
Hem! Terimah kasih atas hari-hari yang indah lewati bersamamu. Angin bawalah rinduku bersamanya. Dia yang telah pergi Tuhan...!
"Nat. Kalau Fizri di sini pasti kalian beradu mulut lagi pasti kan"
"Hem. Fizri itu langkah ya Nat"
"Bucin dan titisan roman picisan lagi" Terkekeh.
"Nat. Jujur deh! Aku tuh. Uda cinta sama sayang banget sama dia tau...!"
"Tapi, takdir kita berbeda. Dia ditakdirkan untuk orang lain, sedangkan aku ditakdirkan untuk mengikhlaskan."
"Gimana...?"
"Nat. Sejak kapan suaramu berubah jadi cowok"
"Nat..." Ega belum sadar, siapa yang kini berada di belakangnya.
Tidak ada jawaban. Ega yang masih duduk membelakangi seseorang yang sudah cukup lama berada di sana. Ega pun menghelas nafas pelan, lalu bangkit dari ayunan.
Ia menoleh ke arah suara itu. "Fikri..."
Jarak wajah sedekat itu, membuat wajahnya kini seketika bersemu merah. Spontan Ega mengalihkan pandangannya. "Finattalia mana?"
"Ega?" Panggilnya sekali lagi.
Fikri kenapa bisa semanis ini, Tuhan?
Gadis itu kembali menoleh ke arah Fikri. "Iya"
"Gimana sudah sehat?"
Bodoh amat sih Kamu Fikri! Pertanyaan seperti apa itu. Ini momen yang pas untuk kamu ungkapkan perasaanmu. Tidak! Batin Fikri saling bersautan.
"Ega...boleh aku menyembuhkan lukamu?"
"Haa!"
"Anu. Aku-mencintaimu-Ega."
"Haa!"
Fikri menatap dalam wajah gadis di hadapannya. Egalah satu-satunya yang ternyata berhasil membuat ia jatuh cinta berulang kali, semenjak pertemuan pertama pas menjadi siswa baru saat menjalani Masa Orientasi Siswa (MOS). Sampai saat ini hampir tiga tahun lamanya, ia masih mendambakan sosok gadis itu. Ega bisakah kamu membuka hati untukku?
"Bagiku cinta itu adalah, cinta yang mampu membuat bertahan dengan satu nama"
_Fikriansyah Andil
Senyumnya kembali merekah. "Ega. Bisakah sosok ini hadir dalam hidupmu meski, itu tidak lama"
Helaan nafas seraya duduk menyangga dagu.
"Hem-"
"Maaf. Jika aku terlalu berharap padamu?" Penuturan Fikri, yang kini sudah duduk di samping Ega.
Hapus aja aku. Aku tidak pantas untuk siapapun!!
Ingin rasanya aku berteriak sekuat mungkin, sehingga sosok yang pergi jauh pun mampu mendengar keluhanku.
"Jika boleh aku memilih. Lebih baik aku tidak pernah mengenalmu. Daripada aku harus merasakan cinta ini," menarik nafas dalam-dalam hingga masuk dalam rongga.
"bolehkan aku meminjam tanganmu?"
"Ma-maksudnya?"
"Heheh..."
"Ega." Laki-laki itu kini menoleh ke arah gadis itu. Ada kesedihan yang di pendam oleh sosok itu. Apa dia merindukan sosok Fizri? Maaf. Aku membohongimu Ega?
"Fik. Ak-aku," ia menoleh ke arah sosok di sampingnya itu, "salahhkan jika aku masih mengharapkan Fizri."
Deg!
Bagaikan sambaran petir di siang bolong.
"Ahh. Ternyata sakit Ga! Sakit banget. Sakit ini bukan karena kamu menyebut namanya. Tapi, kamu mengharap pada sosok yang takkan bisa kembali kepadamu." Batinnya terasa sesak, melihat sosok gadis itu menangis karena rasa hancurnya kehilangan.
Tuhan...ku mohon jangan biarkan dia terjung ke lebih dalam lagi?
Apapun yang akan aku lakukan demi Ega. Termasuk menghapus namanya?
Ada beberapa hal yang membuatku tak mampu, memahami secara jelas. Takdir seperti yang akan diterimah gadis ini.
"Fik..." Lirih Ega. Kini matanya sudah mulai memerah. Yang ia butuhkan saat ini adalah sandaran, mau itu raga atau jiwanya sekalipun. Ega kembali membuka mulutnya. " Aku jahat Fik. Selama ini sudah menyia-nyiakan sosok Fizri."
Laki-laki itu merasa bersalah karena sama sekali tidak mempu menyembukan lukanya.
"Ega." Panggilnya sedikit lembut perlahan ia mendekati Ega. Laki-laki itu kini lebih memilih menyerahkan bahunya dan memberi sandaran kepala gadis itu.
Ia tahu, ia jahat dengan memperlakukan dua laki-laki itu, Fizri yang kini menjadi masa lalunya. Tanpa Ega mengatahui bahwa sosok itu, kini telah tiada di dunia ini bukan hanya di hidupnya, tapi di semua kehidupan orang yang menyayanginya di dunia ini. Dan, Fikri yang kini telah menjadi sandarannya. Hanya saja waktu tidak dapat di ulang. Jika di dunia ada mesin waktu, Ega sudah memutar waktu, agar tidak dipertemukan dengan Fizri.
......................
Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Ega berdiri sendirian di depan jendela. Gadis itu beberapa kali menghela nafas panjang di dalam kamar. Ia memutar semua isi kepalanya yang telah berlalu dan kini tidak lebih hanya kenangan semata.
Setelah pertemuan manis mereka berawal dari saat Ega di panggil wali kelas untuk mengantar murid baru itu. Laki-laki tampan dengan senyuman manis itu akhirnya membuka suara. "Perkenalkan aku Fizrilldino Abil, panggil aja Fizri."
Langkah Ega langsung terhenti begitu saja. Ia terdiam cukup lama, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan laki-laki tampan itu. "Firzahra Ega. Panggil aja Ega." Ia mulai memperkenalkan diri.
*Mereka berbincang banyak hal seiring berjalan menuju ke arah kelas. Mereka berdua masuk ke dalam kelas. Suara kelas yang awalnya tenang kini kembali ricuh.
"Wah! Ganteng banget*..."
"No wa dong" Teriak kaum hawa.
"Cwicwi...."
"Haiii ganteng"
"Mau nggak jadi pacar aku"
"Uhhh...Jangan mau dia jomblo lumutan"
"Ihh apaan sih!"
Waktu berlalu bagitu saja. Kini sudah memasuki minggu kedua setelah Fizri menjadi siswa baru. Seorang laki-laki kebingungan sendiri. Ia mencari sosok yang sedari tidak muncul sejak jam pertama. Sampai-sampai diwaktu jam pelajaran ia sendiri tidak fokus dengan pelajaran. Kini jam kedua sebentar lagi dimulai, tapi sosok yang itu belum ada juga.
"Nat. Liat Ega enggak?"
"Di UKS"
"Terimah kasih"
"Hem."
Tok!
Tok!
Tok!
Tangan gadis itu mengucek kedua matanya bersamaan dengan suara pintu UKS terbuka. "Permisi. Bisa saya masuk?" Ega langsung mendudukan tubuhnya di atas kasur.
Tirai itu tersibak. Wajah seseorang muncul dengan wajah sedikit ditekuk.
"Kenapa bisa luka-luka gini, sayang!"
Ia tersenyum tipis. "Hem. Jatuh!" Terkekeh pelan. Laki-laki itu cuman bisa menggeleng mendengar penuturan pacarnya itu. Gemes! Ya.. Tuhan pacar siapa ini.
Suara pintu UKS yang ditutup terdengar. Mereka berdua sudah keluar dari ruangan itu lalu menuju kelas.
Banyak hal yang ingin ia lakukan bersama laki-laki itu. Tapi kini kandas, ia pergi dengan berjuta kenangan, memori di ingatannya takkan pernah Ega berniat sama sekali untuk di hapus.
Ega berjalan menuju kekasur untuk menistrahatkan tubuh dan pikiran, esok adalah hari kelulusan tanpa sosok kekasihnya itu. List kegiatan dan tempat yang pernah di catat kini tidak lebih hanya sebuat catatan di atas buku kecil bertinta merah.
"List tempat atau kegiatan yang mau dilakuin setelah perpisahan?" Ucap Fizri dengan senyuman menatap lekap gadis dihadapannya itu.
Menyangga dagu di atas meja makan di kantin sekolah. "Hem"
Ia mengetuk-ngetuk perlahan dikening menggunakan pena.
"Aha..!!!"
Tangan gadis itu perlahan menulis kata demi kata sehingga menjadi beberapa kata list.
List My Pacar :
1. Satu Universitas.
2. Nongkrong di teman di sore hari.
3. Stay with me Fizri.
Gadis itu menutup, sebelum terbaca oleh pacarnya. Pandangan Fizri yang sedari tadi menatap gadis itu. Kini turun melirik hasil list gadis itu. Ega terlihat mengerutkan dahinya. "Kok ditutup bu-" terpotong cepat oleh gadis itu. "R-A-H-A-S-I-A". Akhirnya Ega tertawa keras melihat reaksi Fizri. Duh! Bagaimana Fizri tahu dong kalau dirahasiain segala.
Ega memilih duduk di meja belajar setelah memutar memori ingatannya satu persatu. Ia menyenggol sebuah buku kecil. "Inikah buku catatan itu!". Tangisnya pecah begitu saja.