EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Eps. 24 (HARI BAHAGIA ADA DUKA)



"Apalagi yang lo mau dari gua ha! Gua uda lakuin semua lo minta..." menghela nafas kasar, ia menatap tajam gadis itu. "Lo bakal nyesal..."


Ega berdiri di balkon kamarnya. Menikmati udara pagi yang cukup segar disertai siraman cahaya dari sang mentari pagi. Tubuh yang dingin perlahan terasa hangat. Langkah-langkah kaki dari arah belakang sama sekali tidak sedari olehnya. Matanya tetap fokus ke arah taman bunga yang di kini dihinggapi satu persatu di sana. Warna-warni kupu-kupu begitu kontraks dengan deretan bunga yang segar.


"Ega..."


"Maaf...aku bukan suami yang baik untukmu"


"Jaga dirimu baik-baik ya?"


Cup!


Ciuman dikening terasa begitu lama, dekapannya begitu penuh kehangatan.


Dort...!


Suara satu tembakan, menghancurkan segalanya meregut paksa tanpa belahan kasih.


Tidak...!!!


"Tidak....tidak...." peluh di dahi perlahan meluncur. "Kak Tamaaaa..."


Teriakan yang cukup keras membuat pria di sampingnya terkejut sehingga mengalami kelinglungan, ia berusaha membangunkan Ega yang masih mengingau dengan hati yang pilu. Ada rasa kehilangan yang begitu dalam, tapi siapa?


"Ega bangun..." ucapnya pelan. "Ega bangun. Ini aku!" Ia terbangun seketika memeluk erat suaminya. Tubuhnya bergetar rasa takut kehilangan mengingatkan akan masa lalunya. Trauma yang begitu dalam, membuat jantungnya terasa sesak.


Setetes cairan bening meluncur, pelukan Tama sedikit menenangkan isak tangis istrinya. Mimpi apa ini, semoga bukan pertanda buruk.


"Yaa...Allah jaga suami hamba dimana pun dia berada" Gumannya, ia menatap lekat wajah Tama, yang kini bertahan melawan rasa kantuk yang menyerangnya.


"Kamu kenapa? Mimpi buruk lagi?" Meraih tangan Ega menggenggam erat dan hangat.


"Aku tak mau kehilangan Kak Tama lagi" Menangis pilu, tatapan senduh terlihat jelas ada rasa ketakutan yang begitu dalam.


.....


Minggu, 23 September


Hari ini adalah hari kebahagian sepasang pasutri yang sudah merajut asmara selama bertahun-tahun. Mereka melaksanakan acara secara besar-besaran di sebuah hotel ternama di kota besar ini. Sebagai keluarga kolongmerat acara seperti ini tidak masalah sama sekali. Demi kebahagian anak perempuan satu-satunya. Meski dia tumbuh tanpa kasih sayang dari ibu sejak dini. Tapi, sosok papanya tidak pernah membuat dirinya kekurangan apapun.


Dibalik wajah tegas dan sangar, ada hati yang begitu pilu. Poto perempuan cantik terbingkai emas menempel di ruangan mewah. Membuat matanya perlahan berkaca-kaca, ia teringat.kembali sosok itu.


"Pa...jaga anak kita..." ucap terhenti sejenak, darah bercucuran deras di bagian jantung perempuan itu, "mereka ingin membunuh anak kita."


"Siapa Ma..." ia berusaha membangunkan dengan cara menggoncangkan tubuh istrinya. Sedikit kesadaran perlahan membuka suara. " Dia saingan Papa, d-diiaa..." Akhirnya tubuh itu sepenuhnya kaku tak bernyawa.


"Ma, bangun...!" Teriakan memilukan disaksikan oleh sepasang mata anak gadis memeluk erat boneka teddy. Ia menangis sekencang-kencangnya. Usianya yang kini masih belia, benar-benar terpukul melihat tubuh mamanya terkujur kaku, nyawa melayang tetapi darah tetap mengalir deras.


"Mama...maamaa..." Cicit gadis kecil berkepang dua hasil tangan mamanya, dan ini menjadi terakhir di dalam hidupnya.


Brukk...!!!


"S*alan...akan ku bunuh keluarganya satu persatu. Itu janjiku" Ia mengepal tangan sangat kuat, ingin rasanya menghancurkan seisi ruangan itu.


Ceklek...


"Permisi Pak, ada tamu?" Ucap pria berstelan jas lengkap dengan senjata tersembunyi di balik jas hitam itu.


"Beri masuk..." Balasnya sambil menetralkan emosi.


"Wah...wah...bagaimana kabarmu wahai sahabat lamaku?" Tutur paruh bayah, yang tidak terpaut jauh dari usianya.


"Ingat indonesia lah ya?" Sindirnya dengan sebuah tepukan di bahu.


"Demi acara putrimu, aku kembali ke indonesia?"


"Hem...belum ada pengganti nih!" Ia tidak melihat sosok perempuan menemaninya, apalagi saat hari istimewa putrinya.


Ia paham betul kemana tujuan yang di maksud sahabatnya, sekaligus partner kerjanya itu. "Dia cinta terakhirku didunia ini, takkan ada satu sosok pun menjadi penggantinya" Imbuhnya santai dengan penuh ketegasan.


"Kita berpisah di sini aku mau melihat putriku" Mereka berpisah arah. "Baiklah"


"Wahhhh... cantiknya putri papa. Secantik mamanya" Ia memeluk erat tubuh Putrinya. Pertahanannya roboh perlahan bulir-bulir menetes di sanggul putrinya.


Mereka menangis satu sama lain. Sosok wanita kuat itu tidak akan bisa hadir lagi di acara bahagia ini.


"Seandainya mama masih hidup..." sebuah tangan menghapus air mata dipipi, "ada Papa di sini kamu harus bahagia, janji sama Papa ok!"


Hening!


Dibalik sosok antagonis dalam dirinya, tersimpang wajah memilukan di balik topeng. Balas dendam membutakan hati nurani mereka, bagi mereka darah di balas darah pula. Sudah 10 tahun berlalu, tapi dendam kusumat belum juga usai, bahkan rela menyekutukan diri dengan para mafia-mafia ternama dan berkelas.


Tok...tok...tokk...


"Permisi...sudah waktunya" Ucap staff hotel sekaligus panitia acara tersebut.


Ia menyuruh perias menimbung bekas air mata di pipinya. Rasa hancur dihati kehilangan yang begitu berat. Hari yang dimana seharusnya bahagia, kini malah sebalik.


.....


Pukul 07.00 WIB. Hari ini Ega bangun lebih awal, tanganya sibuk mempersiapkan berbagai macam sayuran dan daging instan seperti sosis dan bakso. Aroma perlahan menyerbak di hidupng begitu pula di hidung Tama. Ia mencari sisi keberadaan aroma tersebut sambil mengendus-ngendus baunya. Dapur? Siapa yang masak pagi-pagi begini.


"Hemm...aromanya wangi dan enak banget" Sosok perempuan mengikat rambut asal sedikit berantakan tapi terlihat manis dan cantik, tunik di bawah lutut begitu terlihat seksi di tubuh Ega yang kini mulai terlihat sedikit berisi daripada sebelumnya.


"Kak Tama, uda bangun" tuturnya lembut sambil sesekali merapikan anak rambutnya ke samping dekat telinga, "sudah siap! Coba jangan lupa komen dan like heheh" terkekeh pelan sambil menyedorkan sepiring nasi goreng lengkap dengan hiasan tambahan telur mata sapi tapi sedikit agak gosong. Tak masalah usahamu sudah cukup baik. Kira-kira rasanya gimana ya?


"Siap ndik?" Ucapnya dalam bahasa bugis.


Terkekeh pelan "Gimana?"


"Gimana apanya?" Berpura-pura alasan ingin mengoda terlebih dahulu.


"Rasanya Kak, enak nggak?" Tanyanya lagi.


"Hem..yummy..."


"Serius Kak..." Matanya mulai berbinar-binar karena merasa berhasil mengisi perut suaminya dengan rasa makanan yang enak pastinya.


"Hem! Sepertinya ada yang kurang..." Mata Ega terbalalak mendengar perkataan Tama.


"Apa Kak..." Memastikan kembali, "apa rasanya gak enak ya?" Gumannya pelan.


"Sini deh!" Ega melangkah perlahan dengan wajah tertunduk. Tama tersenyum melihat tingkah istrinya karena merasa gagal memasak untuknya.


"Coba cicip" Ia menyuapi istrinya dengan hati-hati.


Cup!


"Terimah kasih sayang enak banget...sungguh!" Tama kembali mengecup kening Ega.


Matanya tertutup rapat untuk merasakan nasi goreng yang dikunyah "Hem. Ternyata benar enak heheh" Bahagia tertular, mereka pun makan berdua dengan satu piring.


30 menit berlalu akhirnya mereka bersiap menuju ke kampus. Semester ini adalah semester terakhir bagi mereka. Tinggal menghitung beberapa hari lagi wisuda. Akhirnya Tama bisa wisuda juga yak heheh...


"Sebelum ke kampus kita mampir dulu di suatu tempat ya?" Memasang sefty belt di tubuh Ega.


"Siap Kak..!"