"Mama tak mau tahu pokoknya kalian harus tinggal di rumah," tegas Bu Fhirmasari.
"Benar kata Mamamu, kamu harus stay di rumah untuk jaga istri. Ok!" Tambah Pak Fandra.
"Siapp... Mama, Papa ku sayang" Memeluk kedua sosok paruh bayah itu sekaligus. Mereka tersenyum bersama, menangis bahagia.