EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Eps. 22 (EGO DIATAS PERASAAN)



Jam 01.00 dini hari, akhirnya Ega tidak bisa menahan rasa kantuk yang kini mulai menyerangnya, pada akhirnya dia pun memilih untuk tertidur sejenak dengan posisi kaki ditekuk diatas sofa. Baru beberapa menit yang lalu setelah Ega tertidur, Tamasudah pulang kerumah dengan wajah penuh penyesalan.


Ceklek


Suara pintu terbuka, Tama membuka perlahan agar Ega tidak terganggu. Dia melihat sosok perempuan itu tertidur pulas sambil memeluk erat bantal di tangannya. Dia mendapati Ega yang lagi tertidur pulas dengan mata sedikit sembab.


"Maaf Ga, bukan niat gua membuat lo seperti ini, karena ego membuat lo menderita?" Membawa Ega dengan kedua belah tangan di depan dada menuju ke kamar.


"Entah kenapa gua begitu kasar kepada lo, meski gua tahu lo tidak ada sangkut pautnya dengan perjodohan ini." Lagi-lagi ego mengalahkan perasaan. ****! Bodoh sekali kamu Tama. Dia sosok perempuan idaman dan beruntung memilikinya.


Tama membaringkan Ega dengan hati-hati takut membangunkannya, "selamat tidur Ega" Sambil mengecup kening Ega. Dia menyusul tidur di sebelahnya, kini egonya tidaklah penting dia pun perlahan melingkarkan tangannya di pinggang Ega, dan memberi kehangatan kepada istri kecilnya itu.


Sekali lagi dia berbisik di telinga Ega."Terimakasih sudah bertahan sampai sekarang" Ucapannya sebelum menyusul Ega di dalam mimpi.


......................


Perlahan penderitaan menjadi sebuah pengharapan baru buat rumah tangga Ega dan Tama. Kisahnya kembali di rajut menjadi kasih sayang, meski sempat merenggang cukup lama. Apakah Tama sudah kembali, mengingat masa yang indah yang berlalu?


"Assalamualaikum!" Sambutan Tama sambil membuka gorden yang membuat Ega enggang bangun dari tidurnya.


"Iya. Waalaikumussalam." Menutup mulut yang kini tidak menguap.


Ahh mimpikan aku. Bagaimana bisa ia semanis ini?


"Mau ikut ke kampus apa masih cuti?" Ungkapnya seolah tidak terjadi masalah sama sekali selama ini.


Suamiku kenapa seperti bunglon bisa berubah-ubah?


"Kok diam?" Tanya lagi.


"Iya, iya"


Lagi-lagi Ega berhasil membuatnya terpukau dengan balutan gamis hitam polos dengan hijab segi empat berwarna maroon. Wajahnya begitu terlihat cerah dari beberapa hari sebelumnya. "Kok lama. Maaf saya sholat dulu, sudah sholat Kak?" Tanya Ega sebelum duduk di samping suaminya.


Tama tida menjawab pertanyaan yang terlontar dari mukut Ega, ia lebih memilih melanjutkan makanannya. Tanpa Ega sadari selama ini ia selalu melakukan kewajibannya, tanpa dilihat olehnya.


Salah sih! Seharusnya seorang imam selalu mengimami sang istri bukan sholat mandiri.


"Tidak lama lagi. Kita akan kembali ke awal lagi?" Batinnya sambil meseruput coffe caremel di tangannya.


"Berangkat pagi ya? Boleh nggak kita mampir ke makam Kak Rosi" Menelan salivanya dengan sedikit kegugupan, takut kejadian itu kembali menyakitinya hati suaminya.


"Makan Kak Rosi, maksudnya" Ega lupa kalau Tama lupa ingatan, yang saat ini dia hanya mengingat setahun yang lalu saat kakaknya masih hidup.


"Tak lupakan saja, maaf..." Tama paham jelas apa maksud dari istrinya itu. Tapi saat ini dia harus tetap dalam permainan yang di sepakati olehnya.


......................


"Haii...Ega" Sapaan sinis dari Fhira ia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.


Hening


"Kak Tama dari mana kamu dapat?"


Menjawab Ega dengan santay. "Dari dialah!" Fhira sudah mengedit terlebih dahulu sebelum memberi isi rekaman ke perempuan itu. Ega menghala nafas panjang di sepanjang jalan, ia bimbang harus bahagia karena hal itu tidak benar-benar terjadi, atau malah curiga apa dibalik dari kebohongannya tentang lupa ingatan.


Apakah ini sudah direncanakan?


Apa alasan dibalik ini siapa saja yang terlibat?


"Jika tidak percaya coba aja sendiri?" Tertawa sarkastik.


Tanpa menghiraukan gadis itu, Ega bergegas mengampiri Tama di dalam kelas.


"Apa maksud Kak Tama kalau selama ini pura-pura lupa ingatan, Kak! Aku sakit selama ini tapi tetap memilih diam dan sabar. Ok! Selama ini aku belum bisa jadi istri yang baik dan aku belum mem-"


Sontak Tama membalikkan badan menutup mulut istrinya yang hampir saja kebablasan berbicara yang tidak seharusnya di ucapkan.


Untung saat ini hanya ada teman gangnya. Dan bersyukur tidak ada gadis ular itu, jika tidak bakal menambah masalah lagi di kemudian hari. Ini saja sudah perlahan membuat keretakan dalam rumah tangga Tama. Apa sih tujuan Fhira itu?


Ia menyeret pelan tangan Ega keluar dari ruang itu. Ega menahan air mata di kelopaknya agar tidak jatuh di waktu yang tidak seharusnya. Karena jika saat ini hanya akan menjadi tontonan semua orang saat kondisi seperti ini. Teman Tama hanya menatap kepergian mereka dengan wajah gelisah, mereka berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja.


Meski sepenuhnya salah Tama karena sudah berani membohongi istrinya segitu kejamnya.


Didalam mobil Ega meluapkan rasa kesalnya, kekecewaan, rasa sakit. Tama pasrah dada bidangnya menjadi sasaran samsak istrinya. Dekapan Tama membuat istrinya sedikit tenang, dia lelah.


"Maaf, ini salah ku. Tak seharusnya aku melakukan ini" Kecupan singkat di atas kepala Ega.


Henig!


Ega lebih memilih diam mendengar penjelesan dari suaminya kenapa bisa nekat sehingga menyakiti istrinya begitu dalam. "Aku melakukan ini karena aku sangat mencintaimu" Kini sudah kembali menjadi sosok Tama, suami Ega.


"Suatu saat kamu akan mengerti!"


"Jadi dari awal tidak pernah amesia?"


"Tidak, aku memamg mengalami amesia, tapi cuman 2 hari setelah keluar rumah sakit. Awalnya aku ingin memberi kejutan tapi sebuah video rekeman masuk di ponsel dia juga mengancam akan menyebar di seluruh sosmed."Meneguk saliva dengan kasar.


Ia menatap lama sebelum melanjutkan ucapannya. "Melihat kondisi ku saat itu, aku tidak bisa melakukan banyak hal, bahkan tidal bisa berfikir jernih. Bahkan aku sudah menyewa hacker swasta agar mengahapus video itu. Tapi..."


Ega semakin penasaran apa dimaksud suaminy itu, video rekaman, hacker?


"dia lawan yang hebat, dia menyimpan beberapa cadangan. Sehingga mau tak mau aku harus mengikuti permainanya."


"Heheh...dia malah tertidur pulas, dasar tukang tidur" Mencubit pelan hidung mancung Ega. Perlahan memposisikan tidur Ega disampingnya sambil memasang sefety belt, agar tidak terjadi yang tidak di inginkan. Rasa lelah menyerang sehingga Ega tertidur tepat sebelum mendengarkan semua penjelasan suaminya.


......................