EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Bab. 20 (GADIS KE-21)



Pelukan perpisahan...


Ega memeluk erat tubuh kedua orang tuanya. Tangis mereka pecah terutama ibu dan anak, begitu menghayati, tangis kesedihan terlihat jelas di wajah mereka.


"Jaga suamimu, rawat dia dengan benar." Ega hanya mampu mengangguk. Seraya mengantar mama dan papa ke arah pintu. Lambaian tangan dan suara klakson mobil, menandakan perpisahan kembali.


"Kak Tama mau kemana?" Tuturnya pelan.


"Mau kuliah lah. Uda terlalu banyak libur" Dinginnya sambil mengenakan jaket hitam.


"Tunggu aku Kak?"


"Tak bisa! Gua pakai motor. Lo naik mobil aja" Ega mengulurkan tangan seraya ingin mencium tangan suaminya, malah dikibas cepat oleh Tama.


"Apa-apaan sih"


Deg!


Apakah tidak ada sedikit ruang untukku?


"Pilih kiss atau honey moon?"


"Sejak kapan kamu jadi istri gua. Siapa lo!" Ia menatap Ega dengan sorotan yang tajam, menaikkan alis dengan kerutan di dahi. "Ingat kita cuman sekedar status suami-istri-tidak-lebih..."


"Apakah dia tidak mencintai aku lagi"


"Tapi..." berusaha menghentikan langkah pria itu. Tapi terhentikan oleh Tama yang sudah keluar mengendarai motor bad boynya.


Ega menatap senduh kepergian suaminya. Meremas gamis dengan sangat kuat, mengigit bibir bawah demi menahan sakit dan tangis yang begitu menyesakkan dalam pembuluh darah kepalanya.


Kini gazebo itu menjadi tempat favoritnya setelah melewati keromantisan bersama Tama saat pertama kali ia datang di rumah ini sebagai sepasang suami dan istri.


*Flashback


"Cium..." Balasnya cepat, tatapan menoleh. Tama terkekeh mendengar penuturan istrinya.


"Ha.." Seketika tubuh membatu aliran darahnya seolah berhenti.


Ega. Kamu bodoh! Bisa-bisanya aku berucap seperti itu. Siap-siap diterkam singa jantan.


"Loh! Kok bengong"


"A-a-ak-aku-aku...!" Secepat kilat Tama sudah berada di hadapannya, wajahnya yang begitu lembut mendapatkan sentuhan tangan di pipi. Kok aku tak bisa gerak! Ia memposisikan wajah Tama.


Ega sontak menutup mata. "Jangan menolak suami berdosa Ega. Ingat pesan mama wajib melayani suami dengan baik agar tidak menjadi istri yang di laknat." Batinya ia berusaha tenang.


Jari-jemarinya menyentuh bibir istrinya. "Dasar anak kecil!"


"Ha..." Ia membuka matanya, apa maksud dari perkataan suaminya.


"Iya, liat bibirmu masih ada bekas selai roti tadi berlepotan lagi" Ia menjilat selai dipucuk jari telunjukkan. "Manis"


"Aaahh...bisakah aku mengeluh TUHAN..." Teriakan begitu kencang terbawa angin yang kini meniup dedaunan kering di hadapannya.


"Aku rindu suamiku, aku rindu bucinnya...aku janji jadi istri yang baik. Siap melayani suami apapun itu."


"Apapun itu? Terutama hon-" Dipotong cepat oleh Tama. "Iya. Aku mau sekarang juga boleh..."


"Haii. JANGAN TIDUR SEMBERANGAN TEMPAT, LO ITU SEORANG ISTRI PAHAM!" Ega tersontak bangun dengan teriakan yang hampir saja merusak gendang telinganya.


Cuman mimpi.


Ega membatin sambil menunduk sedih dihadapan Tama. "Maaf..."


Kenapa aku bisa berkata kasar seperti itu?


Sejahat itukah aku?


Sudah cukup!


"Iya. Sana masuk" Tangannya menunjuk ke arah pintu.


......................


Pukul 21.30 WIB. Ega duduk disebelah Tama yang kini bermain game di ponselnya. Menarik nafas pelan. Ia berusaha mendekati suaminya ia sudah berpakaian sedikit minim, demi menarik perhatian Tama. Ini semua usul Fhifa entah dapat ide dari mana dia? Dasar gadis muda berotak 21 plus. Tama yang masih terpaku di layar ponsel tidak sadar kalau istrinya sudah di sampingnya.


"Kak maukah malam ini?" Debaran jantungnya bergetar kencang. Ini ucapan rayuan pertama kalinya. Yang selama ini selalu menolak akan hal itu.


Uhh! Turun harga diriku?


Tidak! Kata pak ustadz kalau istri nawarin diri malah dapat pahala. Ega membatin sambil menatap Tama dengan wajah yang sangat malu.


"Tidak. Aku capek! Besok mau kuliah" Kasian Ega dikacangi. Tubuh Ega menggigil kedinginan. Karena saat ini ia tidak mengenakan piyama over size seperti biasanya malah sebaliknya, pakaian kurang bahan yang menampakkan lekuk tubuhnya.


Rasa kantuk menyerang, ia pun tidur disebelah suaminya. Sebuah tarikan selimut membuat Tama bangun dari tidurnya. Ia menarik selimut itu kembali, matanya terbelalak menatap pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat. Tahan! Tapi dia istriku. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Kini logika dan perasaanya beradu. Ia perlahan mendekati tubuh Ega yang saat ini tertidur terlentang.


"Maukah aku malam ini?" Ucapnya mengingau, Tama sontak menjauh dari pelukan Ega, semakin mengerat di lehernya sambil memperbaiki selimutnya.


Perlahan ia melepas tangan Ega lalu kembali tidur. "Hampir saja! Sampai kapan aku bisa bertahan jika begini terus!"


......................


Pagi-pagi Ega bangun dia mempersiapkan sarapan dan membereskan seisi rumahnya yang sangat luas. Setelah selesai sholat subuh Ega tidak tidur lagi. Ia memilih melakukan kegiatan yang berguna daripada sekedar menjadi kaum rebahan.


Ia kini menjadi nyonya besar sebagai menantu Fhirmatara yang cukup terkenal dengan kekayaannya di kota ini. Tapi, meski nyonya besar ia tidak mau menyewa asisten rumah tangga, karena baginya melayani suami adalah kewajibannya sepenuhnya sang istri. Ya...meski saat ini belum bisa melakukan banyak hal terutama memasak. Ia hanya bisa memasak jika berpatokan pada social media.


Tama terlihat kikuk menatap istri yang mempersiapkan serapan untuknya. Rambut hitam sebahu tergurai. Satu kata lalos begitu terucap di bibirnya. Cantik! Sesekali ia mencuri pandang ke istrinya saat sibuk. Egoiskah aku selama ini? sudah hampir menuju sebulan pasca kecelakaan, ia belum bisa melakukan banyak hal untuk istri meski hanya kata-kata pujian apalagi romantis. Ya! Sebenarnya bukan sepenuhnya salah Tama, kecelakaan dimalam itu meregut ingatannya akan masa keindahan bersama Ega.


"Kak masih mau nambah nasi gorengnya?" Tutur lembut tak lupa ia menampilkan senyuman di wajah. Kenapa senyuman manis itu membuatku sangat sakit?


Secepat kilat di sanggah oleh Tama. "Tidak. Sudah kenyang" Tama yang sudah bangkit dari kursi berjalan mengambil kunci dan jaket di dalam kamar.


Tama kamu sangat kejam. Sungguh tak bisakah memberi pujian atas keberhasilannya memasak hari ini?


Ia menangis sangat pelan sambil menyuap nasi goreng ke dalam mulut, rasanya sakit, nyesek, kecewa. Ega telan itu semua bersama nasi kedalam mulutnya. Ega tidak baik menteskan air mata di antara makanan.


"Kak. Tunggu" Mencium lama tangan Tama. Kerutan di dahi ia tampilkan, tatapan aneh tapi dia tidak bisa menolak.


"Hati-hati Kak. Assalamualaikum," membalas salam dengan wajah tanpa ekspresi. "Waalaikumussalam."


"Awwh...!" Pekiknya mengadu kesakitan saat berusaha mengejar Tama. Ia tersandung dengan kakinya sendiri. "I'm fine. Ok!" Ucapnya sambil merintih kesakitan. Sebuah goresan di lengan hasil ciptaannya sendiri.


Tama yang hampir saja menoleh melihat Ega meringis kesakitan, tapi terhentikan oleh rasa egois di dalam benaknya.


Kenapa dia begitu membenciku?


Apa yang salah Tuhan?


Ia kembali mengadu kepada Sang Pencinta Alam Semesta.