
"Yaa...Allah berkahilah keluarga hamba. Bimbing dan tegurlah kami ketika meleset dari jalanmu. Senantiasa berada dihati kami agar tidak lalai akan perintahmu. Jadikanlah kami keluarga Sakinah Mawaddah dan Warahma. Lindungin kami dari perbuatan yang hina dan tidak terpuji."
Sebuah bangunan modern terkesan mewah. Taman-taman yang lengkap dipenuhi oleh berbagai tanaman bunga bahkan tanaman hias lainnya. Di ujung sudut sana ada sebuah kolam ikan dengan pancurannya. Sepasang kursi dan meja tertata rapi di pinggirnya. Perempuan itu menari riang di hamparan taman yang luas. Burung-burung berkicau riang. Kupu-kupu warna-warni berterbangan di atas bunga yang kini lagi bermekaran. Ia sangat merasa bahagia. Ini seperti rumah impian masa kecilnya. Hem. Dia sosok yang selalu mampu memenuhi permintaannya sebelum meminta.
Lambaian tangan dari Tama. Membuat Ega menghentikan aktivitasnya.
"Kak Rosi nginap sini kan?" Pinta Ega. Sambil memegang erat tangan kakak iparnya itu.
"Hem bo-" Imbuhnya cepat respon oleh Tama agar kakaknya itu paham dari kodenya. "Ehh. Kakak bukannya besok ngajar lebih pagi kan?" Kedipan mata sekilas dari adiknya itu, ia dapat langsung memahaminya.
"Oh iya! Maaf kakak tidak bisa lain kali aja ya?" Memasuki mobil. Melambaikan tangan. "Kalian kalau ada perlu apa-apa hubungi kakak ya!" Pesannya sebelum meninggalkan rumah sepasang pasutri itu.
Gimana nih! Tinggal aku berdua sama sosok mulut lemes. Siapa lagi kalau bukan suaminya yang dimaksud.
Honey moon, honey moon, honey moon...
Kata-kata itu selalu saja memenuhi otak dan pikirannya. Tidak!! Aku harus cari cara agar tidak tidur sekamar dengannya.
Hayoo!!! Berpikir Ega.
"Kok bengong! Hayuk masuk" Tangannya mencari sesuatu di setiap sakunya.
"Assalamualaikum" Disambung cepat oleh istrinya.
"Waalaikumusalam suami" Mengernyitkan dahi melihat tingkah laku istrinya itu yang terkadang kayak anak-anak. Ega menelusuri setiap ruangan di dalam rumah itu. Wah! Cantik minimalis, keren. It's my dream my house.
Mulut tak henti menganga menatap kagum hasil dekorasi dan tata letaknya benar-benar sesuai rumah impian Ega. Rumah ini tidak begitu luas tapi terkesan mewah, tapi minimalis juga. Ahhh! bingung jika mengungkapkan dengan kata-kata. Bangunan yang terletak di atas bukit ini selalu berhasil memberi kesegeran tanpa polusi. Sekitar beberapa kilo meter dari balkon lantai atas terdapat pantai.
Uhhh...akhirnya aku bisa menantap senja dengan sepuas hati.
"Tam. Kamar cuman ada satu ya?" Tangannya sibuk memindahkan barang bawaanya. "Iya. Kenapa? sengaja belum aku buat!" Lanjutnya. "Kan cuman kita berdua jadi buat apa buat kamar lagi. Tunggu punya anak-anak. Baru ku buat khusus anak kita nanti dan taman kanak-kanak sekelian." Mengeratkan tangan di pinggang rampi Ega.
"Haa. Anak." Ega menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jangan-jangan malam ini? Tidak boleh.
"Ega. Kok bengong bantuin suami kenapa"
"Bantu lapin keringat atau bantu doa" Tama bangkit menghentikan pekerjaannya. "Aku mau kamu bantu untuk menemani aku malam ini."
"Haa." Ia memijit perlahan lehernya yang tidak sakit.
"Tama..."Teriak Ega suaminya begitu saja muncul mendekat ke arah wajahnya.
Hening...
Hembusan nafas mereka menyatuh. Tama melangkah perlahan kedepan sedangkan Ega berjalan mundur. Tanpa ia sadar ada sofa di belakang. Mereka terjatuh di sofa tubuhnya tertindih tubuh bidang suaminya. Tatapan mereka terkunci aliran darah membeku detakan jantung dapat dirasakan oleh mereka.
Ia berusaha melepaskan tubuhnya tapi apa dayanya tubuhnya lebih kecil dari sang suami. Belaian sang suami membuatnya memejamkan mata. Apupun yang terjadi biarlah terjadi. Ega sudah pasrah diri. Ia tidak mau menjadi istri yang durhaka karena menolak suaminya. Melihat wajahnya yang sedikit tertekan. Tama merasa kasihan, ia bangkit lalu melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Ega perlahan membuka matanya, tubuhnya kini terasa ringan tidak ada tubuh itu lagi yang menindihnya. Menghelas nafas perlahan. Ia pergi menuju dapur untuk memasak sesuatu yang bisa di makan.
"Yaa...aku kan tidak bisa masak? Masak iya! Aku minta suami yang masak. Malu dong!"
Ega mondar-mandir tanpa berhasil memasak apapun. Air matanya berlinang begitu saja. Ia malu pada dirinya sendiri. Bagaimana suaminya bisa kenyang kalau Ega tidak bisa apa-apa. Isak tangisnya kembali pecah.
"Aha! B*doh! Kan ada youtube." Mengetik sesuatu dikolom pencarian cara memasak nasi goreng enak dan simple. Cuman butuh beberapa detik. Berbagai vlog menampilkan resep dan cara memasak.
"Kamu ngapain?" Tama mendekatinya sambil membawa beberapa kantong plastik di tangannya.
"Mau masak tapi gak tau?" Menunduk lemas, ia malu kepada Tama. Istri macam apa aku ini. Mengisi perut suami saja tidak mampu.
Menghela nafas menyesal. "Maaf. Aku belum bisa jadi istri yang berguna buatmu?"
Husst!
"Sanksi apa?" Ucapnya polos matanya berlinang.
Mendekat wajah, deru nafas begitu terasa di wajah.
"Kiss atau honey moon?"
"Ck!"
Hening...
Sontak merespon sekadar berbicara. "Haa. Milih makan" Menelan saliva, tarik nafas pelan. Ega berusaha menetralkan jantungnya yang kini suda mau copot dari tempatnya. Dasar suami!!!
"Uda pintar ngeles ya?" Bibirnya mengerenyut sambil mencubit pelan hidunya istrinya.
"Harus. Siapa dulu yang ngajari?" Mengernyikan dahi. Sorotan tajam mengarah ke Ega.
"Suami akohlah. Siapa lagi? Wah makanan." Secepat kilat merebut benda itu dari tangan Tama.
Sebuah kecupan di atas kepala. "Makan yang banyak ya? Gendutin dikit biar cantik"
Ega memegangi perutnya yang sudah terlihat mulai membuncit. Muncul sebuah akal bulus untuk meledek istrinya. Ia memegangi perut Ega sesekali mengelusnya secara perlahan.
"Wah uda gede ya. Hai! Dedek bayi." Ucapanya tidak digubris oleh Ega kini sudah terlelap. Wah gagal deh!
"Maa sha Allah. Cantik sekali istriku." Tama membopong Ega menuju ke arah kamarnya.
Spotan ia mengejek istrinya. "Kecil-kecil tapi berat!"
Upsz! Tama kecoplosan. Untung Ega tidak sadarkan diri. Kini sudah berada di dalam mimpi.
......................
Suara azan berkumandang. Tama bersiap-siap melaksanakan sholat wajib tanpa sang istri.
Sambil mengucek-ngucek matanya. Ia perlahan bangkit "Tama. Tunggu aku biar kita sholat bareng"
Suaminya menoleh, lalu mengangguk pelan. Tama mempersiapkan sejadah dan mukena untuk istrinya.
"Sudah. Ini kamu yang siapin."
"Bukan. Tapi Suamimu"
"Haa!" Mulai ngeblengnya dasar Ega semenjak menikah otaknya suka tidak karuan.
Sepasang suami istri itu melaksanakan sholat berjamaah dengan kusyuk. Doa-doa dalam hati ia limpahkan semua kepada Tuhannya.
"Yaa Allah. Karna belum bisa menjadi istri yang terbaik buat Tama. Bahkan masak aja aku tidak mampu. Bagaimana melayaninya" Matanya kini mulai berkaca-kaca.
"Cukup melayani aku dengan penuh cinta." Sosok itu menoleh mendengar penuturan istrinya. Yang sudah berbisik sekecil mungkin. Telinga Tama begitu sensitif sehingga mampu mendengarnya.
"Hem. Besok uda mulai kuliah apa masih di kasih libur?" Mengigit pelan bibir bawahnya, ia melempar pandangannya di mana saja, asal bukan di suami. Tangan begitu meremas mukenanya.
"Seperti masih di beri satu minggu lagi deh!" Saling beradu pandang memastikan apakah suaminya berkata sungguh-sungguh.
Menimpali "Benarkah?" Sambil menciup takzim tangan Tama.
Cup!
Kecupan balasan didahi. Sambungnya "Iya. Jadi kita bisa usaha dulu sebelum kuliah heheh, jadi maukah malam ini?" Menyetuh dagu Ega. Ia membalas mendongak tatapannya begitu dalam ada ketakutan yang ia pendam, tapi Ega juga takut menjadi istri durhaka kepada suami.
Hening...
Tama mendekap erat pinggang Ega dari belakang. Saat hendak menghindari pertanyaan suaminya yang dilontarkan. Ia terhenti kini suaminya sudah berada dihadapannya, hembusan menerpa wajah, tangan Tama perlahan naik di wajah Ega, membelai lembut pipi istrinya yang kini sudah berubah warna merah merona.