
"Kok bengong, ayuk!" Dibalas anggukan oleh Ega. Mereka menuju ke kantin kampus, tanpa memperdulikan hukuman yang akan lebih berat dari ini karena karena bolos dari sanksi diberikan Dosen killer.
Ega menarik nafas-dalam-dalam, aliran darahnya kini membeku. Sepasang pasutri itu menjadi tontonan mahasiswa lainnya. Begitu serasi seoalah pasangan raja dan ratu sedang berjalan di atas karpet merah. Bagaimana tidak. Mereka berdua adalah pasangan yang dikagumin banyak mahasiswa lainnya, selain cantik dan tampan, juga berprestasi.
"Hem-, kamu bukannya Kak Tama bukan? Yang setahun lalu mempromosikan Universitas ini." Ia menatap Tama dengan seirus.
"Iya. Kenapa?" Dinginnya sambil melanjutkan makanannya.
"Berarti Kak Tama juga yang pernah nyelamatin aku pas di rumah kosong itu?"
"Iya." Balasnya singkat.
"Jadi. Dia masih mengenalku, tapi kenapa bersikap dingin?" Gumamnya pelan.
Dasar kulkas tingkat 12!
Mang ada ya? Hheheh...
"Kak Tam kok bisa ada disana?"
Bukk!
Pukulan meja yang begitu keras mengagetkan Ega, bukan hanya dia saja tapi semua mahasiswa lainnya menatap ke arah mereka berdua. Ia merasa malu mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan itu. Ega pergi begitu saja meninggalkan Tama sendirian di sana. Ega berlari kencang tanpa disengaja ia tertabrak Dosen killernya. "Maaf bu!"
Lain hanya dengan Tama. Ia terduduk sambil menahan emosi, kepalan di tangannya ia genggam begitu erat. Ega. Kamu mengingatkan masa lalunya yang kelam? ****!
Ada apa saat itu?
"Kenapa dunia tidak adil kepadaku!" Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya, agar kedamaian menghampiri. Ia memaksa mulut dan tangannya untuk memakan. SAKIT! lelaki ini tidak memperdulikan coleteh orang di sana, termasuk pria yang duduk nongkrong disebelahnya.
"Kasian Ega. Aku takut dia dijadikan pelampiasan..." Ucap salah satu laki-laki diseberang sana. Ia termasuk salah satu pengagum rahasia Ega.
"Benar...Ega terlalu baik buat disakiti." Imbuhnya yang lain.
Tatapan sinis yang di tujukan oleh mereka membuat Tama melangkah keluar dari ruangan itu. Disisi lain Ega sudah menangis kencang di dalam toilet. Ia mencuci kasar wajahnya di atas wastafel.
"Fizri...kamu benar menjodohkan aku denganya? coba pikir-pikir lagi deh!" ia mengadu seolah sosok itu kembali hidup dan kini berada disampingnya.
"Memang ganteng sih! Keren Maa Sha Allah pokoknya. Tapi, sikapnya Subbhanaallah" Terdengar deheman kecil dari luar.
"Gua memang ganteng, gua uda biasa dengar kata itu" Sontak ia membalikkan tubuhnya mencari sosok suara itu. "Kamu kenapa kesini! Inikah toilet wanita?"
"Terus...kenapa?" Sambungnya dengan wajah santai, sambil berdiri menyandar di dekat pintu masuk.
"Haa...!" Ega merasa geram, tadi ia mempermalukannya dihadapan mahasiswa yang banyak saat itu, kini ia menggangunya di toilet khusus wanita.
"Pergi! Sebelum orang lain salah paham."
"Bodoh amat! Kalau kepergok malah cuman di nikahin. Kan enak ada yang masakin, temani bobok, dan bantu kerjain tugas biar cepat lulus. Sudah capek mikir gua..." Mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Padahal aslinya Tama sangatlah pintar hanya saja, dia lebih banyak bolos. Apalagi kampus ini milih ayahnya. Jadi main sesuka hatinya.
"G*la! Pergi sebelum aku teriak!" Menggeretak sambil menatap tajam laki-laki itu.
Plakk!
Suara pintu tertutup dengan keras. Ia melangkah perlahan menatap wajah gadis itu." Kamu mau ngapain ha! Jangan coba-coba dekat apalagi macam-macam. Kalau tidak-" Terpotong cepat oleh Tama, yang kini wajah mereka berjarak cuman beberapa senti. "Mau teriak silahkan! Itu yang gua harapkan biar dipercepat menikah!" Ega bergetar bahunya naik turun ia merasa ketakutan. Yaa.. Allah lindungi aku?
Setan apa yang telah memasukinya?
Begitu kotor dan hina!
Suara pintu terbuka sontak Tama memasuki salah satu kamar toilet. Ega mengalihkan pandangan ke cermin memposisikan diri sambil mencuci muka agar tidak ketahuan kalau ia lepas menangis ketakutan. Dua gadis tidak memperhatikan Ega, mereka lebih memilih menuju toilet. Sontak mereka kaget melihat seorang laki-laki berada di sana.
"Kak Tama bagaimana bisa ada disni?" Ucap salah satu gadis itu.
"Maaf tadi gua kebelet jadi main masuk aja" Balasnya santai. Ia keluar dengan tatapan senyuman menggoda sambil mengedipkan mata ke arah Ega.
Ega merasa heran kenapa dari tadi, ia selalu membahas pernikahan. Apa dia...? Ah! tidak mungkin itu hanya akal-akalannya saja! Tama benar-benar laki-laki menjijikkan ia jauh berbeda dari sosok yang ia kagumi dulu. Wajah yang sama tapi perilaku yang berbeda.
"Kak udalah. Come on! Ok! Gua capek" Ia bangkit sambil mengambil tas di atas meja. "Gua bolos ya?" Sambungnya sebelum menghilang dari tempat itu.
Ia cuma bisa menggeleng mata Rosi kini mulai berkaca-kaca, di balik wajahnya yang sangar dan bahkan yang dijuluki Dosen killer. Ternyata tersimpan kesedihan yang mendalam.
Egoiskah jika aku menyembunyikan sosokku?
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk." Mengusap air matanya sebelum disadari oleh Ega.
"Ega kenapa kesini?"
"Maaf Bu? Bukannya saya mau ikut campur tapi-" Menelan salivanya, menghembuskan nafas perlahan.
"Ibu baik-baik aja kan?" Ia memberanikan diri.
"Ega kamu gak takut sama aku, aku nih dosen killer loh?" Ucapnya sedikit tegas.
"Tidak! Kenapa harus takut mang Ibu bunuh atau makan manusia? tidak kan!" Ega terkekeh pelan. Ia tahu Dosen killernya baik hati.
Dibalas kekehan kecil "Heheh.." lanjutnya. "Terimah kasih"
"Iya. Ibu kalau mau cerita silahkan"
"Lain kali aja. Belum waktunya" Ia tersenyum dibalik topeng penderitaannya.
"Hem. Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu ya Bu" Dosen mudah hanya membelas dengan senyuman.
Suara ponsel berdering. Sebuah panggilan masuk ke ponsel yang terletak disebelah buku mata pelajaran. Ia mengangkat telepon itu tanpa menunggu lama lagi. Sebuah nama bertuliskan My Dad.
"Waalaikumussalam. Iya ada apa Pa?" Diam sejenak sambil mendengarkan kabar dari paruh baya itu. "Ok. Pa nanti Rosi usahin pulang cepat"
Telpon terputus.
Penderitaan seperti apa yang diderita oleh beban seorang kakak perempuan selama ini. Kesedihannya seketika menghilang setelah mendengar kabar baik itu, wajahnya sudah menampilkan mimik yang berbeda dari sebelumnya. Semoga terakhir ini berhasil!
"Pak saya pulang lebih awal. Ada keperluan mendadak."
"Baik bu!"
Suara ponsel kembali berdering.
"Bagaimana? Uda siap nanti sore kita ke sana!" Balas dari sebarang sana.
"Sudah semua Pa, tinggal di antar oleh pihak dari mereka. Hem. Papa sudah yakin?"
" Bismillah yakin, In shaa Allah semua akan baik-baik saja"
"Baiklah Pa assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Setibanya di rumah ia mendapati adiknya lagi asyik main game. Inilah aktivitas seorang Tama. Kalau tak bermain game. Yaa... nongkrong bahkan terkadang balapan liar. Perempuan itu melangkah kearah Tama yang tak menyadari keberadaan kakaknya karena lebih fokus ke layar dan PS d tangan sebagai alat pengendali.
"Tama. Nanti siap-siap! Jangan buat malu lagi, kak harap ini terakhir kalinya paham."
"Iya." Ia kembali melanjutkan gamenya.
"Ingat jam 2 sore nanti" Tegasnya.
"Iya kakak gua yang paling cuantik" Tanpa menoleh sama sekali.