EGA (Stay With Me)

EGA (Stay With Me)
Eps. 23 (TALI HAMPIR PUTUS)



Tama menghela nafas pelan. Gadis ini benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling, Fhira berlari ke arah Tama saat mengetahui lelaki itu akan muncul dari balik pintu. Sebuah pelukan tiba-tiba mendarat ketubuh bidangnya itu. Wajah terkejut, spontan tangan Tama menghampaskan tubuh Fhira ke samping secara pelan.


"Lo kenapa sih!" Tanya Tama. Dahinya berkerut begitu melihat reaksi wajah Fhira.


"Tam...hiks...hikss...!"


"Lo kenapa?"


"Janji jangan marah ya? Kalau gua bilang."


"Iya, apa!"


"Gua di tampar sama istri lo...!"


"Apaa...!?"


Hening!


Tama kembali mengulang perkataan Fhira. "Ega menampar...?" Ucap seolah tak habis pikir. Bagaimana mungkin sosok Ega bisa menampar.


"Kan gua uda bilang. Lo pasti gak percaya, pasti memilih belain istri lo itu" Imbuhnya dengan lontara sinis ke arah lelaki itu.


"Baiklah. Kalau lo masih gak percaya, gua ada bukti kok." Ia mengeluarkan sesuatu dari saku baju.


"Liat!" Tama melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana prilaku istrinya saat itu.


Tanpa aba-aba, ia melempar semberangan arah ponsel gadis itu. Untung cepat disergap oleh tangan Fhira. Ia pergi dengan wajah marah! Pasti berakhir buruk.


"Lo bakal nyesal...buat gua patah hati Tama!" Teriak Fhira. Ia tidak peduli dengan gadis yang kini berteriak dengan lantang, suara itu perlahan menghilang dari indra pendengarnya.


"Uhh!"


......................


"Ega..." Sebuah suara tidam asing terdengar dari lantai dasar.


Tanpa melepas mukena, yang ia kenakan masih melekat rapi di tubuhnya. Perlahan menuruni tangga, di ujung tangga terlihat sosok berdiri tegap dengan wajah tidak ramah.


"Kak Tama..." Langkahnya terhenti tepat di samping lelaki itu.


"KO BENAR MENAMPAR FHIRA...!" Perkataan terlontar membuat tubuh Ega meremang.


Dia bukan suamiku?


"JAWAB!" Tangannya terkepal erat, sebuah tinju melayang hampir saja mengenai wajah Ega.


"I...ii..i.iiiya..," terbata-bata. Ega belum pernah melihat sosok suaminya saat ini


"Maksudny-" Sebelum mendengar penjelasa Ega, Tama keluar menuju keluar dari ruangan itu.


Yaa..Allah cobaan apa lagi ini?


Tubuh Ega terkulai lemas, ia menatap kosong ke arah pintu, hati dan pikiran kini benar-benar hancur.


......................


"Hahah...! Apa gua bilang. Gua bisa mengendalikan boneka itu!" Ucap Fhira dengan senyum licik. Entah rencana apa lagi, yang akan di dramai olehnya. Ternyata benar kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Istilah inilah yang tepat buat seorang gadis berwajah manis dengan hati penjahat.


Ciss...


Tiga cangkir tersulam di atas, suara berdeting membuat tawa mereka semakin keras seperti orang kehilangan akal pikiran.


"Hahahha....siapa dulu pemainnya?" Imbuh temannya yang kini sudah terlihat sempoyongan, karena kadar alkohol yang tinggi.


Triiiing...tringg...tringg...!


"Gua angkat telepon, kalian tunggu sini" Telepon terangkat, suara paruh baya terdengar dari beda negara. "Sudah beres Pap."


"Chiki mana?" Tanya Fhira, ia menyadari kehilangan seorang bestie.


"Biasa di jemput" Balas Nara. Dibalas anggukan, Fhira sudah paham betul maksud sahabatnya.


"Haiii...! Nara..." Sapa lelaki berperawakan blasteran Amerika dan Inggris. Tubuh tinggi tegap itu memeluk erat tubuh gadis tinggi semampai ini dengan balutan dress hitam elegan di tubuhnya.


"Gua pulang duluan yang bestie. Mmmuachh" Tubuh Nara hampir saja terjatuh karena terlalu banyak meminun. Untung tubuh langsingnya cepat di sergap oleh pacarnya.


Ceklek...!


Suara daun pintu terbuka, sebuah tangan membuka handle pintu. Sorotan tajam menjadi sambutan untuk kedatangannya.


"Mati aja loh!" Ia menjauh saat Baraa mendekatinya yang belum sempat mendapatkan sambutan hangat dari pacarnya.


"Come on! Baby..." Kini Fhira terjebak di antara dinding, tubuhnya terkunci oleh kedua tangan Baraa.


"Baby. I'm soo sorry so much" Sebuah kecupan sekilas mendarat. Tubuh Fhira kembali memelas. Entah kenapa wajah tampan Baraa selalu saja berhasil membuat dinginnya kembali hangat, meski sedingin apapun saat itu.


"Kita ke Mall. Belanja sepuasnya." Baraa memberi sebuah kartu khusus Fhira. Wajahnya seketika berbinar-binar. Ia tidak peduli lagi jika sebelumnya dia sangat marah kepada Baraa.


"You are serious about!"


"Yess! Really Baby"


......................


"TAMA...lo kenapa sih? Mau aja di perbudak oleh gadis itu!" Ucap perempuan didepannya. Ingin rasanya ia menampar keras wajah Tama.


"Bukan urusan lo! Urus aja urusan lo sendiri." Ia menatap penuh kemarahan wajahnya yang kini merah padam.


"TAMA....!" Teriakan perempuan tanpa di gubris sama sekali olehnya.


"Bagaimana ini? Keluarga itu benar-benar ingin menghancurkan keluarga Fhirmatara."


"Tama...kamu kemana? Kendalikan emosimu. Tidak baik pergi dalam keadaan seperti ini, lebih kamu di sini aja menenangkan diri." Kali ini ia berusaha menurut meski emosinya semakin mengebu. "Aku yakin Ega tidak melakukan hal buruk itu. Jika pun iya! Pasti demi melindungi martabak dirimu"


"Baiklah Kak. Maaf!" Tangannya mengangkat sebuah gelas berisi air putih. Kini emosi bisa terkendali. Kenapa dia bisa seperti ini? Apa jangan-jangan dia pernah mengkonsumsi obat terlarang. "TIDAK...itu tidak boleh terjadi!"


"Kak aku pulang dulu ya?" Pamitnya.


"Iya...hati-hati di jalan jangan ngebut-ngebut..."


"Iya...kakaku yang cantik dan sedikit bawel" Terkekeh pelan.


Perempuan ini hanya bisa mengeleng-geleng kepala melihat tingkah lakunya yang bisa berubah dratis.


Lindungi keluarga hamba Yaa...Allah!


Kini dia harus kuat dari sebelumnya.


......................


Ceklek...!


"Assalamualaikum..." Suara kaki perlahan melangkah ke arah perampuan menangis tanpa suara.


"Sayang...,masih marah ya?" Tarikan nafas pasrah.


"Maaf! Sungguh."


Tidak jawaban atau respon pergerakan dari tubuh istrinya. Apakah dia benar-benar marah! Sungguh ini semua murni dari kesalahanku. Tama memposisikan diri berbaring di sebelah Ega, tatapan terpaku ke arah tubuh yang membelakangi dirinya. Kini Ega menenggelam diri di dalam selimut.


Hening!


Pukul 23.00 WIB. Air mata sudah merobos pertahanannya. Tangisnya pecah seketika, ia berusaha membungkam mulut agar isak tangis tidak terdengar oleh suaminya.


Hiks...hikss...hikss!


Suara tangis terdengar sangat memilukan. Keheningan malam mampu menyaring suara perempuan ini. Kedua tangannya berusaha membungkam mulut sendiri.


Sesakit inikah Tuhan?


"Jangan ditahan! kalau perlu pukul aku, atau tampar saja aku..." Sontak Ega menoleh ke arah suara itu. Tatapannya senduh dan rapu, mata berkaca-kaca. Bibir terasa keluh, kaku meski berucap sepatah kata pun.


"Jangan sakiti dirimu demi aku?" Ia kembali membuka suara ketika melihat Ega duduk dengan tatapan kosong. Begitu banyak tanda tanya yang tersimpan dalam memori pikirannya.


"Tak adakah kesempatan. Maaf...seharusnya aku yang sadar diri, tidak seharusnya menyalahimu tanpa alasan seperti ini?" Menggenggam erat dan hangat. Untuk kesekian kalinya Tama menyakiti Ega.


"Maaf...," membelai lembut pipi istrinya. Perempuan ini hanya bisa diam sambil menunduk. Ruangan sepi senyap menjadi bukti kisah perjalanan kisah mereka.