
Gadis tersenyum sendiri ketika menatap dirinya di pantulan cermin. Gamis warna maroon menambah cahaya kulit putihnya yg kini telah melekat sempurna di tubuh rampingnya. Wajahnya yang biasa tanpa polesan make up kini membubuhi bedak sedikit tipis, memiliki wajah yang cantik, putih natural membuatnya tidak repot-repot lagi memakai berbagai macam jenis make up dengan sedikit olesan pelembab dibibirnya. Untuk pertama kalinya, dia berdandan dan mengenakan gamis, itupun dilakukan demi sang suami. Gadis yang hari-harinya terbiasa memakai pakaian casual.
"Ega. Pesan mama jika kamu sudah punya suami kamu harus melayaninya dengan baik."
Pesan mamaku sebelum acara pernikahan ini dilangsungkan. Saat dimana aku tidak mengetahui sama sekali siapa calon suamiku, bagaimana sifatnya. Tapi, pada akhirnya aku menyerahkan semuanya kepda Allah dan kedua orang tuaku.
Apapun menjadi keputusannya itulah yang terbaik buatku.
Sebuah tangan perlahan memeluknya dari belakang. "Maa sha Allah cantiknya istriku" Bisikan ditelinga, dengusan terasa jelas ia rasakan.
Cubitan kecil di lengan. "Auhh! Sakit"
"Masak sih! Akan cuman mencubit sedikit?" Sambil memeriksa hasil cubitannya. Tidak ada bekas sama sekali.
"Kok di pukul"
"Biarin" Bibirnya mengerecut.
Wajah meringis kesakitan."Obatin dong!" Sambil menunjuk bibirnya.
"Hem."
"Yang sakit tangan bukan bibir"
"Dosa loh! Nolak suami!" Tama menatap Ega lekat, membuatnya sedikit salah tingkah.
"Ck! Untung suami"
Tama meraih dagu Ega ia kembali menatapnya.
"Kamu sangat cantik natural sayang"
Ia menatap datar wajah sang istri yang kini bersemu merah merona. Tanpa ia duga, gadis mendaratkan kecupan ringan yang singkat dibibinya. Sepele, namun hal itu mampu memberikan dampak yang maha dasyat bagi Tama. Ia bahkan merasa dunia berhenti beberapa detik. Sehingga dia tidak sadar kalau istrinya sudah pergi keluar karena malu.
"Agresif banget sih aku. Buat malu aja? Bagaimana tanggapan Tama kepada diriku nanti."
"Tunggu nanti malam, aku akan membalasmu Firzahra Ega wahai istri kecilku."
Tidak lama sosok istrinya muncul dari balik pintu.
Ceklek!
Pintu terkunci waduh bagaimana ini? Bodoh! Ini salahku. Laki-laki mengkunci pergerakan Ega. Wajahnya saling bertatapan sangat lama. Cantik! Tama mengikis jarak diantara wajah Tama lalu menyesap perlahan bibi ranum Ega yang manis itu yang baru pertama kali disentuh, itupun oleh suaminya, laki-laki yang sudah sah bagi untuk dilakukan. Ia menahan sedari tadi kini ia sudah melempiaskan. Jangan salahkan dirinya yang sudah tak bisa lagi menahan gejolak asmara yang kini menggebu. Tama meresakan cengkraman kuat di lengan bajunya. Kini ia perlahan membalas first kiss sang suami.
Begitu mengakhiri, nafas menderu hebat. Ega merasakan deru napas Tama menerpa permukaan wajahnya. Perlahan Ega menatap wajah sang suami yang menampilkan raut wajah bersalah. Padahal, itu adalah haknya sebagai suami. Ia bebas melakukan apapun kepada Ega. Namun lihatlah, pria itu begitu menghargai dan menghormati setiap keputusannya.
Tama merangkul istrinya ke dalam pelukannya. Hangat. Itulah yang ia rasakan saat ini, semua kasih sayang yang tulus tersalurkan kedalam aliran darah perempuan itu.
"Aku sungguh memcintaimu. Jangan tanya kapan aku mencintaimu," ia kembali memeluk Ega dengan erat.
"Semoga kita selalu bersama apapun yang akan terjadi suatu saat nanti" Ungkapnya sungguh-sunggu.
Ega mendongak memandang lekat wajahnya,
"Aamiin."
"Stay with me Ega" Sebuah kecupan mendarat di dahinya yang terbalut hijab, dilanjutkan kecupan sekilas di bibirnya.
Blushing!
Wajahnya kini tertupi oleh kedua telapak tangannya. Kini seolah di dalam perutnya dipenuhi kupu-kupu yang sedang menari. "Hem-," mendongak ke arah Tama. "Turun yuk! Takut-salah-paham?" Ujarnya.
Terkekeh pelan sambil mencolek dagu Ega. "Salah paham apa sayang?"
"Haa! Katanya mau pindah rumah?"
"Oh iya? Kita kan belum Honey Moon" Sambil merangkul Ega ke arah pintu.
"Ha!"
"Waduh! Kalau gini aku minta tunda aja deh!" Membatin. Sudah terlambat Ega sayang.
"Hem-, kita-" Dipotong cepat oleh suaminya.
"Haa! Bagaimana dia tahu isi hatiku, mungkin hanya asal nebak aja!" Jangan-jangan Tama memiliki ilmu kebatinan kenapa dia bisa menebak isi kepalaku? Atau dia..! Ahh sudahlah Ega. Bagaimana pun Tama, dia tetap suamiku.
Sepasang pasutri terlihat begitu mesra menuruni tangga. Rangkulan tangan Tama mengerat dipinggang Ega. Sepasang mata paruh baya itu menatap haru anaknya yang kini sudah menjadi istri orang.
"Bu Rosi." Ralat, "upss. Kak Rosi maksudnya" Terkekeh pelan.
Disambut hangat dengan pelukan. "Aku ke sini untuk mengantar kalian di rumah baru. Hem. Btw hasil desain suami mu sendiri loh!"
Ia menatap kagum suaminya."Benar." Sambil menoleh ke arah Tama.
Tama yang tampak sibuk memainkan ponsel kini lebih memilih aktivitas. Ia mengangguk begitu saja tanpa mendengar pembicaraan dua perempuan kesayangannya.
"Ma, Pa?" Ega duduk diantara kedua orang tuanya ia antusia ingin menyampaikan sesuatu kepada paruh baya itu.
"Dosen killer aku ternyata?" Ia mentap kakak ipar sebelum melanjutkan ucapan.
"Siapa?" Serentak sepasang kedua orangnya.
"Kak Rosi" Sambil menunjukkan ke arah wanita itu.
Suara tertawa memenuhi ruangan itu. Ega mengeryitkan dahi. Mereka kenapa? Apa yang lucu. Ega cemberut merasa terpojok dari keluarganya sindiri. Tama yang melihat raut wajah istrinya ikut terkekeh pelan. Ega menekuk wajahnya sambil memakan semua cemilan di atas meja.
"Sudah kenyang sayang!" Sindir Tama. Ia merasa puas saat menerima sorotan tajam dari sang istri.
"Iya" Mengkulkas.
"Assalamualaikum Pa, Ma. Kami pergi dulu." Pamitnya kepada kedua mertuanya.
Ia kembali menyindir istrinya yang tidak ada tanda-tanda bangkit dari posisi zona nyaman.
"Sayang...lanjutnya dirumah aja ya?"
"Haa. Apa?" Otak sedikit ngebleng. Pikirannya kini
sudah melayang.
"Ega..." Tegur Papanya.
Ia perlahan bangkit dari tempat duduknya. "Iya Pa."
"Pa, Ma Ega pamit." Peluk perpisahan. Mata mereka kini sudah berkaca-kaca, anak sematang wayang satu-satunya kini sudah menjadi istri orang.
Pelukan terakhir kali begitu erat. "Ega...yang patuh sama suami. Layanin dengan baik"
"Tapi, Ega tidak bisa masak Ma. Nanti yang masakin
kami siapa?" Sambungnya.
"Itu tugasmu belajar. Keyangkan perut suami. Bahagiakan dia!" Pesan mamanya.
Mengangguk pelan, Ega menatap suami di ujung pintu yang asyik berbincang dengan ayah mertuanya. "Baiklah Ma..."
"Ma...bisa nggak ya aku bahagian Kak Tama?"
"Iya, karena Mama tahu anak Mama pintar berbagai hal," Ia menyemangati anaknya, mennggegam erat tangan Ega. " Bissmillah aja ya?"
"Iya Ma, Ega pamit. Mama sama Papa jaga kesehatan ya?"
Mobil dengan bermerek terkenal melaju melintas perkarangan rumah, perlahan menjauhi kediaman rumah yang penuh kenangan bagi seorang gadis yang meninggalkan rumah kedua orang tuanya, demi menunaikan kewajiban baru sebagai istri muda.
Semangat Ega bakal ekstra keep smile and strong! Kuliah plus jadi ibu rumah tangga. Uhh..! Bagaimana rasanya jauh dari orang tua. Dimana-mana setiap hari sudah dipersiapkan semua tanpa harus berfikir banyak hal. Kini ia harus mempersiapkan untuk keperluan sang suami yang kini kedudukan sama kuliah dan satu kelas. Ahhh...rasanya senang deh! Punya moodbooster yang sah, halal poll!
Meski memiki suami yang masih kuliah yang terpaut tua dua tahun dari Ega. Meski masih di bangku kuliah Tama sudah sukses di usia muda, banyak usaha Papanya dikelolahnya, beberapa juga usahanya dikelolah dari nol semenjak di bangku SMA.
Ia menatap Tama dengan senyum terkagum. Tanpa memperdulikan dehamn dari kakak ipar di belakang.
"Yaa Allah Jodoh ku dimana?" Sindir Rosi di kursi belakang.
Tama dengan Ega hanya saling melemparkan tatapan sambil terkekeh melihat aksi kakaknya itu. Seorang Dosen killer bisa baper juga? Hahahaha...