
Baru beberapa hari yang lalu, sosok ini terlihat 'Bad Boy'. Dia datang begitu saja. Pertamuan yang membuat ku tersiksa dengan sikap anehnya. Bahkan sekarang seenaknya menjadi suamiku.
Ehm. Ralat tapi aku suka dia. Iya! Sejak Dia menjadi sosok malaikat yang bersinar menerangi malamku yang pekat saat itu.
Dia hadir menghapus kenanganku bersama Fizri. Dia jahat, karena sudah berani merebut hatiku sepenuhnya.
"Pagi sayang..." Pria itu terbangun lebih awal bahkan sudah mempersiapkan. Breakfast di atas meja.
Sambil mengucek-ngucek mata. Awuahh!!! Ega meregangkan kedua tangannya ke atas, rasa katuknya masih belum sepenuhnya hilang. Ia menatap wajah suaminya yang begitu terlihat segar di pagi hari.
"Tampan," satu kata terucap begitu saja. "Aku ngantuk mau lanjut tidur. Jangan coba-coba menggangguku, aku bergadang gara-gara kamu!" Ega kembali memutar balik tubuhnya menarik selimut sampai ke atas kepala.
"Haa. Aku sejak kapan." Percuman berdebat sama wanita. Endinganya bikin nyesek. Karena tetap wanitalah yang menjadi pemenang.
Tama berjalan perlahan ke arah istrinya. Cup! Sebuah kecupan dikening Ega yang saat itu sengaja berpura-pura tidur agar bisa menghindar dari suaminya. Sebuah bisikan pelan di telinganya.
"Breafast time sayang."
Perempuan itu tidak sama sekali menghiraukan Tama. Kring, kring! Jam weker berbunyi begitu keras. Sontak Ega terbangun. Ia lupa kalau mau masak untuk suaminya.
"Maaf" Tama tersenyum, ia paham betul maksud tujuan permintaan maaf sang istri. Ia membuka lebar-lebar tangannya memberi ruang untuk pelukan Ega. Hangat! Ega memeluknya begitu erat.
"Hem. Jadi gimana malamnya? Apakah kamu menikmatinya?"
"Haa apa. Ma-ma-maksunya, a-ap-apa?" Ia mendongak menatap heran sambil berkata terbata-bata.
"Tidurmu. Kamu tu! berat tau...badan aku aja masih pegal ngangkat kamu sampai ke kamar, mana tangganya tinggi!" Tama memanipulasi istri yang polos itu dengan wajahnya.
"Maaf. Heheh"
"Mandi sana! Bau asem jengkol" Ega mengernyitkan dahi. Emang jengkol bau asem ya? Maaf soalnya tak suka jengkol. Heheheh!
Ega menatap pekat wajah suaminya.
Sekarang dia mememang telah menjadi suami ku.
Tapi, banyak hal yang menjadi pertanyaan di benakku.
"What happen!!!"
"Sejak kapan dia berubah 180 derajat? Sejak awal pertemuan kembali tidak seperti itu?"
"Apakah hidayah itu benar ada? di waktu yang sesingkat ini?"
"Kini ia telah berubah menjadi sosok yang manis dan romantis"
"Apa yang telah terjadi di masa lalunya?"
"Apa maksudnya gadis ke-22, di hari ulang tahunnya?"
Begitu banyak pertanyaan tapi sulit di pertanyakan. Bibirku terasa keluh. Yaa Tuhan. Hamba mohon ridhoi lah rumah tangga kami.
......................
Setelah serapan selesai, mereka memutuskan untuk menikmati sinar matahari di pagi hari. Mereka duduk diatas gazebo di area tengah taman bunga sekitar rumah barunya. Suara gemercik air dari kolam ikan yang diatasnya di buat air pancuran. Sepasang pasutri begitu menikmatinya. Perlahan Tama mendekati istrinya memberi sandara di pundaknya.
"Hem. Aku boleh bertanya sesuatu hal nggak?" Mengehela nafas perlahan.
Disambut hangat oleh Tama. "Boleh. Apa?" Tatapan masih terfokus menikmati sinar matahari dengan dilindungi kecamatan hitam.
Ia kembali melepaskan sandarannya di pundak bidang Tama. "Kenapa kamu bisa berubah menjadi imam yang baik, padahal beberapa hari yang lalu sebelum kita nikah. Kamu terlihat bad boy dan uga-ugalan bahkan hampir-" Ia memberhentikan ucapannya sambil membenarkan poisis duduknya.
"Cium..." Balasnya cepat, tatapan menoleh. Tama terkekeh mendengar penuturan istrinya.
"Ha.." Sekita tubuh membatu aliran darahnya seolah berhenti.
Ega. Kamu bodoh! Bisa-bisanya aku berucap seperti itu. Siap-siap diterkam singa jantan.
"A-a-ak-aku-aku!" Secepat kilat Tama sudah berada di hadapannya, wajahnya begitu lembut sentuhan tangan di pipi. Kok aku tak bisa gerak! Ia memposisikan wajah Tama.
Ega sontak menutup mata. "Jangan menolak suami berdosa Ega. Ingat pesan mama wajib melayani suami dengan baik agar tidak menjadi istri
yang di laknat oleh malaikat." Batinya ia berusaha tenang.
Jari-jarinya menyentuh bibir istrinya. "Dasar anak kecil!"
"Ha..." Ia membuka matanya, apa maksud dari perkataan suaminya.
"Iya, liat bibirmu masih ada bekas selai roti tadi berlepotan lagi" Ia menjilat selai dipucuk jari telunjukkan. "Manis"
Tangan Ega reflek membersihkan mulutnya, Ega benar-benar malu dihadapan Tama. Ia beranjak dari tempat duduk. Sebuah tangan menarik pergelangan tangan kanannya.
Konyol sekali sih aku!
Ingin rasanya ku buang wajah mengganti wajah baru. Seandainya saja bisa!
"Mau kemana?"
"Mau ke dalam"
"Tunggulah beberapa menit lagi." Ucapnya beralasan untuk menghentikan istrinya. Dia yakin pasti Ega saat ini menahan rasa malu. Terlihat diraut wajahnya ditekuk.
Ega lupa nih dengan pertanyaannya?
Untung Ega tidak bertanya hal itu lagi. Aku selamat hari ini jangan sampai dia tahu jika aku terpaksa melakukan hal ini?
Ega kembali duduk di samping Tama. Ia menatap pria itu yang tengah bersandar di punggung kursi kayu minimalis itu. Wah! Memang ganteng suami aku.
"Hem-" Ega kembali berdehem pelan.
"Aku mau tanya? Maksudnya gadis ke 22 itu apa?" Pertanyaan di lontarkan membuat Tama merubah posisinya, ia membalik tubuhnya searah istrinya.
Tama menggenggam tangan Ega dengan lembut sebelum menjawab pertanyaan itu. "Dulu. Pas usia aku masih 20 tahun. Aku sudah sering di jodohkan dengan berbagai gadis dari usia sangat muda sampai 3 tahun di atas aku. Tapi, entah kenapa ada saja hal yang membuat kami pisah atau beda pendapat." Ucapnya dengan tatapan serius.
"Jadi. 22 itu maksudnya aku gadis ke-22 yang dijodohkannya. Jadi selama ini tidak pernah pacaran gitu?"
"Iya. Dan kamu-kamu satunya orang yang pertama berlabuh di hatiku. Hem..soal pacaran. Aku tidak pernah ingat akan soal itu. Buat apa pacaran habisin waktu yang sia-sia. Gini-gini aku paham soal pacaran dalam agama" Balasnya dengan tatapan membanggakan diri.
Kamu percaya Ega. Aku sih! Tidak? bagaimana sosok tampan nan perfect gini bisa tidak pacaran di bilang alim juga tidak?
Sebuah jentikan dari Tama membuyarkan lamunannya. "Pasti tidak percaya kan sama suami?"
"Pe-pe-pecaya kok. Cuman..."
"Gak yakin pasti iyakan"
"Enggak kok. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan"
"Iya. Kamu memang sudah membunuhku secara perlahan"
"Kok bisa!"
"Karena...selalu menganiaya diriku yang lemah lembut ini."
"Apaan sih! Dah lah aku mau masuk aja."
Tampa memperdulikan suaminya yang mengikutinya dari belakang. Ega melangkah cepat masuk kamar. Ehm. Masuk kamar dia paham aja!
......................
Ceklek! Suara hendle pintu terbuka.
Tepat usai melaksanakan salat isya, Ega membisu, menundukkan wajah. Tangan Tama menyentuh dagu istrinya. Ega perlahan menganggkat wajahnya. Ia berusaha menjadi istri yang baik meski beberapa hari ini, ia belum mampu menyerah mahkotanya kepada suaminya sendiri. Sementara Tama, pria itu begitu sabar dan tidak menuntut apalagi memaksanya sama sekali, selain kode. Tapi selalu gagal. Yang sabar ya Tama.